JAKARTA, DISWAY.ID – Sebuah kabar membanggakan datang dari Korea Selatan.
Salah satu tokoh penting di Indonesia, Prof. Dr. Reda Manthovani, S.H., LL.M., baru saja menyandang gelar Grand Master Taekwondo dari Kukkiwon, markas besar Taekwondo dunia yang berbasis di Seoul.
Gelar prestisius ini bukan sembarangan.
Dikenal sebagai The Honorary 6th Dan, gelar ini hanya diberikan kepada individu yang dinilai memiliki kontribusi luar biasa dalam pengembangan Taekwondo, baik secara nasional maupun global.
BACA JUGA:Harga Suzuki Fronx Resmi Diumumkan 3 Hari Lagi, Gaji UMR Cocok Simulasi Cicilan 2 Jutaan
Yang bikin kagum, Reda bukan atlet profesional aktif, melainkan menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Intelijen (JAM-Intel) Kejaksaan Agung RI.
Namun di balik jas dan jabatan formalnya, tersimpan kecintaan mendalam terhadap olahraga bela diri asal Negeri Ginseng tersebut.
BACA JUGA:Pramono Anung Resmikan Blok M Hub, Sebagai Kawasan Pusat Kuliner ASEAN
Sudah Cinta Taekwondo Sejak SMA
Ketertarikan Reda Manthovani terhadap Taekwondo bukan hal baru.
Ia mulai menekuni bela diri ini sejak duduk di bangku SMA, dan terus mengasah kemampuannya hingga berhasil meraih predikat atlet terbaik pada Kejurnas antarperguruan tinggi tahun 1990.
Pengalaman sebagai atlet inilah yang membentuk karakter serta pemahaman filosofis Reda terhadap semangat Taekwondo—sebuah nilai yang ia pegang teguh hingga kini.
Penganugerahan gelar Grand Master diserahkan langsung oleh Presiden Kukkiwon, Dr. Dongsup Lee, dalam sebuah upacara penuh makna di Korea Selatan.
BACA JUGA:Pramono Anung Resmikan Blok M Hub, Sebagai Kawasan Pusat Kuliner ASEAN
Kukkiwon sendiri adalah lembaga resmi yang ditunjuk pemerintah Korea Selatan sejak 1972 sebagai pusat dunia Taekwondo, termasuk dalam urusan sertifikasi dan promosi sabuk hitam (Dan).
Gelar kehormatan ini tak hanya diberikan atas dasar prestasi masa lalu, tapi juga karena dedikasi Reda dalam mengembangkan Taekwondo di Indonesia, khususnya bagi komunitas disabilitas.