JAKARTA, DISWAY.ID-- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak pada operasional 16 bandar udara di wilayah Papua. Kabut asap akibat karhutla berpotensi mengurangi jarak pandang dan mengganggu jadwal penerbangan.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, mengatakan pihaknya melakukan pemantauan dilakukan melalui koordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan tetap terjaga.
BACA JUGA:Waspada! BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla Sampai Jakarta, Warga Diminta Pakai Masker
Berdasarkan laporan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X pada Kamis (15/10), 16 bandara yang operasionalnya terdampak kabut asap tersebar di empat provinsi.
Di Provinsi Papua, bandara yang terdampak adalah Bandara Sentani. Di Papua Tengah, dampak dirasakan di Bandara Mozes Kilangin (Timika), Ilaga, dan Ilu.
Sementara itu, di Papua Pegunungan terdapat Bandara Wamena, Oksibil, dan Dekai. Adapun di Papua Selatan, bandara yang terdampak meliputi Mopah (Merauke), Tanah Merah, Kepi, Ewer, Bade, Senggo, Manggelum, Yaniruma, dan Mindiptanah.
BACA JUGA:BI Komitmen Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Tekanan Pasar
"Kondisi asap dapat menurunkan jarak pandang di sekitar bandara sehingga berpotensi menyebabkan keterlambatan, penundaan, hingga pembatalan penerbangan. Setiap keputusan operasional penerbangan tetap mengutamakan aspek keselamatan," kata Lukman dalam keterangannya, Jumat, 16 Oktober 2026.
Secara nasional, berdasarkan data per 13 Oktober 2026, tercatat sebanyak 2.021 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak karhutla sejak 11 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 919 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), sedangkan 1.067 penerbangan dibatalkan atau ditunda (cancelled/postponed).
BACA JUGA:John Herdman Belum Puas! Timnas Indonesia Butuh Winger dan Striker Tajam demi Piala Asia 2027
Selain itu, 18 penerbangan dialihkan ke bandara lain (divert), enam penerbangan kembali ke bandara keberangkatan (return to base/RTB), dan 11 penerbangan dimajukan jadwalnya (advance).
Dampak karhutla juga dirasakan oleh penerbangan berjadwal internasional. Sebanyak 12 penerbangan rute Singapura–Pontianak pulang pergi dibatalkan selama periode 12–23 September 2026 akibat kondisi asap di Bandara Supadio, Pontianak.
Selain karhutla, dalam periode yang sama tercatat 18 penerbangan dalam negeri dibatalkan akibat faktor lain, yakni sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono, cuaca buruk, angin kencang, serta kebutuhan perawatan pesawat.
Pemerintah juga terus melakukan upaya penanganan karhutla melalui operasi water bombing. Selama periode 20 April hingga 12 Oktober 2026, operasi tersebut telah dilakukan sebanyak 5.035 kali penerbangan (flight cycle), dengan melibatkan 38 pesawat yang dioperasikan oleh 11 operator di berbagai wilayah rawan karhutla.