Tabir Gelap Child Grooming, Antara Normalisasi dan Relasi Kuasa

Senin 26-01-2026,08:11 WIB
Reporter : Tim Lipsus
Editor : M. Ichsan

Kini, kondisi psikologisnya perlahan membaik, meski trauma masih membekas.

"Gue kehilangan arah, mental gue hancur, sampai sempat nyakitin diri sendiri," pungkasnya.

Modus Kekerasan Child Grooming Kerap Kali Tak Disadari

Kendati merupakan salah satu bentuk kejahatan yang rentan untuk terjadi, kesadaran atau awareness masyarakat akan bahaya dibalik praktik child grooming justru masih cenderung lemah, dan kerap kali luput terdeteksi sejak dini.

Bukan tanpa alasan. Dilansir dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (ΚΡΑΙ), praktik child grooming sendiri masih kerap luput terdeteksi sejak dini, terutama karena minimnya pengetahuan orang dewasa di sekitar anak mengenai bentuk dan pola kekerasan tersebut.

KPAI menegaskan bahwa child grooming merupakan bagian dari kekerasan seksual terhadap anak yang dapat terjadi tidak hanya melalui interaksi langsung, tetapi juga di ruang digital. 

Tidak hanya itu, KPAI pun juga turut menegaskan bahwa dalam konteks perlindungan anak, tidak ada konsep suka sama suka (consent) dalam relasi yang melibatkan anak, terlebih jika berhadapan dengan orang dewasa. 

Relasi tersebut sejak awal sudah menunjukkan ketimpangan kuasa yang nyata, baik dari segi usia, kematangan kognitif, sosial, emosional, maupun ekonomi.

Kendati begitu, praktik child grooming sendiri tanpa sadar dapat terjadi di berbagai lingkungan, termasuk keluarga, komunitas, dan satuan pendidikan.

Dengan pola pendekatan yang sangat bergantung kepada peran orang dewasa, maka tidak sulit bagi praktik grooming untuk luput dari pengawasan.

Tidak hanya itu, kondisi lingkungan serta bagaimana hal tersebut mempengaruhi psikis sang anak pun juga turut memainkan peran penting dalam hal ini. 

Pasalnya, relasi kekuasaan antara pelaku dewasa dan korban anak seringkali memudahkan manipulasi emosional yang dilakukan secara intens oleh pelaku grooming.

Hal serupa pun juga turut dikatakan oleh Psikolog Forensik, Reni Kusumowardhani. 

Menurutnya, para pelaku Groomer sendiri cenderung memanfaatkan perkembangan anak-anak atau remaja yang belum matang dengan menggunakan taktik manipulatif, yang dapat mempengaruhi sistem saraf anak-anak/remaja.

"Otak anak atau remaja sedang dalam fase perkembangan. Bagian otak yang berfungsi sebagai pengambil keputusan dan menilai risiko belum optimal. Sementara mereka masih dalam tahap menyukai pengalaman-pengalaman yang menantang dan berisiko," tutur Reni ketika dihubungi oleh Disway, pada Rabu 21 Januari 2026

Alhasil, Reni menambahkan, keadaan ini mengakibatkan anak/remaja menjadi sangat rentan terhadap manipulasi emosional.

Kategori :