Rentetan Kontroversi AFC yang Memicu Kemarahan
Kemarahan negara-negara Asia non-Timur Tengah tidak berhenti di soal tuan rumah.
Sejumlah keputusan dan insiden kontroversial turut memperburuk citra AFC dan menurunkan kepercayaan publik. Di antaranya:
Laga Iran vs Qatar secara sepihak dipindahkan dari Teheran ke tempat netral dengan dalih keamanan, padahal tidak ada bukti kuat yang mendukung keputusan itu.
BACA JUGA:Kesit Handoyo Bandingkan Racikan Kluivert dengan STY, Strateginya Naik Turun
Gol Qatar ke gawang India yang disahkan meski bola sudah jelas-jelas keluar garis sebelum masuk ke gawang.
Kinerja wasit yang dinilai tidak profesional dalam beberapa pertandingan penting, termasuk yang melibatkan tim nasional Indonesia.
Insiden-insiden ini memperkuat persepsi bahwa AFC lebih berpihak pada kepentingan politik dan finansial kawasan Timur Tengah, ketimbang menjaga prinsip sportivitas dan keadilan.
Wacana pemisahan AFC menjadi dua konfederasi kini semakin kuat.
Banyak pihak menilai bahwa Asia terlalu luas dan beragam untuk disatukan dalam satu sistem kompetisi.
Ketimpangan kekuasaan, ketidakadilan kompetisi, dan praktik yang dinilai tidak transparan membuat struktur AFC saat ini tidak lagi representatif.
BACA JUGA:7 Negara Siap Gabung Jepang Bentuk ‘Federasi Asia Timur’ Jika Cabut dari AFC
Jika Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia benar-benar melangkah keluar, maka itu bisa menjadi awal dari perubahan besar dalam struktur sepak bola Asia dan membuka jalan bagi pembentukan federasi baru yang lebih adil dan profesional di kawasan Timur.
Kemarahan dan frustrasi fans Jepang terhadap AFC menggambarkan ketegangan geopolitik dan ketidakpuasan yang telah lama terpendam dalam struktur sepak bola Asia.