Namun, kondisi berbeda terjadi di Papua Raya, di mana harga masih bertahan di atas HET meski menunjukkan penurunan.
Satgas mengungkap sejumlah faktor penyebab tingginya harga beras di Papua Raya, antara lain:
Akses geografis sulit, terutama di wilayah pegunungan
Biaya transportasi bisa naik dua kali lipat, terutama melalui udara
Bandara perintis memiliki kapasitas muatan rendah (±1,25 ton)
Sebanyak 28 kota/kabupaten belum memiliki gudang Bulog
Cuaca ekstrem dan potensi gangguan keamanan
Tol Laut Dioptimalkan
Untuk mengatasi masalah distribusi dan harga, Satgas menerapkan langkah strategis, termasuk:
- Menambah trayek dan frekuensi Tol Laut, Jembatan Udara, dan Perintis Darat
- Membangun 32 gudang filial, termasuk memanfaatkan aset Polri, Pemda, KPU, dan masyarakat
- Menanggung biaya logistik melalui mekanisme Harga Pembelian Beras (HPB) agar Bulog tidak terbebani
- Melakukan intervensi penyaluran 4.634 ton beras SPHP di 42 kabupaten/kota Papua Raya
Beras dikirim menggunakan moda transportasi berbeda sesuai kondisi wilayah:
Darat untuk wilayah terakses truk (Jayapura, Merauke, Sorong, Wamena, dll.)
Udara ke wilayah pegunungan (Nduga, Yahukimo, Pegunungan Bintang, dll.)
Laut ke wilayah kepulauan (Kaimana, Fakfak, Teluk Wondama, dll.)