Polda Bobol

Jumat 03-02-2023,04:00 WIB
Oleh: Dahlan Iskan

''Allahu Akbar...'' imam pun memulai salat duhur dengan gerakan takbiratul ikram, Senin lalu. Sekitar 300 jamaah berbaris di belakang sang imam. Mereka lagi khusuk-khusuknya berkonsentrasi ingin menghadap Allah.

BLAAAARRRR....!!!

Bom besar meledak. Persis di barisan pertama di belakang imam. Ruang dalam masjid itu hancur. Lebih 100 orang meninggal, hanya tiga yang bukan polisi. Lebih banyak lagi yang luka-luka: 220 orang.

Masjid itu memang masjid polisi. Di dalam markas polisi. Semacam di Mapolda. Detasemen antiteror pun bermarkas di situ. Dilengkapi pula asrama polisi. Sekitar 600 polisi tinggal di asrama itu.

Begitu banyak polisi yang salat duhur berjamaah. Tepat waktu pula: 13.30 waktu Pakistan. Hanya sedikit yang agak telat. Mereka masih ambil air wudu: berkumur, cuci muka, cuci tangan, cuci lubang hidung dan telinga, membasahi rambut dan cuci kaki. 

Mereka yang sedang wudu itu terlempar sampai ke halaman. Bom itu begitu dahsyatnya: 12 kg.

Semua itu terjadi di Peshawar, kota paling dekat dengan perbatasan Afghanistan. Peshawar kota transit menuju bagian selatan Afghanistan.

Bom meledak di Peshawar bukan barang baru. Tapi bahwa bom itu meledak di markas polisi, di masjid pula, sulit di mengerti: bagaimana pengebom membawa amunisinya masuk ke markas polisi.

Memang peristiwa mirip itu pernah  terjadi di markas polisi di Indonesia. Di masjid juga: masjid Polres Cirebon. Korbannya juga polisi: 25 orang terluka, termasuk kapolresta Cirebon. Tidak ada yang meninggal di peristiwa tahun 2019 itu.

Tidak sulit menebak siapa pelaku bom di masjid Mapolda Peshawar itu: Tariq Taliban Pakistan (TTP). Tahun lalu pimpinan baru TTP sudah mengeluarkan fatwa: "musuh kita adalah polisi dan pemerintah Pakistan". Sang Amir, Noor Wali Meshud, melarang tentaranya menyerang sasaran sipil. Tujuannya: untuk memperbaiki citra TTP yang bengis.

Dari nama belakangnya, Meshud, Noor Wali adalah etnis Pashtun suku Meshud. Yakni suku minoritas yang dominan di wilayah tenggara Afghanistan. Mereka ini menghendaki provinsi Waziristan dan tetangganya merdeka. Noor Wali berumur 45 tahun. Ia menggantikan Amir sebelumnya yang tewas ditembak polisi. Bom masjid Polda ini semacam tindakan balas dendam.

Di zaman pemerintahan Imran Khan yang juga suku Pashtun, hubungan pemerintah Pakistan dan TTP membaik. Ledakan senjata mereda. Mereka sepakat genjatan senjata. 

Pemerintah Pakistan berganti. Gencatan senjata berakhir. Tidak ada perpanjangan masa gencatan senjata. Ketegangan baru pun memanas di sepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Pemerintah Pakistan tentu minta tolong pemerintah Taliban di Kabul: agar melunakkan sikap mereka. Tapi pemerintahan Taliban menolak. Sama-sama bernama Taliban keduanya justru bermusuhan.

Tazzz Amerika.

TTP sendiri awalnya mengaku bertanggung jawab atas bom di masjid Polda itu. Beberapa menit kemudian pernyataan itu dicabut. Pelakunya adalah salah satu faksi dalam TTP: Huzaifa, 25 tahun. Kepalanya ditemukan dengan tubuh berserakan di dalam masjid.

Memang mengherankan bagaimana Huzaifa bisa masuk markas Polda itu. Padahal penjagaan ketat. Pintu masuk hanya satu. Pemeriksaan sangat teliti.  

Itu bukan Polda biasa. Itu Polda terpenting. Termasuk pusat security Koridor Ekonomi Pakistan-Tiongkok pun berpusat di Polda ini. Koridor itu memang melewati wilayah provinsi Khybar ini, menuju pelabuhan Gwardar di pantai Samudra Hindia.

Pakistan adalah control negara yang punya begitu banyak persoalan. Tidak punya sumber energi. Makannya roti tapi tidak punya terigu. Ia punya kapas tapi harganya kian merosot: terlalu banyak pengganti kapas yang lebih murah.

