Bagi mereka, lebih baik menjual dengan harga maksimal untuk membangun generasi baru, daripada mempertahankan pemain yang mulai stagnan.
Tentu, dampak jangka panjang dari penjualan Diaz baru bisa diukur setelah penggantinya tampil.
Tapi melihat rekam jejak Liverpool selama satu dekade terakhir, peluang mereka membuat keputusan tepat sangat besar.
Mereka nyaris tak pernah menjual pemain di waktu yang salah, dan jarang sekali mendatangkan pemain yang gagal.
BACA JUGA:Timnas Indonesia vs Vietnam di Partai Final AFF U-23, Gerald Venenburg Siap Ukir Sejarah
Jika ada buku berjudul "The Art of Football Transfers", mungkin nama Michael Edwards dan tim FSG layak menulis kata pengantarnya.
Di era sepak bola modern yang penuh emosi dan tekanan, Liverpool tetap tenang dan karena itu, sukses.