IHSG di Zona Undervalued

Jumat 11-09-2026,16:34 WIB
Oleh: Arjun Ajwani – Research Analyst INF

Namun secara neto review itu menghasilkan estimasi arus keluar sekitar US$753 juta bagi Indonesia, terutama karena GOTO dikeluarkan dari Standard Cap dan CPIN turun ke Small Cap, sehingga kapitalisasi free float Indonesia di MSCI menyusut dari US$80 miliar menjadi US$74 miliar.

Kenaikan bobot perbankan menjelaskan ke mana dana asing mengalir, tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa bobot Indonesia secara keseluruhan masih tertekan.

Laba Emiten Menopang, Belum Mendorong

Valuasi murah hanya bermakna jika laba tidak ikut runtuh, dan di titik ini datanya cukup menenangkan meski belum menggembirakan.

Emiten LQ45 membukukan pertumbuhan laba bersih 13,68% secara tahunan pada kuartal I 2026.

Pada semester I gambarannya terbelah, dengan Bank Mandiri mencatat laba Rp30,4 triliun atau tumbuh 24,4% sementara BCA hanya tumbuh 1,8% menjadi Rp29,5 triliun dan pendapatan bunga bersihnya turun 0,6%. Pertumbuhan laba perbankan lebih ditopang efisiensi biaya dan pendapatan komisi, bukan margin bunga.

Artinya laba emiten saat ini berfungsi sebagai penopang valuasi, belum sebagai pendorong kenaikan harga.

Untuk mengubah pemulihan menjadi tren yang berkelanjutan, pasar membutuhkan revisi estimasi laba ke arah positif secara lebih luas, dan hal itu belum terlihat merata.

BACA JUGA:IHSG dan LQ45 Merangkak di Pembukaan Kamis

Kesimpulan: Diskon Nyata, Katalis Baru Sebagian Terbukti

Kombinasi yang tersedia saat ini termasuk jarang. Valuasi berada di bawah minus satu standar deviasi rata-rata 15 tahun, tekanan jual asing mereda dan berbalik selama tiga bulan terakhir, dan postur RAPBN 2027 menargetkan defisit yang lebih rendah.

Namun ketiga katalis itu tidak sama kuatnya. Diskon valuasi adalah fakta yang terukur. Perbaikan aliran dana asing baru terkonfirmasi sebagian, mengingat komposisi Agustus dan skalanya yang masih kecil dibanding arus keluar sepanjang tahun.

Sinyal fiskal masih berupa target yang bersandar pada asumsi penerimaan agresif. Pasar saham Indonesia karena itu tetap menarik bagi investor berhorizon menengah hingga panjang, dengan catatan daya tariknya bersumber dari harga masuk yang murah dan bukan dari kepastian katalis.

Langkah yang masuk akal adalah akumulasi bertahap pada emiten berkualitas dengan neraca kuat, arus kas stabil, dan visibilitas laba yang jelas.

Seleksi tetap menjadi kunci karena pemulihan belum merata dan masih bergantung pada segelintir saham besar.

Tiga hal layak dipantau, yaitu keberlanjutan pembelian asing di pasar reguler, arah imbal hasil SBN 10 tahun, serta luasnya revisi laba pada laporan kuartal III 2026.

Jika ketiganya tidak bergerak searah, valuasi murah dapat bertahan murah lebih lama daripada yang diperkirakan.

by: Arjun Ajwani – Research Analyst INFOVESTA

Kategori :