Laboratorium Dunia Islam Baru
Dengan pengalaman panjang dalam mengelola keragaman, Indonesia kini menjadi laboratorium sosial-keagamaan dunia.
Para antropolog seperti Robert Hefner dan Mark Woodward bahkan menyebut Indonesia sebagai civil Islam—Islam kewargaan yang beradab, bernegara, dan berkemajuan.
Organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menjadi fondasi sosial bagi Islam Wasathiyah.
Keduanya membangun ribuan sekolah, universitas, rumah sakit, dan lembaga sosial. Dari situ lahir wajah Islam yang ramah pada modernitas tanpa kehilangan spiritualitas.
BACA JUGA:Momentum Sumpah Pemuda: Generasi Muda Anti Narkoba
BACA JUGA:Menakar Ruang Fiskal Daerah di Tengah Penurunan Transfer dan Peningkatan Beban ASN
Model inilah yang kini dikembangkan oleh Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII): membuka ruang bagi siapa pun untuk mempelajari Islam Indonesia.
Bagi mahasiswa dari Asia, Afrika, Timur Tengah, bahkan Eropa, UIII menawarkan sesuatu yang tak didapat di tempat lain—Islam yang menyejukkan dan berdialog dengan budaya.
UIII menjadi rumah bagi Islam Wasathiyah: Islam yang tidak menolak modernitas, tidak menakuti sains, dan tidak alergi terhadap perbedaan.
Penutup: Kiblat Baru dari Timur
Indonesia mungkin datang terlambat dalam sejarah kejayaan Islam, tapi ia datang dengan hadiah yang berbeda—hikmah hidup bersama.
Seperti kata Seyyed Hossein Nasr, peradaban tidak diukur dari teknologi semata, tetapi dari kemampuan menjaga keseimbangan antara akal dan hati.
BACA JUGA:Koperasi Merah Putih: antara Mengejar Efisiensi Bersama dan Merawat Modal Sosial
BACA JUGA:KESADARAN GEOPOLITIK
Jika dikembangkan secara konsisten, Islam Wasathiyah Indonesia dapat menjadi kiblat baru peradaban Islam dunia.