Tabir Gelap Child Grooming, Antara Normalisasi dan Relasi Kuasa

Senin 26-01-2026,08:11 WIB
Reporter : Tim Lipsus
Editor : M. Ichsan

Korban Child Grooming Ungkap Luka Psikis hingga Terjerat Utang

Kasus child grooming masih menjadi ancaman serius bagi anak dan remaja di Indonesia. Modusnya kian beragam, mulai dari pendekatan emosional, manipulasi cinta, hingga relasi kuasa yang berujung pada kekerasan fisik, seksual, dan tekanan ekonomi.

Dua korban, sebut saja Nurul dan Sintia, membeberkan pengalaman pahit mereka yang meninggalkan luka mendalam hingga kini.

Nurul mengisahkan awal perkenalannya dengan sang mantan bermula dari lingkar pertemanan.

Saat itu, ia tengah berada dalam kondisi rapuh karena hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Kehadiran sang mantan yang selalu ada di sisinya membuat Nurul merasa mendapatkan perhatian dan dukungan emosional.

"Awalnya gift kecil-kecil, perhatian, dan semua terasa aman karena tidak ada paksaan. Tapi perlahan aku terjebak," ujar Nurul ketika dihubungi disway.id pada Kamis, 22 Januari 2026.

Hubungan yang berlangsung selama empat tahun itu berubah menjadi toksik. Nurul mengaku mengalami tekanan verbal dan fisik, pembatasan pergaulan, hingga ketergantungan emosional. Setelah berpisah, ia baru menyadari dampak besar yang ditinggalkan.

"Setelah lepas, aku baru ngerasa bebas. Selama empat tahun aku bahkan nggak bisa main sama beberapa teman lamaku," katanya.

Tak hanya luka psikis, Nurul juga harus menanggung beban ekonomi akibat jeratan pinjaman online (pinjol).

Ia menyebut pinjaman belasan juta rupiah yang awalnya disepakati bersama justru berujung ditinggalkan sepihak oleh mantan pasangannya.

"Dia resign tanpa sepengetahuanku dan ninggalin cicilan ke aku. Sampai sekarang aku masih nanggung utang sekitar Rp4 juta," ungkap Nurul.

Pengalaman serupa, bahkan lebih ekstrem, dialami oleh Sintia. Ia mengaku menjadi korban child grooming sejak duduk di bangku SMP.

Saat itu, pelaku merupakan kakak kelas yang lebih tua dan memanfaatkan posisinya untuk membangun kepercayaan.

"Dia ngomong manis, semua yang aku minta dikasih. Tapi di balik itu, aku dipaksa melakukan hal-hal yang belum pantas aku lakukan," tutur Sintia ketika dihubungi disway.id di Jakarta pada Kamis, 22 Januari 2026.

Setiap penolakan dibalas dengan kemarahan dan kekerasan fisik. Trauma berat membuat Sintia harus menjalani pendampingan psikolog.

Bahkan, ia mengaku harus meninggalkan hubungan tersebut dalam kondisi mengandung.

Kategori :