Kafe Planologi

Selasa 09-04-2024,03:05 WIB
Oleh: Dahlan Iskan

TERBACA JELAS dua tulisan pembatas luar Kafe Kaifa di Madinah ini. Salah satunya: Madinah to the World.

Madinah memang baru dinobatkan sebagai salah satu kota tersehat di dunia. Yang menobatkannya: organisasi kesehatan PBB, WHO.

Pembenahan kota Madinah telah membanggakan umat Islam sedunia. Itulah satu-satunya kota di negara Islam yang masuk daftar sehat –jauh dari motto yang diagung-agungkan agama itu: annadhofatu minal iman. Anda sudah tahu artinya.

Banyak juga jamaah umrah yang berfoto dengan latar belakang tulisan itu. Sekaligus bisa dapat latar belakang foto yang khas Madinah: gunung batu. Tidak jauh di sana.

Maka sepulang dari umrah kini banyak foto status di sekitar Kafe Kaifa ini. Baik yang di bingkai dengan latar belakang masjid Nabawi maupun yang di depan tulisan baru tadi.

Jangan-jangan ada organisasi Islam dunia yang ikut membuat ranking kota tersehat tersendiri. Khusus untuk negara Islam. 

Di situ kita bisa bangga: banyak kota di negara Islam yang masuk daftar.

Toh di Amerika Serikat juga ada lembaga seperti itu. Khusus untuk membuat ranking tersehat se-Amerika. Juaranya Anda sudah tahu: Kota Honolulu. Di Hawaii. Di belakang Honolulu ada Seattle, San Diego, dan Washington DC.

Di Eropa juga ada daftar seperti itu. Juaranya: Copenhagen. Disusul Helsinki dan Denmark –semuanya di negara Skandinavia yang semakin tidak mementingkan beragama.

Lembaga lain punya pilihan lain lagi: Melbourne di Australia. Disusul Barcelona di Spanyol.

Saya tidak pernah mempersoalkan kriteria penilaian. Yang penting ada kriterianya. Dan yang lebih penting ada upaya untuk membuat sebuah kota semakin sehat bagi penghuninya.

Kekhawatiran gunung-gunung batu di dekat masjid Nabawi akan dihancurkan rasanya tidak perlu. Di bawah Putra Mahkota Mohamad bin Salman Saudi kian terintegrasi dengan dunia Barat.

Saya sendiri tidak khawatir. Terutama setelah naik bus dari Madinah ke Riyadh –lewat Buraydah.

Bus antar provinsi itu berangkat dari stasiun terminal baru. Masih di dalam kota –agak ke pinggir. 

Dari hotel menuju terminal ini saya baru tahu: Madinah itu kota besar. Tidak pernah saya keliling kota Madinah. Setiap kali umrah rutenya tetap: dari hotel ke masjid pp. Kesannya Madinah itu ya hanya sekitar masjid Nabawi.

Terminal baru itu tidak perlu saya ceritakan. Tidak ada yang baru. Sangat biasa. Hanya satu bangunan sekelas rumah tipe 120. Ada ruang penjualan tiket. Ada kios makanan. Ada pintu menuju bus.

Tanpa lewat pintu itu pun saya bisa menuju bus. Dengan mudah. Yakni lewat jalan raya. Bus ke Riyadh itu parkir di satu lapangan kecil di pinggir jalan raya. Bersebelahan dengan gedung terminal. Tanpa pagar.

Kesan saya ini terminal bus sementara. Terminal yang megah seharusnya dibangun di sebelah stasiun kereta cepat jurusan Makkah dan Jeddah. Stasiun itu masih baru. Megah. Tidak kalah dengan stasiun kereta cepat di Tiongkok.

Di sebelah stasiun Whoosh itu terlihat masih banyak tanah kosong. Kelihatannya memang dicadangkan untuk terminal bus: jadi MadLinko –siapa tahu meng-copy program Gubernur Jakarta 2017-2023 Anies Baswedan dengan JakLinko-nya: antar moda transportasi harus saling terkoneksi.

Terminal bus itu, Anda sudah tahu, lebih ke pinggir kota –dibanding terminal lama yang seperti terminal Kopaja. Tapi untuk benar-benar keluar dari kota Madinah masih jauh. Masih harus melewati kota Madinah yang baru –banyak perumahan mewah terlihat di real estate sepanjang jalan.

Masih pula ada kawasan industri. Menyusuri jalan utama menuju Buraydah ini membuat saya tahu kota Madinah berkembang ke arah sini –ke sepanjang jalan ini. Kawasannya memang relatif datar. Baik di kanan maupun kiri jalan. Gunung-gunung batu seperti menjauh dari jalan jurusan Riyadh ini.

Mungkin jarang jemaah umrah yang punya minat planologi kota. Maka ziarah terkait umrahnya sebatas ke kebun kurma. 