Pakistan yang Islam kian jauh saja tertinggal dari India yang Hindu. Dua-duanya sangat fanatik beragama. Tunggal siapa yang lebih punya masa depan. Toh tidak mungkin keduanya bersatu kembali. (Dahlan Iskan)  

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Edisi 2 Februari 2023: Kaya Aset

Suardi Mengikat Hikmah

Pernah dengar cerita lucu. Ketika ada Banser ganteng dan gagah ikut mengatur tertib parkir, ibu-ibu Muslimat NU nyelutuk, "Wuih, Cak Bangser gagah yo, koyok tentara...." Giliran menjumpai tentara yang agak tambun sedang mengatur lalu lintas, ganti mereka nyelutuk, "Walah, tentara kok kayak Bangser..." Nah.., giliran ketemu "stering komite" berseragam Banser nanti?kok saya malah penasaran, kira-kira celetuk ibu-ibu Muslimat nanti apa ya?

 

Mbah Mars

Banyak orang salah paham terhadap Muhammadiyah terkait ziarah kubur, seperti salah paham mereka dalam masalah sholawat. Muhammadiyah tidak anti ziarah kubur. Dalam Himpunan Putusan Tarjih, kitab jenazah, bab ziarah kubur sudah dijelaskan secara gamblang. Tarjih mendasarkan keutamaan ziarah kubur berdasarkan hadits riwayat Muslim: Rasulullah SAW bersabda, "Dahulu aku melarang ziarah kubur, maka telah diijinkan bagi Muhammad berziarah kubur bundanya. Maka berziarahlah kubur, sebab hal itu mengingatkan akhirat". Bagi Muhammadiyah ziarah kubur adalah amalan yang baik sepanjang dilakukan sesuai tuntunan: 1. Luruskan niat. Jangan dilakukan untuk tujuan yang dilarang syariat. 2. Mengucapkan salam kepada seluruh ahli kubur di area pekuburan. 3. Melepas alas kaki ketika masuk pekuburan. 4. Mendoakan ahli kubur. 5. Dilarang meminta-minta kepada ahli kubur dan menjadikannya wasilah kepada Allah.

 

bagus aryo sutikno

Dan cukuplah di Disway 1 Aryo, Aryo mBediun. Aryo nGanjuk, Aryo Wiyung, Aryo Tuban dan Aryo Jipang ndak usah muncul atau dimunculkan.

 

Mbah Mars

Dulu Empat Mata. Itu lho acaranya Thukul Arwana. Belakangan berubah menjadi Bukan Empat Mata. Sekarang Catatan Harian Dahlan Iskan. Kapan-kapan besok jadi Bukan Catatan Dahlan Iskan

 

Liáng - βιολί ζήτα

*dalam rangka ulang tahun CHDI. Dilematik CHDI di mata seorang pembaca. Pertanyaan yang pernah terlintas di benak saya adalah: mengapa tidak menggunakan nama kolom yang berbeda dengan nama penulisnya?? Bukankah keterikatan dengan nama seseorang itu pada umumnya bersifat temporary, hanya akan exist selama sang penulisnya masih mampu menulis?? Penulis sebagaimana umumnya, suatu saat nanti akan silih-berganti, tetapi nama kolom memungkinkan untuk bertahan lebih lama. Apa yang akan terjadi kelak; katakanlah 5, 10, 15 atau 20 tahun yang akan datang ketika Pak Dahlan Iskan sudah tidak lagi menulis CHDI?? Bukankah selama ini sudah terbentuk image yang kuat di pikiran para pembacanya, bahwa CHDI itu identik dengan Pak Dahlan Iskan, sudah menjadi satu-kesatuan yang tak terpisahkan dan memang menjadi daya-tarik tersendiri bagi para pembacanya?? Bagaimana nasib CHDI selanjutnya ketika satu dan lain hal Pak Dahlan Iskan tidak lagi menulis?? Tentu saja, sesuatu mesti terjadi, yaitu perubahan nama kolom!! Perubahan nama kolom tampaknya akan menjadi cerita baru, karena semuanya mesti dimulai dari awal lagi. Sungguh amat disayangkan, apa yang sudah dicapai CHDI akan tergerus oleh waktu dan kelak hanya akan menjadi kenangan semata. [1].

