Langkah Super League ini bagi kami sangat mengedepankan sisi industri. Sementara pada saat yang sama, para fan sepak bola sepertinya mempertanyakan bagaimana langkah tersebut bisa mengangkat prestasi (kualitas) para pemain lokal.
Pada titik ini, derasnya naturalisasi pemain untuk tim nasional dan dan jumlah pemain asing yang boleh main di Super League seolah menjadi langkah ekstrem yang bertolak belakang. Satunya prestasi. Satunya lagi industri.
Pemain asing di IBL
Hal yang hampir serupa juga diterapkan di IBL. Pada musim 2026, IBL membolehkan setiap tim untuk punya 3 pemain asing. Ketiganya boleh bermain bersamaan di lapangan. Sebanyak 2 pemain asing maksimum bertinggi 200 cm. Sementara 1 lagi bebas. Mirip dengan di sepakbola, IBL mewajibkan setiap klub mendaftarkan masing-masing 2 pemain U-23 di dalam skuadnya, dan wajib memberikan menit bermain. Minimal 5 menit per pertandingan.
Kepala Pelatih Satria Muda Djordje Jovicic dalam keterangan pers di Bandung, 1 Desember lalu menyatakan bahwa aturan tersebut mungkin akan baik bagi liga, tetapi akan kurang baik bagi basket internasional (tim nasional).
Saat publik menantikan atau menerjemahkan liga sebagai kawah candradimuka peningkatan prestasi basket Indonesia, IBL sepertinya lebih mengarahkan liga ke arah industri.
DBL
Kompetisi basket antarpelajar ini menjadi satu-satunya entitas besar olahraga Indonesia yang dengan gamblang menegaskan bahwa mereka lebih mengedepankan industri di atas prestasi.
"Partisipasi adalah income. Prestasi adalah cost. Jika partisipasi terus dikembangkan, maka partisipasi akan membiayai prestasi.”
Kredo tersebut tertulis besar di dalam kantor DBL di Surabaya. Pencetusnya adalah CEO DBL Azrul Ananda.
Konsistensi memegang teguh semangat inilah yang akhirnya membuat DBL menjadi kompetisi basket terbesar di Indonesia. Satu-satunya kompetisi basket di Indonesia yang bisa menggelar pertandingan di Indonesia Arena dan mengukir rekor lebih dari 15.000 penonton dalam satu gim (Final DBL Jakarta 2025, 21 November).
Gemerlap penyelenggaraan DBL uniknya justru memicu dan memacu para pemain dan pelatih di Indonesia untuk bisa mengejar prestasi. Banyak pemain-pemain basket terbaik Indonesia muncul dari kompetisi DBL.
Indonesia Sport Summit 2025
Kami sangat antusias mengikuti kegiatan ini.
Kegiatan inilah yang kemudian memantik pemikiran di kami, “Industri olahraga seharusnya bisa menjadi salah satu strategi nasional dalam meningkatkan ekonomi Indonesia.”
Kami mendengarkan para pembicara kunci. Rasanya tak satupun membahas prestasi. Hampir semuanya membahas industri. Tentang potensi ekonomi olahraga dan kegiatan olahraga di Indonesia. Bagi kami, ini merupakan paparan besar pertama olahraga Indonesia di mana para pembicara sama sekali tidak menyinggung masalah prestasi. Ini tentang industri olahraga.
Setidaknya ada lima pembicara kunci yang bagi kami memberi gambaran jelas betapa industri olahraga Indonesia memang harus segera dibesarkan. Mereka adalah COO Danantara Dony Oskaria, Gubernur DK Jakarta Pramono Anung, Menpar Widiyanti Putri Wardhana, CEO DBL Indonesia Azrul Ananda, dan Menpora Erick Thohir.
COO Danantara Dony Oskaria menjelaskan bahwa dampak ekonomi sebuah kegiatan olahraga bisa diukur dengan tiga cara. Pertama melalui hasil langsung kegiatan tersebut. Untung atau rugi. Kedua melalui nilai ekonomi yang memengaruhi kegiatan-kegiatan di sekitar itu. Ketiga, nilai promosi atau nation branding Indonesia di dunia.
Dony Oskaria menegaskan pentingnya kehadiran negara melalui Kemenpora, Kemenpar, Danantara hingga swasta dalam mengejar keuntungan ini, bahkan merumuskannya menjadi sebuah strategi nasional. Dalam paparan Dony, ia menyoroti tentang kegiatan-kegiatan olahraga kelas dunia yang didatangkan ke Indonesia.