Lihat pula emas-emas dan medali-medali lain yang diraih cabor-cabor lainnya. Sebagian besar tidak atau belum benar-benar punya industri besar di belakangnya. Prestasi tumbuh tanpa dukungan industri.
Prestasi tanpa industri yang besar di belakangnya memang sangat mungkin tercapai. Misalnya lagi adalah angkat besi. Cabor yang rajin menyumbang medali olimpiade. Atau beberapa cabor yang mendapat emas SEA Games 2025 seperti panahan, wushu, olahraga panjat, dan lain sebagainya. Mereka tak punya industri penyelenggaraan yang mewah atau heboh. Tetapi prestasinya luar biasa.
Atletik memberi 9 emas untuk Indonesia di SEA Games. Sebanyak 2 di antaranya adalah maraton putra dan putri. Bila diteliti lebih dalam, mungkin ada relasi yang kuat antara prestasi tersebut dengan maraknya lomba maraton di dalam setahun di seluruh Indonesia. Prestasi di cabor ini bisa saja terus meningkat. Akan sangat menarik bila kelak melihat ada atlet Indonesia yang berhasil menjadi juara di kejuaraan maraton dunia atau bahkan olimpiade. Seiring berjalan, industri olahraga lari di Indonesia juga semakin meroket.
Industri olahraga pada dasarnya tak perlu pusing-pusing memikirkan prestasi atlet atau pesertanya. Ia harus punya dasar pemikiran (mindset) yang berbeda.
Industri olahraga lebih fokus kepada penyelenggaraan yang sangat baik. Bagaimana caranya mengundang sebanyak mungkin penonton atau pemirsa untuk menyaksikannya. Bahkan ketika kualitas atau prestasi para atletnya tidak hebat-hebat amat.
Industri olahraga berkonsentrasi kepada kepuasan pemirsa yang terkonversi menjadi angka-angka ekonomi. Berakar pada penyelenggaraan yang baik, kemudian disusul pada penularan aktivitas olahraga itu sendiri kepada masyarakat.
Masyarakat yang kemudian mengonsumsi segala hal terkait olahraga tersebut. Mulai dari membeli sepatu, pakaian, dan peralatan olahraga. Menyewa lapangan basket, sepakbola, tenis, padel, kolam renang, dan lain sebagainya. Hingga membayar biaya keikutsertaan event-event massal seperti lomba lari jarak menengan, maraton, bahkan ultra-maraton.
Pada kegiatan-kegiatan besar seperti maraton-maraton besar nasional di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Brobudur, Surabaya, Bali, hingga Lombok, ada lebih banyak lagi faktor-faktor ekonomi terkait yang bisa dihitung. Termasuk tentu saja kegiatan-kegiatan internasional seperti pertandingan sepakbola tim-tim luar negeri di Indonesia, ajang balap motor internasional, dan kejuaraan-kejuaraan dunia lainnya.
Bila akhirnya, melalui Indonesia Sport Summit 2025 lalu Menpora menyadari besarnya potensi industri olahraga Indonesia, maka sepertinya sudah saatnya hal tersebut mendapatkan perhatian yang betul-betul serius. Menghitung potensi nilai ekonominya, mendorong segala bentuk penyelenggaraan, mendukung segala kemudahan, mengatasi segala tantangan, untuk kemudian benar-benar menjadikannya salah satu industri yang bisa diandalkan untuk kontribusi kemajuan Indonesia.
Selamat tahun baru 2026. Maju terus olahraga Indonesia! Industri dan prestasinya.(*)
*Rosyidan, penulis merupakan founder Mainbasket