 

Budi Utomo

Shinchan pesan pizza. Youtube kocak satu menit. https://m.youtube.com/watch?v=PEHoG6GeK_k. Transkripnya sbb: Terima kasih sudah menghubungi bagian delivery pizza, mau pesan sesuatu? Shinchan (S): Tidak, saya hanya mau pesan pizza saja. Tukang Pizza (TP): itu namanya mau pesan. Tolong nama, alamat dan nomor telepon. S: Namaku Nohara Shinosuke tapi alamat dan nomor teleponnya tidak tahu. TP: Kalau begitu pizza nya tidak bisa diantar. S: Kalau alamat Masao aku tahu. TP: Kalau begitu pizzanya akan diantar ke rumah Masao. S: Hmmm susah juga kalau begitu ya. TP: Mestinya saya yang bilang begitu. S:Tolong telepon lagi nanti ya. TP: Yang telepon khan Anda. S: Ya sudah. TP: Baiklah. S: Hhhh tukang pizza zaman sekarang memang kurang pendidikan.

 

Budi Utomo

Jadi ingat lelucon almarhum Dalang ternama Ki Enthus mantan Bupati Tegal. Yang membedakan NO (Nahdlatoel Oelama) dengan Muhammadiyah. Yang satu hobi merokok. Yang lain anti merokok. Seorang santri NU sedang merokok di SPBU diperingatkan petugas SPBU untuk mematikan rokoknya lalu dilawan sang santri. Lha itu khan tulisannya NO Smoking. Nahdlatoel Oelama Smoking. Wakakaka

 

Mbah Mars

Resepsionis: "Nama Bapak ?" Baroto: "Baroto. Tidak pakai bh ya mbak" Resepsionis: "Aduh Bapak kok tahu sih ? Habis gerah banget. Udara panas" Baroto: "Ealaahhhh. Baroto Mbak. Bukan Bharoto"

Sri Wasono Widodo

Lebih bijak jika ponpes-ponpes NU tetap mandiri, baik dari aspek kepemilikan asetnya, diferensiasi "manhaj" nya, maupun kekhususan "prodi"nya. Biar saling ber "fastabiqul khoirot". Yang penting tidak lagi di "polarisasi" seperti era Orba, ada dua kubu yang saling bertolak belakang karena berbeda kepentingan. Demikian juga perbedaan furu'iyah NU dengan ormas lain, yang penting tetap saling menghormati. Jika perlu diadakan "bahtsul masail" antar ormas Islam untuk mencari benang merahnya.

 

Parikesit

*Kebangkitan Bersama* Sebagai seseorang yang pernah masuk NU secara Struktural dan terlahir sebagai NU Kultural, saya merasa terharu atas artikel Abah hari ini. Thanks, Abah. Sebuah coretan dan harapan, ketika masih aktif di Lembaga Dakwah PCNU Lasem, (Anda pasti belum tahu, PCNU Lasem adalah PCNU ke-11, dan satu-satunya kecamatan yang memiliki pengurus cabang, inilah istimewanya Lasem), saya membuat coretan2 untuk NU ke depan. Coretan itu saya tulis, ketika saya dan empat orang kawan lainnya, sedang ditugaskan selama beberapa minggu di daerah pedalaman, terletak di lereng gunung AP, ditemani lampu teplok/uplik, diselingi sahutan dan lolongan anjing setiap malam (karena warga desa masih banyak yg memeliharanya), coretan panjang berisi harapan, untuk NU tercinta ke depan, dan di usia satu Abad, beberapa sudah terwujud. Inilah cuplikan daripada coretan panjang itu : - NU memiliki media penyiaran, dan sekarang memiliki Aswaja TV, TV9. - NU mempunyai rumah sakit sendiri di setiap kabupaten, boleh bergandeng tangan, ngangsu kawruh kepada Muhammadiyah dalam tata kelola dan konsistensinya. - Contoh yang keren Pendidikan di Malang, ada UNISMA yang juga ada UMM. Satunya adalah representasi NU dan satunya lagi representasi Muhammadiyyah, semakin banyak "UNISMA-Unisma" lain di setiap kabupaten, semakin keren. - Dan masih banyak lagi, sementara itu dulu, namanya juga cuplikan. Hehehe.. Oh iya, Pagar Nusa mugi tansah guyub, bersama PSHT dan juga anggota IPSI lainnya.

