Puasa, Solidaritas, dan Diplomasi Kemanusiaan
Prof Jamhari Makruf, Ph.D: Bulan Ramadan selalu menghadirkan ruang refleksi yang melampaui sekadar ritual keagamaan.-dok disway-
JAKARTA, DISWAY.ID - Bulan Ramadan selalu menghadirkan ruang refleksi yang melampaui sekadar ritual keagamaan.
Ketika umat Islam menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga matahari terbenam, sesungguhnya yang sedang dipraktikkan bukan hanya disiplin spiritual, tetapi juga latihan moral yang memiliki implikasi luas bagi kehidupan sosial.
Al-Qur’an sendiri menegaskan tujuan puasa dengan sangat jelas: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menegaskan bahwa puasa adalah jalan menuju kesadaran moral yang lebih tinggi.
Di tengah dunia yang terus berubah—ditandai konflik geopolitik, kesenjangan ekonomi, dan krisis lingkungan—ajaran Islam memberikan pengingat penting tentang arti solidaritas dan kerja sama.
Al-Qur’an menegaskan: “Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
Prinsip ini menegaskan bahwa kehidupan yang damai dan sejahtera tidak mungkin terbangun tanpa kepercayaan, kerja sama, dan komitmen bersama untuk menegakkan keadilan.
BACA JUGA:Krisis Air Bersih di Gaza, BAZNAS Salurkan 200.000 Liter Air untuk 5.000 Warga Palestina
BACA JUGA:Sempat Kabur, Dua Tersangka Korupsi di Kementan Dibekuk di Sumsel, Kini Ditahan di PMJ
Bagi umat Islam, solidaritas bukan sekadar nilai sosial, tetapi bagian dari tanggung jawab etis. Nabi Muhammad SAW mengajarkan pentingnya membantu sesama, memperkuat persaudaraan, dan menjaga martabat kemanusiaan.
Ketika dunia menghadapi ketidakpastian, ajaran ini menjadi semakin relevan: masyarakat diajak untuk saling menopang, melindungi kelompok rentan, dan membangun hubungan yang dilandasi rasa hormat serta keadilan.
Dalam konteks ini, puasa Ramadan memiliki makna yang jauh melampaui praktik menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan pengendalian diri yang mendalam.
Dalam bahasa Arab terdapat istilah imsak, yang berarti menahan diri secara sadar. Bahkan ketika seseorang memiliki kemampuan untuk makan atau minum, ia memilih untuk tidak melakukannya. Pilihan sadar ini menjadi latihan untuk mengendalikan keinginan dan menumbuhkan kesadaran spiritual.
Latihan pengendalian diri ini memiliki relevansi luas dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika seseorang memiliki kekuasaan, sumber daya, atau pengaruh.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: