Mengatur Liburan Keluarga: Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari Kalender Sekolah Malaysia

Rabu 10-09-2025,18:45 WIB
Reporter : Risto Risanto
Editor : Risto Risanto

Dua pendekatan ini menunjukkan cara berbeda dalam mengatur ritme pendidikan dan kehidupan sosial.

3. Libur Panjang, Libur Pendek

Jika dibandingkan secara garis besar:

• Indonesia: Tahun ajaran dimulai Juli. Libur panjang biasanya Juni–Juli (antara tahun ajaran) dan Desember (akhir semester).

• Malaysia: Tahun ajaran dimulai Januari. Libur pertengahan tahun Juni–Juli, lalu libur akhir tahun November–Desember.

Bagi keluarga lintas negara, perbedaan ini kadang menimbulkan tantangan, tapi juga peluang. Ketika siswa di Indonesia sibuk ujian, anak-anak di Malaysia mungkin sudah liburan. Ini membuat arus wisata antarnegara menjadi lebih berlapis sepanjang tahun.

BACA JUGA:5 Wisata Instagramable di Bogor yang Kekinian, Wajib Dikunjungi saat Liburan Sekolah!

4. Ekonomi Keluarga & Pariwisata

Libur sekolah selalu menjadi pendorong aktivitas ekonomi. Dari tiket transportasi hingga hotel dan restoran, semuanya merasakan dampaknya.

Di Indonesia, jadwal yang bisa berubah membuat sebagian pelaku usaha harus lebih fleksibel. Di Malaysia, kepastian lebih awal membantu mereka menyiapkan strategi sejak jauh hari.

Namun, keduanya sama-sama membuktikan bahwa libur sekolah bukan hanya urusan akademik, tetapi juga motor penggerak ekonomi.

5. Saling Belajar di Asia Tenggara

Apakah Indonesia dan Malaysia bisa saling belajar? Tentu bisa.

Indonesia bisa melihat manfaat dari kepastian jadwal di Malaysia, sementara Malaysia juga bisa memahami bagaimana fleksibilitas memberi ruang adaptasi terhadap dinamika sosial.

Dua negara ini tidak perlu saling dibandingkan siapa lebih unggul, melainkan saling melengkapi.

6. Refleksi untuk Kita Semua

Liburan keluarga adalah momen berharga. Bukan hanya soal jalan-jalan, tapi juga kesempatan mempererat hubungan, mengisi kembali energi, dan menciptakan kenangan.

Baik di Indonesia maupun Malaysia, kalender sekolah menjadi panduan utama bagi keluarga.

Perbedaan sistem ini seharusnya tidak dilihat sebagai kekurangan, melainkan sebagai cermin keberagaman cara mengatur kehidupan di Asia Tenggara.

Mungkin sudah saatnya kita menilai kalender sekolah bukan hanya sebagai dokumen akademik, tapi sebagai hak keluarga untuk merencanakan hidup dengan lebih baik.

Tags :
Kategori :

Terkait