 

Lukman bin Saleh

Saya kadang sedih mendengar khotib atau ustaz yg menguraikan bagaimana mulianya hidup miskin. Orang miskin masuk surga lebih dahulu, nilai pahala amalnya lebih besar, hisab lebih cepat, di akhirat terjadi penyesalan biar tidak banyak urusan, orang kaya ingin menjadi miskin sedang org miskin tdk ingin menjadi orang kaya, dan seterus2nya. Semua itu tidak salah. Tp hendaknya doktrin itu lebih proporsional. Dan liat situasi dan kondisi jamaah. Jika khutbah atau ceramah di tengah2 masyarakat yang miskin dan masih jauh dari budaya kerja keras. Pemuda2nya lebih senang nongkrong dan main game online. Apa iya isi ceramah harus seperti itu? Knapa tidak diutamakan dulu tentang mulianya ikhtiar atau bekerja keras, mulianya tangan yg di atas, hinanya seorang pemalas, dan seterusnya? Harapan saya sama dg alenia terakhir tulisan Abah hari ini. Dan itu harapan sy sejak lama...

 

Ferdy Holim

Kalender Hijriah didasarkan pada peredaran bulan (lunar calendar). 1 tahun = 12 bulan lunar = 353, 354 atau 355 hari. Kalender Masehi didasarkan pada peredaran matahari (solar calendar). 1 tahun = 12 bulan kalender = 365 atau 366 hari. Kalender Imlek didasarkan pada peredaran bulan dan matahari (lunisolar calendar). 1 tahun = 12 bulan lunar = 353, 354 atau 355 hari; tapi setiap 2 atau 3 tahun sekali ada tahun kabisat di mana 1 tahun = 13 bulan lunar = 383, 384 atau 385 hari.

 

Haruntri Purnomo

Mohon ijin bertanya,serius dua rius. Mengapa penanggalan Imlek yang lunar, awal tahunnya menurut penanggalan Masehi yang solar,hanya bergeser antara Januari sampai Februari? Tidak seperti penanggalan Hijriyah yang berdasar pergerakan bulan.Awal tahunnya bergeser terus.Yang sangat terasa bahwa idul Fitri selalu'bergeser'.Pernah bertepatan dengan semua bulan dari Januari sampai Desember.

 

Agus Suryono

ANTARA NU DAN MUHAMMADIYAH.. Yang pasti keduanya adalah Islam. Itu yang paling UTAMA. Bedanya apa dong kalau begitu..? Dan inilah jawabannya.. 1). NU. Atau Nadhatul Ulama = 13 huruf. 2). Muhammadiyah = 12 huruf. Jadi beda keduanya adalah 13 vs 12 huruf. Dengan kata lain, keduanya sama- sama Islam. Yang berbeda hanya naungan organisasinya. Yang selisih 1 huruf itu. Karena itu mari kita bersatu. #bersatu kita "uenak", bercerai itu kita sedih..

 

daeng romli

Untuk masalah aset yg saat ini sdh tertata, memang aset Muhammadiyah lebih banyak. Hal ini pula yg ditanyakan oleh seorang pejabat Arab saudi ketika datang ke Indonesia. Saat itu yg menemani pejabat tsb kebetulan Hasyim Muzadi. Beliau tanya kepada Hasyim Muzadi. Anggota NU di Indonesia lebih banyak drpd Muhammadiyah, tetapi saya lihat tadi banyak sekolah2 Muhammadiyah. Sekolah2 NU kok tdk ada. Setelah berfikir......Hasyim Muzadi menjawab....iya memang banyak sekolah2 Muhammadiyah tp yg tdk ada tulisannya itu semua milik NU...... wes ngono ae....salam

 

Saifudin Rohmaqèŕqqqààt

Saya lihat istri saya, begitu zuhudnya. Selalu berharap pada rahmat dan ridho Allah. Contohnya apa? Kalau dirumah ada buah pisang. Sebelum kulit pisang dilempar ke kandang kambing. Istri akan memanfaatkan kulit pisang itu. Dibuat lulur. Digosok gosokkan ke kulitnya. Untuk apa? Agar kulitnya halus, untuk menyenangkan suami kalau meraba kulitnya. Kalau niat itu, nanti di ridhoi Tuhan Allah. Begitulah pikiran si istri. Tangan saya jadi hafal. Kalau habis luluran kulut pisang, betul kulitnya halus banget sehalus jalan tol semarang batang itu. Kalau kulitnya halus seperti suteranya cleo patra, saya bisa menebak. Tadi luluran pakai parutan buah bengkoang ya? Si istri akan menjawab, kok tahu. Tangan saya sudah hafal seberapa halus kulit dan luluran buah buahan. Bagitulah zuhud nya istriku, menghaluskan kulit untuk menggapai kebahagiaan akherat. Saya pun kebagiaan surga dunianya h e he he..... terima kasih zuhud.

