JAKARTA, DISWAY.ID - Perguruan tinggi sering dinilai dari gedungnya, peringkatnya, atau jumlah publikasinya. Namun sejarah menunjukkan bahwa kampus yang benar-benar berpengaruh bukan hanya yang besar secara administratif, melainkan yang jernih secara arah.
Dalam konteks inilah Pra Rapat Kerja Pimpinan (Pra-Rakerpim) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2–3 Februari 2025, perlu dibaca bukan sebagai agenda internal, melainkan sebagai upaya merumuskan masa depan institusi pendidikan Islam di tengah perubahan global yang semakin cepat dan kompleks.
Dunia pendidikan tinggi sedang berada pada fase transisi besar. Perubahan iklim menuntut redefinisi keberlanjutan. Digitalisasi memaksa birokrasi menjadi lebih lincah.
Kompetisi global menekan kampus untuk berlari lebih cepat, sementara publik menuntut dampak yang lebih nyata. Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan perguruan tinggi tidak cukup mengelola rutinitas; ia dituntut membaca arah zaman.
BACA JUGA:Real Madrid Siapkan Skema Gila: Datangkan Bruno Fernandes, Jual Jude Bellingham?
Pra-Rakerpim adalah ruang awal untuk memastikan bahwa arah itu tidak kabur. Ia menjadi titik temu antara visi normatif, realitas kelembagaan, dan tuntutan masa depan. Pertanyaannya bukan lagi “apa program kita?”, tetapi “ke mana institusi ini hendak dibawa, dan nilai apa yang akan menjadi penuntunnya?”
Enam Pilar, Satu Arah Transformasi
Enam komisi yang dibahas dalam Pra-Rakerpim sesungguhnya bukan sekadar daftar teknokratis atau pembagian kerja administratif.
Ia adalah peta perubahan institusional—cara UIN Jakarta membaca tantangan zaman sekaligus menyiapkan lompatan strategis ke depan.
Masing-masing pilar memiliki fokus berbeda, tetapi semuanya diarahkan pada satu tujuan: transformasi kampus yang berkelanjutan, berdaya saing, dan berakar pada nilai.
Pertama, Green Campus. Isu lingkungan tidak lagi bisa diperlakukan sebagai proyek tambahan atau simbol kepedulian sesaat.
Laporan UN Environment Programme (2023) menegaskan bahwa institusi pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam mengubah pola konsumsi dan produksi melalui keteladanan kelembagaan.
Kampus yang serius pada keberlanjutan tidak berhenti pada pengurangan emisi atau penanaman pohon, tetapi membentuk kesadaran ekologis sivitas akademika melalui kebijakan, kurikulum, dan praktik keseharian.
BACA JUGA:Tabel KUR BRI 2026 Pinjaman Rp10 Juta dan Cara Pencairan, Ambil Modal Usaha Tenor 60 Bulan!
BACA JUGA:4 Pejabat OJK Mundur, Friderica Ungkap Strategi Besar Selamatkan Pasar Modal