Puasa, Solidaritas, dan Diplomasi Kemanusiaan
Prof Jamhari Makruf, Ph.D: Bulan Ramadan selalu menghadirkan ruang refleksi yang melampaui sekadar ritual keagamaan.-dok disway-
Puasa mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan menggunakan kekuasaan, tetapi pada kebijaksanaan untuk menahan diri.
Dari sinilah lahir empati: kesadaran bahwa setiap keputusan kita dapat memengaruhi kehidupan orang lain, terutama mereka yang lebih rentan.
Pengendalian diri yang dilatih melalui puasa juga menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial. Ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga, ia lebih mudah memahami penderitaan mereka yang hidup dalam kekurangan.
BACA JUGA:Manchester United Siap Jual Joshua Zirkzee, Striker Belanda Pertimbangkan Angkat Kaki
Pengalaman fisik ini membuka pintu empati yang sering kali sulit dicapai hanya melalui wacana moral. Puasa menjadi pengalaman kolektif yang meruntuhkan sekat-sekat sosial dan mendorong munculnya solidaritas.
Karena itu, Ramadan selalu menjadi bulan yang kaya dengan ekspresi kebersamaan. Di banyak negara Muslim, tradisi berbuka puasa bersama menjadi simbol kuat solidaritas sosial.
Di Timur Tengah, misalnya, masjid-masjid mengadakan iftar kolektif yang menghadirkan orang dari berbagai latar belakang. Mereka yang mampu berbagi makanan dengan mereka yang membutuhkan.
Di Maroko, momen berbuka puasa menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan keluarga. Sementara di Turki, suasana menjelang iftar diwarnai dengan tabuhan drum dan cahaya lampion yang menciptakan atmosfer kebersamaan.
Tradisi-tradisi ini menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mempererat hubungan manusia dengan sesama. Puasa menjelma menjadi pengalaman sosial yang menghubungkan individu dalam jaringan solidaritas yang luas.
Indonesia memiliki kekayaan tradisi Ramadan yang tidak kalah beragam. Dari Aceh hingga Papua, setiap daerah memiliki cara unik dalam menyambut bulan suci.
Di Aceh terdapat tradisi meugang, yaitu makan bersama keluarga menjelang Ramadan atau Idul Fitri. Di Jawa, masyarakat mengenal tradisi Dugderan sebagai penanda datangnya bulan puasa.
BACA JUGA:Airlangga di Tokyo Conference 2026: Asia Harus Perkuat Multilateralisme di Tengah Ketegangan Global
BACA JUGA:Dompet Dhuafa dan PPJI Gelar REMEMBER 2026 di 24 Kota, Sasar 3.814 Penerima Manfaat
Di berbagai daerah, makanan khas seperti kolak, ketupat, dan aneka takjil menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana berbuka.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: