Mengenal Sejarah Tan Peng Nio, Wanita Tionghoa yang Dijuluki 'Mulan van Java' dari Kebumen

Senin 26-10-2026,13:29 WIB
Reporter : Risto Risanto
Editor : Risto Risanto

Perjalanan itu kemudian membawa mereka ke wilayah Panjer, yang kini termasuk kawasan Kebumen.

BACA JUGA:Dubes Filipina 'Agus Widjojo' Wafat, Sang Putra Pahlawan Revolusi Berpulang di Usia 78 Tahun

Geger Pacinan 1740 dan Dampaknya bagi Masyarakat Tionghoa

Geger Pacinan terjadi ketika ketegangan antara pemerintah kolonial VOC dan masyarakat Tionghoa di Batavia semakin meningkat.

Kondisi ekonomi, kebijakan kolonial, serta konflik sosial menjadi bagian dari latar belakang peristiwa tersebut.

Pada masa itu, sebagian masyarakat Tionghoa bekerja di sektor perdagangan dan industri gula.

Banyak pula yang menjalani pekerjaan berat sebagai buruh di perkebunan tebu. Ketika industri gula mengalami tekanan, situasi sosial dan ekonomi semakin rumit.

Pada Oktober 1740, pemberontakan dan bentrokan bersenjata terjadi di sekitar Batavia.

Pemerintah kolonial kemudian melakukan tindakan represif yang berujung pada pembantaian masyarakat Tionghoa dalam skala besar.

Dalam catatan yang dikutip dari The History of Java karya Thomas Stamford Raffles, terdapat angka korban yang perlu dibaca sesuai konteks sumber dan perbedaan pencatatan sejarah.

Jumlah korban keseluruhan peristiwa ini masih menjadi perhatian para sejarawan karena sumber-sumber yang tersedia tidak selalu memberikan angka yang sama.

Dampak Geger Pacinan tidak hanya dirasakan di Batavia. Gelombang pengungsi turut memengaruhi sejumlah wilayah lain di Jawa, termasuk daerah yang kemudian menjadi bagian dari kisah Tan Peng Nio dalam tradisi lisan masyarakat Kebumen.

BACA JUGA:Film Pasukan 1000 Janda Tayang Perdana 12 November 2026, Hadirkan Kisah Perjuangan Perempuan Aceh

Pertemuan dengan Sulaiman Kertawangsa, Kolopaking III

Menurut cerita yang diwariskan masyarakat setempat, Tan Peng Nio akhirnya tiba di wilayah Panjer dan bertemu dengan keluarga bangsawan Kolopaking. Pada masa itu, keluarga tersebut memiliki peran penting dalam pemerintahan lokal di Kebumen.

Salah satu tokoh yang dikaitkan dengan kisah Tan Peng Nio adalah Sulaiman Kertawangsa, yang dikenal sebagai Kolopaking III. Dalam legenda, ia disebut memimpin pasukan dari Kebumen yang ikut terlibat dalam pergolakan melawan kekuatan kolonial.

Tan Peng Nio diceritakan bergabung dengan pasukan tersebut dengan menyamar sebagai prajurit laki-laki. Berbekal ilmu bela diri yang dipelajarinya, ia dikisahkan ikut mengangkat senjata dalam pertempuran.

Cerita kemudian menyebut identitas Tan Peng Nio terbongkar ketika ia melepas penutup kepalanya setelah pertempuran. Rambut panjang yang terlihat membuat orang-orang mengetahui bahwa prajurit tersebut sebenarnya seorang perempuan.

Kategori :