 

Johannes Kitono

Mdm Po Po Setelah puas mampir di South Australia Art Galery langsung ke taman Adedaile Central Plaza. Dengan harapan bisa menikmati lagi lagu lagu cinta Gitaris Leon. Gerimis dan angin yang menusuk membuat taman lenggang.Terlihat seorang wanita Tionghoa setengah baya sedang menari.Diiringi lagu Mandarin dari tape recorder tua.Tentu suaranya tidak serak-serak basah dan s seperti Madonna. Lenggang lenggoknya asal goyang saja, tidak nehi nehi cha chi seperti film India.Hamparan kain didepan gerobak terlihat hanya menampung beberapa keping coin saja. Setelah kasih lembaran 5 $ yang membuatnya sangat happy mulailah dia bicara. Namanya Po Po marga Hung dari mainland China,suku Canton tapi bisa juga Hakka. Sudah 4 tahun tinggal di Adedaile. Setelah suami bulenya meninggal terpaksa jadi pengamen untuk biaya hidupnya.Sewa apart 130 $/ minggu bisa ditutupi dari hasil ngamennya.Satu hari boleh ngamen di 3 lokasi di taman Central Adedaile. Now umurnya sudah 70 tahun dan shio Ular yang biasanya penuh dengan misteri. Lagu-lagu cinta yang diputar adalah lagu di film seperti Shanghai Bun. Po Po menyadari penghasilannya tidak mungkin tinggi karena keterbatasan bahasa. Heran juga kok bisa jatuh cinta sama suami yang British dan duda 2 anak. Itulah kehebatan bahasa Cinta. Po Po, janda 2 anak asal Kwang Tung,China. Bisa jatuh cinta dan hidup bersama dengan suami barunya di Adedaile.Matahari sore mulai menghalau gerimis dan bangku mulai kering. Po Po pamit mau pindah lokasi lagi. Cia Yu Po Po.

 

AnalisAsalAsalan

Katanya, yang ideal adalah 70% calon haji, 30% dana manfaat. Berarti 25 juta diendapkan 15-20 tahun jadi 55juta. Calon haji menambah 45 juta, sehinggal total dari calon haji 70 juta.


Jimmy Marta

ONH kalau dikelola menggunakan skema ponzi, kt gk setuju. Yg berada diujung, pasti nanti gk kebagian subsidi lg. Memang agak heran, kenapa ada setoran awal 25 jt kalau ngantrinya 15-20 th. Apa gk sebaiknya mendaftar dg 1-5 jt sj. Dibuat daftar. Sesuai antrian, 1 th sebelum brkt, yg sudah dlm kuota baru melunasi. Kalau calhaj itu tahu antriannya 15-20 th, itulah saatnya mereka mulai menabung dg caranya masing2. Jika 170 T (2022) dana manfaat yg dikelolola bpkh ditabung dg pola apapun, mestinya subsidi tdk perlu memakan pokok setoran.

 

Haruntri Purnomo

Ada kisah tentang jamaah umrah nusantara.Muslim Indonesia yang tidak bisa dilepaskan dari NU atau MU.Nahdhatul Ulama atau Muhammadiyah. Ketika datang saat sholat taraweh,karena umrah pas bulan ramadhan.Dimana jumlah rakaatnya 20 plus 3 rakaat witir,jamaah berpikir: "Ohh ,di Mekkah NU.Sama dengan taraweh di Musholla di kampung". Ketika esoknya ikut jamaah subuh.Dan ternyata nggak pakai do'a qunut,jama'ah tadi berkesimpulan."Ohh,disini Islamnya ,Islam Muhammadiyah.Seperti kalau subuh diimami Mas Ustaz yang kuliah di kota. Kesimpulannya?Entahlah.Apakah orang tadi berkesimpulan di pusat dan asal mula agama Islam komplet .Ada semua. Atau malah jadi bingung.

 

Haruntri Purnomo

Islam dari masa ke masa. Ada Syi'ah ada Sunni. Ada Syarif ada Habib. Islam di Nusantara, Ada NU ada Muhammadiyah. NU, Ada PPP ada PKB. Muhammadiyah, Ada PAN ada Partai Ummat. PKB, Ada Gusdurian ada Cak Iminisme. PPP, Ada Surya Darma Ali ada Romahurmuzy. Ketika solid ada yang julid. Membuat sesuatu untuk bisa diadu. #komen ala Pak MZ Arifin UZ (*)

Kategori :