Indonesia, Rumah Baru Islam Dunia: Cerita dari Kampus UIII

Selasa 18-11-2025,08:05 WIB
Oleh: Prof. Jamhari Makruf, Ph.D

Maka, wasathiyah bukan sekadar sikap teologis, tapi strategi sosial untuk bertahan dalam keragaman.

Pengalaman demokrasi kita pun dibangun di atas kesadaran serupa: perbedaan bukan ancaman, melainkan keniscayaan.

Saat banyak negara mayoritas Muslim gagal menjaga demokrasi, Indonesia menunjukkan bahwa Islam dan demokrasi bisa berjalan berdampingan.

Perempuan, Pendidikan, dan Integrasi Ilmu

Islam Wasathiyah juga tampak dalam penghargaan terhadap perempuan.

BACA JUGA:Tiga Kelebihan Bauran BBM dengan Etanol

BACA JUGA:Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia

Perempuan Indonesia menempuh pendidikan tinggi, menjadi dosen, hakim, pejabat, bahkan menteri luar negeri.

Retno Marsudi, misalnya, adalah tokoh pertama yang menggagas beasiswa bagi perempuan Afghanistan setelah Taliban melarang mereka bersekolah—contoh nyata diplomasi Islam Wasathiyah di ranah global.

Dalam bidang pendidikan, Indonesia pun unik: tidak ada pemisahan kaku antara ilmu agama dan ilmu umum.

Tradisi lama yang memuliakan ilmu agama di atas sains duniawi pelan-pelan berubah.

Di tangan para pemikir seperti Harun Nasution, Azyumardi Azra, dan generasi baru UIN, paradigma yang diusung bukan “Islamisasi ilmu”, tetapi integrasi ilmu.

Jika sarjana Malaysia seperti Ismail Raji al-Faruqi menekankan Islamisasi sains, di Indonesia muncul pandangan bahwa semua ilmu berasal dari Tuhan; yang diperlukan bukan pemisahan, melainkan penyatuan tujuan: ilmu sebagai jalan menuju kemaslahatan manusia.

BACA JUGA:Memperkuat Ketahanan Komunitas

BACA JUGA:Wakil Kepala Daerah Sebaiknya Dihapus, Boros dan Tak Efisien

Di sinilah nilai tauhid diterjemahkan bukan hanya dalam ritual, tapi dalam cara berpikir ilmiah—sebuah konsep yang sejalan dengan gagasan Syed Naquib al-Attas tentang adab al-‘ilm, bahwa ilmu harus mengantarkan manusia kepada kebijaksanaan, bukan sekadar kecerdasan.

Tags :
Kategori :

Terkait