JAKARTA, DISWAY.ID - Ketika dulu menyelesaikan studi magister, saya menulis tesis dengan tema salah satu tradisi pesantren.
Namun yang menarik bukan semata isi tesisnya, melainkan temuan-temuan lapangan yang justru membuka cara pandang saya terhadap dunia pesantren secara lebih mendalam.
Pesantren bukan sekadar institusi keagamaan; ia adalah sebuah ruang sosial dengan tradisi, struktur, dan dinamika yang sangat kaya.
Jika dilihat dari kacamata sosiologi, pesantren tidak dapat dipahami sebagai satu entitas tunggal.
Ia tumbuh dari berbagai latar sosial dan budaya masyarakat yang beragam.
BACA JUGA:Program Tayangan Dinilai Hina Kiai-Pesantren, Trans7 Dipolisikan Alumni Santri!
Perbedaan latar belakang orang tua santri, misalnya, ikut membentuk wajah pesantren.
Ada pesantren yang sarana dan prasarananya sederhana, bahkan sangat terbatas, tetapi ada pula pesantren dengan fasilitas modern dan mewah.
Di sinilah kita melihat jejak kelas sosial dalam konstruksi kelembagaan pendidikan Islam di Indonesia.
Dari sisi sistem kelembagaan pun terdapat ragam bentuk.
Pesantren tradisional berakar pada pola pengajaran klasik, pengajian kitab kuning, dan kedekatan personal antara kiai dan santri.
Di sisi lain, pesantren modern menggabungkan kurikulum agama dengan kurikulum umum, menghadirkan teknologi, sistem administrasi, bahkan manajemen profesional.
BACA JUGA:PBNU Resmi Laporkan Trans 7 ke Bareskrim Polri Buntut Tayangan yang Dinilai Hina Pesantren
Di antara dua kutub itu, tumbuh model hibrida yang memadukan tradisi dan modernitas. Realitas ini membuat pesantren tak mungkin dipahami dengan satu kacamata sempit.
Tradisinya tidak universal, melainkan berakar pada konteks sosialnya masing-masing.