Industri dan Prestasi Olahraga Kita, Sebuah Refleksi di Tahun 2025

Rabu 31-12-2025,20:38 WIB
Oleh: Rosyidan

Oleh karena pernah menyaksikan langsung Chiefs di Arrowhead, kami sedikit-banyak jadi bisa membayangkan bagaimana besarnya industri olahraga (NFL) di Amerika Serikat sana.

Waktu menyaksikan Chiefs di Arrowhead, sekitar 4 jam sebelum pertandingan, kami sudah tiba di sekitar lokasi. Ketika kami mengatakan “sekitar”, itu jaraknya memang masih sekitar 2 kilometer dari arena. Arena-parkiran-jalan tol-pemukiman warga.

Lapangan parkir yang begitu luas, penuh. Berapa luas parkirannya? Luas sekali. Kabarnya, itu adalah arena dengan lapangan parkir terluas di dunia. Area markas Chiefs memiliki luas sekitar 150 hektar. Sebagian besarnya adalah parkiran luas beraspal. Mampu menampung 26.000 mobil. Dan saat kami tiba, parkiran penuh. Sulit sekali mencari parkir. Sepanjang jalan (kiri-kanan) menuju arena juga sudah menjadi parkir liar dan juga penuh. Kami parkir di salah satu rumah warga. Itu pun hampir penuh. Sewa parkirnya puluhan dolar saat itu. Bayar di muka.

Salah satu keunikan yang kami ingat sampai sekarang adalah tidak adanya penjual makanan di luar arena. Tidak ada. Setidaknya tidak ada di dalam jangkauan petualangan kami mengelilingi arena mencari makanan sebelum pintu stadion dibuka. Makanan hanya dijual di dalam arena.

Ada yang unik. Orang-orang Amerika Serikat ini punya tradisi unik. Berjam-jam menunggu di luar arena, mereka membawa makanan, alat masak dan alat makan, tenda, kursi, dan meja sendiri. Selain ribuan mobil, ada ribuan dapur tenda dan tanpa tenda di belakang mobil masing-masing. Tailgating. Tailgating party. Mereka berkumpul, bakar-bakaran (barbeque) di belakang mobil masing-masing.

Masuk ke dalam arena, makanan baru tersedia. Gerai paling ramai bukan makanan. Bir. Bintik-bintik salju memang sudah hadir waktu itu. Pertandingan super dingin.


--

Pengalaman menyaksikan langsung pertandingan Chiefs ini memberikan kami gambaran kasar tentang nilai ekonomi sebuah gelaran olahraga. Khususnya di Amerika Serikat sana. Silakan hitung atau bayangkan sendiri. Datang ke arena, bayar parkir bisa lebih dari 50 dolar per mobil (kapasitas parkir 26.000 mobil). Harga tiket termurah bisa mencapai 100 dolar. Beli makanan dan atau minuman di dalam arena sekitar 20-an dolar per porsi.

Hampir semua penonton yang datang menggunakan pernak-pernik yang melambangkan dukungan kepada Chiefs. Mobil-mobil membawa panji dan bendera Chief. Stiker-stiker, spanduk, syal, kaus, topi, topi, kupluk, dan pastinya jersei tim ada di mana-mana. Jadi masuk akal bila memang nilai ekonominya bisa tembus jutaan hingga miliaran dolar. Bayangkan jika di parkiran ada yang jualan makanan!

Itu baru satu gim. Ada total 272 gim di musim reguler NFL. Belum termasuk playoff dan final (Super Bowl) yang dahsyatnya luar biasa. Itu baru sepakbola amerika alias NFL. Belum termasuk NBA, MLB, NHL, Nascar, F1, hingga MLS yang semakin naik daun.

Setelah menyaksikan Chiefs di Arrowhead Stadium, besoknya kami menyaksikan laga sepakbola amerika lainnya. Kansas Jayhawks versus Texas Longhorns. Bukan NFL, tetapi NCAA. Kompetisi antarkampus atau universitas. Juga ramai sekali. Arenanya lebih kecil di dalam komplek kampus University of Kansas. Tak sebesar NFL, tetapi penonton yang datang pun ribuan.

Setelah mengingat kembali pengalaman menyaksikan langsung Kansas City Chiefs di tahun 2016, menghadiri Indonesia Sport Summit 2025, mengikuti ranah basket Indonesia dengan intensif, dan mengikuti perkembangan cabang-cabang olahraga lainnya di Indonesia, kami rasa, memang sudah saatnya negara ini fokus mengembangkan industri olahraga. Menjadikannya sumber pendapatan negara dan masayarakat yang besar dan terukur. Bila boleh berangan-angan, bahkan bersaing dengan sektor industri manufaktur, perdagangan, keuangan, dan juga pertambangan.

Ayo jadikan pembangunan industri olahraga sebagai salah satu strategi nasional. Kami jadi ingat Korea Selatan yang merancang K-Pop sebagai strategi nasional yang akhirnya sukses. Sukses sebagai industri hiburan, sukses pula sebagai aset ekonomi nasional dan mengangkat nama negara di dunia.

Apabila kita fokus ke industri, bagaimana nasib prestasi olahraga kita?

Kami mendukung bahwa industri harus menjadi prioritas. Tetapi dengan segala upaya, prestasi pun tak boleh seolah menjadi nomor dua.

Mengejar prestasi dan membangun industri, menurut kami adalah dua hal yang berbeda. Ada persilangan atau irisan, tetapi tak sebesar porsi masing-masing. Prestasi adalah masalah disiplin seorang atlet dalam mengembangkan diri. Bentuknya adalah meningkatkan kemampuan melalui latihan, kemudian berlomba atau bertanding. Pada dasarnya ia membutuhkan ilmu pengetahuan yang canggih demi mencapai hasil terbaik. Baik dalam bentuk ilmu teknis olahraganya, kepelatihan, nutrisi, dan beberapa faktor pendukung prestasi lainnya.

Seperti yang kami katakan sebelumnya, SEA Games memberikan pelajaran berharga. Sepakbola industri penyelenggaraannya hingar-bingar. Tetapi tidak mendapatkan medali apapun. Basket putri 3x3 yang tidak punya liga atau kompetisi yang teratur mendapatkan emas.

Kategori :