Seiring meningkatnya interaksi dengan pembeli, Junita banyak menerima masukan. Keluhan konsumen menjadi insight penting untuk pengembangan produk.
Dari yang awalnya hanya sekitar lima SKU, kini Glarandi memiliki lebih dari 100 SKU, mencakup minuman herbal, teh celup, hingga produk makanan sehat seperti peanut butter dan almond butter.
Meski kerap disebut "teh", sebagian besar produk Glaranadi sebenarnya bukan berbahan daun teh. Isinya herbal seperti chamomile, spearmint, lavender, hingga rimpang.
Istilah teh digunakan karena cara konsumsi yang serupa: diseduh atau dicelup. Praktis dan mudah digunakan. Namun Glaranadi juga menyediakan teh hijau, teh hitam, dan teh putih untuk konsumen tertentu.
BACA JUGA:Hadiri Peluncuran 8 Buku Yusril Ihza Mahendra, Wapres Apresiasi Pengabdian Lintas RezimKepercayaan menjadi tantangan tersendiri, mengingat Glaranadi bergerak di sektor kesehatan. Di awal, Junita mengakui sempat kewalahan ketika ditanya soal sertifikasi.
Ia lalu mengurus P-IRT, yang hingga kini masih digunakan. Tahun ini, ia menargetkan pengurusan BPOM, dimulai dari produk-produk unggulan.
Beberapa produk andalan Glarandi lahir dari kebutuhan nyata konsumen. Untuk masalah jerawat hormonal, misalnya, Junita mengembangkan produk pure maca, yang diminum pagi atau siang hari untuk membantu menyeimbangkan hormon dan mengurangi peradangan.
Untuk malam hari, ia merekomendasikan spearmint, yang lebih menenangkan dan membantu tidur. Ada pula formulasi Aknenot, yang ditujukan untuk membantu detoksifikasi liver dan menekan produksi sebum berlebih dari dalam tubuh.
Untuk gangguan tidur dan kecemasan, Glaranadi memiliki beberapa varian, mulai dari chamomile yang aman untuk anak-anak hingga dewasa, hingga produk dengan valerian yang lebih kuat--meski tidak disarankan untuk lansia.
Setiap produk disertai penjelasan detail, baik di deskripsi maupun melalui layanan chat, yang menjadi ciri khas Glarandi.
"Orang Indonesia itu banyak yang lebih suka tanya langsung," kata Junita.
Tak heran, performa chat tokonya mencapai 93 persen. Dari percakapan itulah, pola kebutuhan konsumen terbaca.
Mulai dari insomnia karena kecemasan, jerawat akibat hormon tidak seimbang, hingga keluhan liver dan batu empedu yang dicari solusi alternatifnya.
Kini, Glaranadi dikelola oleh tujuh orang tim, termasuk empat orang produksi dan pengemasan, serta staf administrasi dan desain visual yang bekerja dari rumah.
Penjualannya menjangkau seluruh Indonesia, bahkan merambah Singapura dan Malaysia, dengan pengiriman luar negeri yang terus meningkat.
Dalam sebulan, omzet kotor Glarandi menxapai angka ratusan juta, dengan lonjakan penjualan biasanya terjadi saat momen twin date, promo marketplace, dan menjelang Lebaran.