Oleh: Ayuwidia Vimala Giri, Kelas XII SMA Santa Ursula Jakarta
SMA Santa Ursula Jakarta mulai menerapkan mata pelajaran Combined Science di tahun ajaran 2024/2025.
Sayangnya, nilai dari asesmen mata pelajaran tersebut dapat dikatakan cenderung kurang memuaskan.
Nilai murni yang belum terakumulasi berkisar antara 40 hingga 75, dengan hanya segelintir orang yang memperoleh nilai di atas 85.
BACA JUGA:Darah Muda, Darah Viral
Akibatnya, diterapkanlah penyesuaian batas nilai (grade boundaries) untuk menyesuaikan nilai ke batas atas mengikuti standar penilaian Indonesia, mengingat penilaian awal dilakukan menggunakan kurikulum A-levels.
Hal ini terjadi karena didapatinya rintangan “language barrier” saat mengikuti pembelajaran di kelas, yakni situasi ketika murid mengalami hambatan bahasa disertai dengan keterbatasan kosakata.
Kurangnya pemahaman bahasa lantas membatasi kemampuan seseorang untuk mengekspresikan diri secara tepat dan memahami orang lain dengan akurat.
Ketika seseorang merasa terjebak dalam situasi ini, seringkali terjadi kesalahpahaman, kefrustrasian emosional, serta keterbatasan sosial dan profesional.
Kosakata bukanlah sekadar alat untuk berbicara, namun juga berfungsi sebagai sarana berpikir yang memungkinkan manusia merumuskan buah pikiran melalui kata-kata.
BACA JUGA:Putusan MK soal Gibran: Sudah Dimasak, Sudah Dihidangkan, tetapi Tak Dimakan
Ketika seseorang memiliki kosakata yang terbatas, cakupan pemikiran abstrak, logika, serta kemampuan analisis dan ekspresinya mau tidak mau akan menyempit.
Meskipun telah menggunakan bahasa Indonesia sejak kecil, banyak murid masih merasa kesulitan dalam memahami mata pelajaran IPA menggunakan bahasa pengantar Indonesia saat memasuki jenjang SMA.
Materi tersebut lantas menjadi jauh lebih sulit dipahami ketika diajarkan dalam bahasa Inggris untuk pelajaran Combined Science.
Situasi pun menjadi berbeda bagi mereka yang terbiasa menggunakan bahasa Inggris sedari kecil.