Insiden Keracunan Nodai Makan Bergizi Gratis di Sukoharjo, Adakah Risiko KLB?

Minggu 19-01-2025,14:15 WIB
Reporter : Annisa Amalia Zahro
Editor : Marieska Harya Virdhani

3. kontaminasi fisik (misal, potongan kaca, benda tajam/jarum/kayu).

4. Penyimpanan makanan yang tidak tepat: suhu penyimpanan 5-60° C adalah penyimpanan pada suhu bahaya untuk pertumbuhan mikroorganisme (bakteri), penyimpanan produk jadi dengan bahan mentah bercampur (kontaminasi silang), dan kedaluarsa (lama penyimpanan produk).

5. Pengolahan makanan yang tidak higienis dan tidak sesuai kaidah pengolahan pangan yang baik.

6. Penyajian yang tidak aman (kontaminasi udara, penyajian dengan alatmakan yang tidak higienis).

7. Faktor alamiah dari makanan (harus dikenali senyawa racun yang terdapat pada bahan pangan dan cara untuk menginaktifkan/meminimalkan kandungannya).

BACA JUGA:Wamenperin: Makan Bergizi Gratis Dongkrak Industri Kecil Menengah

Adapun diketahui kasus keracunan yang terjadi pada siswa SD di Sukoharjo tersebut akibat ayam marinasi yang kurang matang.

Dalam hal ini, profesor asal Blitar tersebut mengingatkan bahwa daging ayam merupakan pangan segar asal hewan dengan risiko tinggi, mudah rusak/busuk karena kontaminasi bakteri.

Sehingga agar terhindar dari keracunan pangan, harus dipastikan keamanan dagingnya dimulai dari penanganan asal daging ayam segar (peternakan, penyembelihan, penanganan karkas, pengiriman daging segar), pengolahan daging ayam, pengemasan produk olahan, pengiriman/pendistribusian dan penyajian.

"Masakan daging ayam marinasi perlu ditelusur penyebab ketidakamanannya. Apakah sudah diketahui adanya bakteri penyebab penyakit dari masakan ayam tersebut? Bagaimana pengolahannya, penyimpanan produk olahannya, pendistribusiannya?," tuturnya.

 

Kategori :