Mungkin mempelajari planologi dianggap bukan bagian dari ibadah.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Disway Edisi 8 April 2024: Kafe Kaifa

Fiona Handoko

selamat pagi bpk agus. boro2 ingat check list 3 item yg ditulis bpk agus. uang saja abah sering lupa bawa

djokoLodang

--o-- JAM ENAM Seorang pemudik nyetir sendirian sejak jam 11 malam. Usai istirahat dan makan sahur di rest area, dia meneruskan perjalanan. Kira-kira sejam kemudian, dia merasa mengantuk. Dipilihnya tempat berhenti yang aman, di kawasan pinggiran kota. Parkir mobil. agak jauh dari keramaian jalan raya. Tapi masih ramai dengan orang berlalu-lalang. Sandaran kursi direbahkan, dia mulai memejamkan mata. Baru saja mau terlelap, ada yang mengetuk kaca jendela. Seseorang yang sedang jogging bertanya: "Maaf, jam berapa sekarang?" "Jam setengah enam ...," jawabnya. Rebahan lagi. .. Layap-layap, sudah mak leer, eh, ada yang mengetuk kaca lagi. "Punten, jam berapa sekarang?" tanya seorang pelari lagi. "Jam enam kurang seperempat..."jawabnya setengah menggerutu. "Waduh, tidak bisa begini terus....,"pikirnya. Diambilnya kertas, ditulisnya besar-besar: MAAF. TIDAK BAWA JAM. Ditempelnya di kaca jendela. Dia meneruskan rebahan. .Mak leeer ...jleeeb.. akhirnya, ...kini dia bisa tidur.... ..tak ada lagi yang mengganggu... Demikian pikirnya. Tapi, seseorang mengetuk kaca mobilnya lagi, Kali ini malah agak keras. Ada apa lagi? Dibukanya kaca jendela, sambil menguap "Mas, mas, ....Cepat bangun... ...Sekarang sudah jam enam lewat!!... ...Awas kesiangan ..." --jL--

djokoLodang

LAILATUL QADAR (3) Lailatul Qodar. Malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Para malaikat turun dari langit. Ke langit hati kita. Menyelesaikan segala urusan. Allah melapangkan rejeki dan kemuliannya bagi yang dikehendaki, pun mempersempit bagi yang dikehendaki pula. Rejeki sesuai kapasitas kita. Lantas siapakah yang mendapatkannya? * Barangkali perempuan sepuh itu lah yang mendapatkannya. Bukan karena ia ahli ibadah... Bukan pula karena I’tikafnya yang kuat di masjid. Tapi dialah pelaksana dari yang katanya ‘hanya’ bisa fatihah itu. Kesungguhan I’tikaf yang luar biasa. Bertindak, berlaku, dan berpasrah dalam keriangan rasa. I’tikaf di masjid yang digelar dalam keluasan yang maha. Bukan masjid yang sekedar bangunan ibadah. Kecintaannya yang sederhana dengan penyiapan wedang dan penganan bagi limapuluhan bocah selama puasa, sungguh bukan perkara mudah. Hanya cinta tuluslah yang bisa. * Aku jadi teringat pertanyaan teman, tentang pencapaian Lailatul Qadar. Benarkah memang ia turun di 10 hari terakhir malam ganjil? Maka …malam terbaik dari 1000 bulan bukanlah instan. Tak bisa dijujug dengan akhiran... semua butuh proses…. karena karunia terindah butuh wadah. Yang dibangun dengan mengais kebaikan, sebelum, selama dan sesudah Ramadhan. Itulah sesungguhnya QODARAN. *** Selamat menjemput Laillatul Qodar, saudara-riku tercinta. --jL-- copy-paste dari tulisan teman *

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

RIHLATUL ULFA.. Beliau itu seumuran anak bungsu saya, anak ke 4. Saat saya "tidak diundang" ke acara Muktamar Perusuh Disway di Prambanan, beliau janji akan MENCOLEK saya di saat acara, karena saya "akan cari alasan" ada di sekitaran Yogya. Kebetulan kan juga ada acara NITILAKU dalam rangka Dies Natalies UGM. Ternyata akhirnya saya diundang di acara muktamar. Tapi tidak bertegor karena tidak MENYANGKA. Saya mengira, beliau sudah SENIOR. Ternyata seumuran si BUNGSU. Dan separo umur anak SULUNG saya. Belakangan saya baru tau "orangnya", karena saya tanya via WA: anda yang mana..? "Saya di seberang Anda. Saya yang tanya soal xxx itu lho pak". Pertanyaannya GALAK dan BERAT. Persis komen-komennya. Khas anak muda. Beda dengan komen-komen saya saya. Yang fokus dan arahnya relatif SOFT. Sesuai UMUR. Pendekatannya tinggal HUMOR, DATAR dan atau LANGIT. Kecuali kalo ketemu "komentare WONG KAE".. ### RU. Berbakat PEMIKIR. Dan ada bakat MILITAN.

