Krisis Kosakata Membatasi Kecerdasan Bangsa

Selasa 13-10-2026,07:46 WIB
Oleh: Tri Broto

Sebaliknya, anak yang miskin kosakata akan tertinggal dan sulit bersaing.

Sekolah bertanggung jawab dalam memperkecil dampak dari adanya krisis kosakata.

Sebelum murid mencemplung ke dalam pendidikan dengan kurikulum yang tergolong asing, sekolah harus memberikan kejelasan mengenai apa sekaligus seberapa sulit materi yang kelak diantarkan sehingga murid memiliki ruang untuk mempertimbangkan karena pada akhirnya, keinginan akan cakap dalam berbahasa asing ditentukan oleh murid itu sendiri.

BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)

Namun melihat era globalisasi ini, tidak hanya sekolah, tetapi murid yang masih minim akan kemahiran berbahasa juga harus ikut bekerja sama untuk belajar lebih giat.

Untuk mengatasi krisis kosakata, salah satu pendekatannya adalah dengan memperkenalkan pembelajaran bahasa di rumah sejak usia dini, seperti melalui kegiatan membaca buku dan menonton film.

Sekolah juga dapat berperan dalam upaya ini dengan memberikan dorongan.

Dengan memperkuat dasar-dasar kosakata dan literasi, generasi muda akan memiliki landasan berpikir yang kokoh, yang memungkinkan mereka untuk mewujudkan potensi intelektual mereka secara optimal.

Kosa kata yang terbatas merupakan ancaman nyata bagi masa depan bangsa.

BACA JUGA:Ketika Imam Menjadi Diplomat Perdamaian

Di tengah arus globalisasi yang kian intens, generasi muda harus bersaing tidak hanya dengan rekan sebaya mereka, tetapi juga dengan individu dari negara lain.

Dengan penguasaan kosa kata yang kaya, generasi muda dapat bersaing dengan lebih mudah, karena batasan bahasa mereka adalah batasan dunia mereka.

Tags :
Kategori :

Terkait