Media, Narasi, dan Politik Kebenaran

Selasa 27-01-2026,18:35 WIB
Oleh: Muhammad Burhanuddin

JAKARTA, DISWAY.ID – Yang mengatur manusia bukan hanya hukum, tetapi narasi. Kalimat ini terasa sederhana, namun sesungguhnya menyentuh inti paling halus dari cara kekuasaan bekerja di zaman modern.

Kita sering mengira bahwa kehidupan sosial dan politik ditata oleh undang-undang, konstitusi, dan aparat penegak hukum.

BACA JUGA:Kepala Kantor SAR Biak Ungkap Kronologi Kecelakaan Pesawat Smart Cakrawala PK-SNS

BACA JUGA:Tak Sekadar Medali, Ini Makna Besar Prestasi Indonesia di ASEAN Para Games 2025

Padahal, sebelum hukum ditaati, ada sesuatu yang lebih dulu bekerja: cara kita memahami dunia.

Di situlah narasi berperan.

Narasi adalah cerita yang membingkai realitas.

Ia menentukan apa yang dianggap normal, apa yang dianggap berbahaya, siapa yang disebut pahlawan, dan siapa yang dilabeli ancaman.

Dalam kehidupan sehari-hari, narasi hadir melalui media: berita, tajuk rencana, potongan video, meme, hingga obrolan yang berulang di linimasa.

Media juga punya agenda, pihak non media pun begitu.

Ketika sesuatu terus-menerus diletakkan di depan mata kita, otak pelan-pelan menerimanya sebagai kebenaran.

Bukan karena ia paling objektif, melainkan karena ia paling sering hadir dan media punya kuasa untuk itu, siapapun di baliknya.

BACA JUGA:Tunjangan DPR Kembali Jadi Perbincangan, Habiburokhman Klarifikasi Pernyataan Adies Kadir

Di sinilah politik narasi bekerja. Politik tidak selalu berlangsung di ruang parlemen atau saat pemilu.

Ia juga terjadi di ruang wacana—dalam cara suatu peristiwa diberi judul, dipilih sudut pandangnya, dan diulang tanpa henti.

Kategori :