Everyday Mandarin

Di food court China dan Taiwan, meja makan semisal juga untuk 4 orang. Lalu misal kita hanya bertiga, 1 kursi lagi kosong. Lalu meja² lain sudah penuh. Maka sering kali dijumpai ada orang lain yang sendiri yang nimbrung dan duduk di kursi kosong kita, 1 meja bareng dgn kita utk makan. Dan mendengar percakapan kita lgsg. Tak masalah jika di China/Taiwan. Itu sudah budaya lokal. Saya ga tau apakah di Arab Saudi juga begitu. Mungkin masih sama seperti di Indonesia, yang tidak terbiasa berbagi meja food court. Padahal itu kan meja umum, kenapa ga boleh berbagi, kata orang China.

Lagarenze 1301

Duluu, melihat hilal hanya dengan mata telanjang. Pada suatu ketika, pencarian hilal dipimpin oleh sahabat Nabi Muhammad, Anas bin Malik al-Anshari ra, yang sudah berusia senja. Hampir 100 tahun. Orang-orang tidak menemukan hilal di langit. Namun, tiba-tiba Anas bin Malik berkata, “Aku telah melihat hilal, itu dia!” Tersebutlah Iyas bin Muawiyah bin Qurrah al-Muzanni, yang dikenal sebagai tabiin yang cerdas. Ia berpikir, bagaimana Anas bin Malik sendirian melihat hilal, sedangkan pengamat yang lain tidak satu pun melihatnya. Iyas kemudian memperhatikan Anas. Di bagian mata, ia melihat ada sehelai rambut yang panjang menjulur ke pelupuk matanya. Iyas minta izin kepada Anas untuk merapikan rambut yang menjulur tersebut. Sesaat kemudian, Iyas bertanya ke Anas, “Apakah Anda masih melihat hilal itu sekarang, wahai sahabat Rasulullah?” Anas menjawab, “Tidak, aku tidak melihatnya. Aku tidak melihatnya.” *dari buku "Masa Kecil Para Ulama".

Mbah Mars

INTERMEZZO 2 Banyak tamu berkunjung ke rumah Bolkin yang baru pulang umrah. Bolkin sangat bersemangat cas cis cus tentang pengalaman perjalanan spiritualnya tersebut. Tentu hidangan zamzam dan kurma menjadi pelengkap pertemuan. “Di toples ini, kenapa kurmanya kok banyak jenisnya ? Sepertinya campuran”, tanya Jumerut. “Iya, yang di piring ini juga sama”, sahut Solikin. “Itu kurma spesial. Mereknya “Halal”, jawab Bolkin. “Merek Halal ? Kok baru dengar sekarang ada merek Halal”, kata Jumerut. “Jadi, setiap habis sholat Asar dan Subuh saya selalu berkunjung ke kios-kios kurma. Pindah dari satu kios ke kios yg lain. Setiap masuk kios, saya bilang ke pedagang “halal ?” sambil ambil sekira 3 butir kurma. Semua pedagang menjawab “halal”. Artinya gratis. Ya, sudah. Semua korma saya masukkan ke plastik”, kata Bolkin menjelaskan. Semua yg datang bergumam, “Sedang umrah saja pokilnya dibawa”

Jimmy Marta

Cerita siang. Pada puncak pengadilan korupsi politik, Jaksa penuntut umum menyerang saksi. Jaksa : 'Apakah benar anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?'. Saksi : (menatap keluar jendela seolah tidak mendengar pertanyaan). Jaksa : 'Apakah benar anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?'. Saksi : ( tidak menanggapi) Hakim : Pak, tolong jawab pertanyaan jaksa!'. Saksi : (kaget) 'Oh maaf. Saya pikir, ia tadi berbicara dg anda!'.

Jimmy Marta

Cerita siang 2. Tertangkap karena mencuri sandal di mesjid, Arya dihadapkan ke meja hijau. Hakim : Baiklah terdakwa, anda terbukti mencuri sandal seharga 30 ribu. Karena usia anda masih 24 tahun, pengadilan memutuskan anda dihukum 5 tahun penjara. Arya : 'Loh..pak. Ini tidak adil. Mengapa hukuman saya lebih berat dari koruptor..?'. Kemudian hakim memberikan penjelasan kpd Arya. Bahwa ia divonis begitu karena tindakannya merugi kan seseorang 30 ribu rupiah. Sedangkan koruptor mencuri uang 2 milyar milik 200 juta orang. Nah kalau dihitung seksama, koruptor hanya merugikan Rp.10 saja setiap orang.

Kategori :