Alat ini bekerja dengan cara yang hampir sama dengan BTS Palsu (IMSI Catcher).
Mulai dari memancarkan sinyal seluler tiruan dengan daya yang lebih kuat daripada BTS asli di sekitar lokasi.
Lalu, menarik sinyal terkuat dan beralih terkoneksi ke BTS palsu tadi (tanpa sepengetahuan pemilik HP).
Yang menarik, cara kerja metode ini juga mengambil alih sinyal, menyedot data/percakapan dari seluruh HP dalam radius tertentu, bahkan bisa memanipulasi panggilan atau pesan singkat (SMS), mendengarkan/menangkap semua lalu lintas komunikasi yang lewat di udara tanpa memancarkan sinyal balik serta melacak arah dan menemukan posisi fisik persis target di lapangan.
Untuk harga perangkat ini tidak dijual bebas di pasaran umum dan umumnya bernilai sangat mahal, yakni berkisar ratusan ribu hingga jutaan dolar Amerika (milyaran hingga puluhan miliar rupiah per satu set unit atau kendaraan taktis khusus pengangkutnya).
5. NETWORK SNIFFER TINGKAT TINGGI
Network Sniffer tingkat tinggi merupakan perangkat lunak atau perangkat keras khusus yang dirancang untuk menangkap, memantau, dan menganalisis lalu lintas data jaringan dalam skala besar secara real-time.
Adapun cara kerja alat ini jauh lebih canggih daripada sniffer standar karena melibatkan pemrosesan data bervolume besar tanpa menurunkan performa jaringan itu sendiri:
Di samping itu, harga network sniffer tingkat tinggi sangat bervariasi karena umumnya dijual menggunakan model langganan tahunan perusahaan (enterprise subscription), lisensi per kapasitas bandwidth (misal per 10 Gbps/100 Gbps), atau paket gabungan dengan perangkat keras fisik (hardware appliance).
6. Laser Microphone
Laser microphone merupakan sebuah perangkat pengintai (surveillance device) jarak jauh yang menggunakan sinar laser untuk mendeteksi getaran suara pada suatu permukaan, seperti kaca jendela atau benda tipis lainnya.
Perangkat ini memanfaatkan sinar laser untuk membaca getaran sangat kecil pada permukaan benda, seperti kaca jendela, yang ditimbulkan oleh gelombang suara dari dalam ruangan.
Getaran tersebut kemudian dianalisis untuk merekonstruksi suara percakapan.
Dengan teknologi tersebut, pengawasan suara dapat dilakukan tanpa harus memasang mikrofon langsung di dalam ruangan target.
Akan tetapi, hasilnya dipengaruhi jarak, kondisi permukaan, kebisingan, dan kualitas peralatan yang digunakan.
Diketahui, perangkat ini pertama kali dikembangkan di Uni Soviet (Rusia) dan harga komersial untuk perangkat kelas intelijen militer berkisar antara $10,000 hingga lebih dari $100,000 USD (sekitar ratusan juta hingga miliaran rupiah).
Sedangkan, jika perangkat kit hobi atau buatan sendiri hanya bermodal sekitar $30 USD (kisaran Rp470.000).
7. AI Facial Recognition
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut mengubah cara kerja sistem pengawasan modern. Teknologi pengenalan wajah dapat menganalisis wajah seseorang dari rekaman kamera, kemudian mencocokkannya dengan data pembanding yang tersedia.