IHSG di Zona Undervalued
Arjun Ajwani – Research Analyst INFOVESTA: IHSG diperdagangkan pada valuasi yang jarang terjadi dalam 15 tahun terakhir, diskon itu kini disertai perbaikan arah aliran dana asing dan target defisit RAPBN 2027 yang lebih rendah, namun kualitas katalisnya b-dok disway-
JAKARTA, DISWAY.ID - IHSG diperdagangkan pada valuasi yang jarang terjadi dalam 15 tahun terakhir.
Diskon itu kini disertai perbaikan arah aliran dana asing dan target defisit RAPBN 2027 yang lebih rendah. Namun kualitas katalisnya belum sekuat angka utamanya.
Pasar saham Indonesia menjalani paruh pertama 2026 yang sangat berat. IHSG turun 41,72% dari puncaknya di 9.134,70 pada 20 Januari 2026 ke titik terendah 5.324,14 pada 8 Juni 2026, koreksi terdalam kedua setelah krisis keuangan global 2008 yang memangkas indeks 60,7%.
Pemicunya menumpuk, mulai dari kekhawatiran atas investabilitas, pengurangan bobot Indonesia di indeks global, ketidakpastian kebijakan domestik, tekanan nilai tukar, hingga tarif dagang. Sebagian tekanan itu kini mereda.
Pertanyaannya bukan lagi apakah pasar sudah murah, melainkan apakah katalis yang muncul cukup kuat untuk menopang pemulihan.
BACA JUGA:IHSG Anjlok 1,49 Persen di Sesi I, Tekanan Datang dari Konflik AS–Iran
Valuasi Telah Memasuki Zona Diskon Historis
Per akhir Agustus 2026, Price to Earnings Ratio (PER) IHSG berada di 14,26 kali, jauh di bawah rata-rata 15 tahun sebesar 20,77 kali dan sudah menembus batas minus satu standar deviasi di 14,81 kali.
Pasar diperdagangkan sekitar 31,3% di bawah rata-rata historisnya, sebuah wilayah valuasi yang relatif jarang dikunjungi.
PER yang rendah memang dapat mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap laba, likuiditas, tata kelola, maupun investabilitas, sehingga murah saja tidak otomatis berarti salah harga.

Gambar 1. PER IHSG berada di bawah batas -1 standar deviasi rata-rata 15 tahun -Bloomberg, diolah Infovesta. Data per 31 Agustus 2026.-
Ada satu catatan metodologis yang perlu disampaikan. Selisih antara rata-rata 20,77 kali dan batas minus satu standar deviasi menyiratkan standar deviasi sekitar 5,96 kali, dispersi yang sangat lebar untuk ukuran rasio valuasi.
Penyebabnya terlihat jelas pada grafik, yaitu lonjakan PER ke kisaran 40 kali pada 2020 sampai 2021 ketika laba emiten anjlok akibat pandemi.
Rata-rata aritmetik yang memuat periode itu menaikkan patokan normal dan memperbesar diskon yang terbaca hari ini.
Memakai median akan menghasilkan diskon yang lebih kecil, meski tetap berada di wilayah murah. Yang ditawarkan valuasi saat ini karena itu adalah margin of safety dan asimetri imbal hasil terhadap risiko, bukan sinyal waktu masuk.
BACA JUGA:IHSG Dibuka Melemah 1,51 Persen ke 6.489,55 di Perdagangan Jumat
RAPBN 2027 dan Aritmetika di Balik Penurunan Defisit
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: