JAKARTA, DISWAY.ID – Persatuan Barisan Rakyat Indonesia (PBRI) menyoroti pemberitaan mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai perlu disajikan secara lebih berimbang dan komprehensif.
Hal tersebut disampaikan PBRI saat menggelar aksi di salah satu kantor media di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Dalam aksinya, massa menyampaikan sejumlah tuntutan terkait pemberitaan karhutla serta mendorong media untuk mengedepankan data terverifikasi, konteks yang lengkap, dan keberagaman perspektif.
BACA JUGA:Fakta Kematian Orang Utan Sampurna Akibat Karhutla, Terkapar di Kebun Warga dan Sempat Pingsan
PBRI menyebut aksi tersebut sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam mengawasi kerja media.
PBRI meminta media itu mengevaluasi pemberitaan mengenai karhutla yang mereka nilai cenderung tendensius dan berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap penanganan bencana di Indonesia.
Massa juga mendesak agar pemberitaan mengenai karhutla memberikan ruang yang memadai bagi berbagai pihak yang terlibat langsung di lapangan, mulai dari pemerintah, petugas pemadam, relawan, masyarakat terdampak, akademisi, hingga pemangku kepentingan lainnya.
BACA JUGA:Sempat Ditemukan dalam Kondisi Lemah, Orangutan Sempurna Mati Akibat Asap Karhutla
informasi mengenai bencana seharusnya disusun berdasarkan data yang terverifikasi, konteks yang lengkap, serta menghadirkan sudut pandang secara proporsional.
Mereka menilai pemberitaan yang hanya menyoroti kegagalan atau dampak buruk karhutla tanpa menjelaskan berbagai upaya penanganan dapat menghasilkan gambaran yang tidak lengkap mengenai situasi di lapangan.
PBRI berpandangan bahwa masyarakat perlu mendapatkan informasi yang tidak hanya menggambarkan skala dan dampak kebakaran, tetapi juga menjelaskan penyebab, proses penanganan, serta langkah-langkah yang dilakukan untuk mencegah kejadian serupa.
BACA JUGA:Karhutla Kepung Kalimantan, DPR Dorong PJJ: Kesehatan Siswa dan Guru Jadi Prioritas
Persoalan mengenai bagaimana media membingkai isu karhutla juga menjadi perhatian dalam kajian akademik.
Pengamat dan peneliti komunikasi dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Ayu Wardani mengatakan media turut membentuk persepsi publik melalui pemilihan persoalan, narasumber, penyebab, maupun solusi yang ditonjolkan dalam sebuah pemberitaan.
Dalam kajian tersebut, pemberitaan mengenai karhutla disebut masih memiliki keterbatasan dalam menggali akar persoalan struktural, mitigasi, serta solusi berkelanjutan.