Viral 'Susu UHT Rekombinasi' di MBG, Kepala BPOM: Yang Penting Aman, Bergizi, dan Bermutu

Rabu 21-01-2026,18:57 WIB
Reporter : Hasyim Ashari
Editor : Fandi Permana

JAKARTA, DISWAY.ID - Belakangan ini, jagat media sosial digegerkan dengan kehadiran susu UHT bermerk 'Susu Sekolah' yang dibagikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pada kemasan susu UHT bertuliskan 'Susu Sekolah' tersebut, netizen menyoroti komposisinya yang menyebut bahwa susu itu rekombinasi.

BACA JUGA:Pembalap MotoGP Toprak Razgatlioglu Mampir ke Indonesia, Sapa Langsung Siswa SMKN 39 Jakarta

BACA JUGA:Soal Pencarian Jurist Tan yang Buron, Kejagung Mulai Frustasi?

Sehingga, banyak yang menilai, susu UHT itu tidak layak dikonsumsi.

Menanggapi kegaduhan tersebut, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) angkat bicara. Ia menegaskan bahwa baik atau buruknya produk susu tidak bisa hanya dilihat dari label rekombinasi semata, melainkan harus merujuk pada standar keamanan pangan yang ketat.

​"Untuk mengukur susu itu baik atau tidak, ada standarnya. Standar pertama adalah keamanan. Apakah susu itu memicu keracunan atau gangguan pencernaan tidak? Itu wajib dipenuhi, baik untuk susu segar maupun olahan," ujar Taruna, saat ditemui di SDN Jati 05 Pagi, Rabu 21 Januari 2026.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa susu rekombinasi—yaitu susu yang diolah kembali dengan menambahkan air, protein, atau zat gizi lainnya tetap memiliki standar kualitas di BPOM.

Isu bahwa susu rekombinasi adalah produk bermutu rendah ditepis dengan menekankan pada aspek nilai gizi.

BACA JUGA:Penampakan Black Box Pesawat ATR 42-500 PK-THT yang Ditemukan di Dasar Jurang Bulusaraung

BACA JUGA:KLH Serahkan Proses Pidana 28 Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera ke Bareskrim

​BPOM memfokuskan pengawasan pada apakah produk tersebut mampu memenuhi target program MBG, yakni mencegah kekurangan nutrisi dan menangani gangguan pertumbuhan atau growth faltering.

​"Bagi kami, apakah itu susu pasteurisasi atau susu segar, tidak masalah selama kandungan gizinya sesuai standar. Kami fokus pada kualitas gizinya. Jangan sampai karena kesalahan kecil dalam pengolahan, manfaatnya jadi hilang," tutur Taruna.

Kategori :