Tabir Gelap Child Grooming, Antara Normalisasi dan Relasi Kuasa

Senin 26-01-2026,08:11 WIB
Reporter : Tim Lipsus
Editor : M. Ichsan

Pada awalnya, perhatian pelaku terasa seperti dukungan profesional yang luar biasa. Namun, titik balik itu muncul ketika pelaku mulai mencampuri urusan privasi yang tidak ada hubungannya dengan karier.

"Kesadaran itu muncul saat aturan-aturan aneh mulai diberlakukan. Apa yang awalnya terasa seperti 'bimbingan' berubah menjadi kontrol total atas napas dan langkah saya," ungkap Aurelie pada buku The Broken Strings.

2. Narasi "Hanya Aku yang Mengerti Kamu"

Pada buku The Broken Strings, Aurelie Moeremans juga menjelaskan secara detail membongkar topeng predator merupakan penulis skenario yang ulung.

Aurelie menjelaskan bagaimana pelaku membangun dinding tebal antara dirinya dan dunia luar. Pelaku meyakinkan Aurelie bahwa semua orang di industri atau bahkan lingkungan terdekat hanya ingin memanfaatkannya, sementara hanya si pelakulah yang tulus.

"Dia memposisikan diri sebagai pahlawan satu-satunya. Dia membuat saya percaya bahwa tanpa dia, saya bukan siapa-siapa dan dunia luar adalah tempat yang sangat kejam," kata Aurelie pada buku itu.

3. Taktik Isolasi: Memutus Tali Kasih Keluarga

Isolasi adalah senjata utama. Aurelie mengenang bagaimana pelaku secara sistematis menanamkan benih kecurigaan terhadap keluarganya sendiri. 

Pelaku sering menggunakan narasi bahwa orang tua Aurelie kolot dan tidak memahami ambisinya.

"Dia bilang mereka tidak mengerti potensi saya, mereka hanya akan menghambat saya. Akhirnya, saya merasa bahwa dia adalah satu-satunya 'keluarga' yang saya miliki, padahal itu adalah cara dia untuk memastikan tidak ada orang yang bisa menolong saya saat dia mulai beraksi."

4. Jebakan Utang Budi dan Fasilitas

Fasilitas dan kebaikan semu adalah umpan. Dalam proses grooming, pelaku memberikan banyak hal mulai dari koneksi kerja hingga dukungan finansial. Aurelie merasa terjepit dalam rasa utang budi yang luar biasa.

"Setiap kebaikan yang dia berikan ternyata memiliki 'tagihan' di belakangnya. Dia menggunakan semua fasilitas itu untuk berkata, 'Lihat apa yang sudah aku korbankan untukmu.' Hal itu membuat saya merasa sangat berdosa jika mencoba pergi."

5. Normalisasi Hal Tidak Pantas sebagai Sesuatu yang "Spesial"

Inilah bagian yang paling merusak secara psikologis. Pelaku membingkai perilaku menyimpang sebagai rahasia manis antara dua orang yang saling mencintai. Pelaku meyakinkan Aurelie bahwa apa yang mereka lakukan adalah tanda kedewasaan dan bentuk ikatan yang lebih tinggi dari hubungan orang biasa.

"Dia membuat saya merasa dipilih, merasa lebih dewasa dari usia saya. Dia membungkus pelecehan itu dengan kata-kata indah hingga saya tidak menyadari bahwa itu adalah kejahatan."

Kategori :