Makna Logo dan Tema Hari Pers Nasional 2026, Intip Juga Sejarah Berdirinya!

Minggu 08-02-2026,10:00 WIB
Reporter : Rury Pramesti
Editor : Rury Pramesti

Kehadiran Si Juhan di HPN 2026 di Banten menegaskan tema "Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat" merepresentasikan semangat pers Indonesia yang jujur, bersahaja, berintegritas dan berakar kuat pada nilai-nilai budaya Banten.

Untuk selengkapnya, berikut adalah filosofi dari maskot Hari Pers Nasional 2026:

  • Ekspresi ceria dan mata yang ekspresif: Menggambarkan karakter pers yang terbuka, mudah didekati, dan dekat dengan masyarakat.
  • Ikat kepala (lomar): Melambangkan penghormatan pada tradisi dan leluhur, serta integritas moral yang kokoh dan tak tergoyahkan.
  • Tangan melambai: Sebagai simbol ramah, inklusif, dan menyambut ribuan insan pers yang akan hadir ke Banten.
  • Kartu pers di tas: Simbol identitas, otoritas, dan profesionalisme.
  • Pena dan buku catatan: Mencatat fakta, menghimpun suara masyarakat, serta merekam dinamika zaman.
  • Pangsi hitam: Kesederhanaan, kejujuran dan kerendahan hati
  • Tas koja: Metafora ruang penghimpun informasi dan aspirasi publik yang menjunjung keberlanjutan dan keseimbangan. 

BACA JUGA:Banten Tuan Rumah Hari Pers Nasional 2026, Cek Jadwal Lengkap Agendanya

Sejarah Hari Pers Nasional

HPN sudah lama diperingati oleh bangsa Indonesia sejak era Orde Baru.

Sedangkan, jejaknya sudah lama terbentuk dari era kolonial Hindia Belanda.

Walau penerbitan surat kabar kala itu mendapat tekanan dari pemerintah VOC, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff, surat kabar Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementen berhasil terbit pada 7 Agustus 1744.

Inilah yang menjadi cikal bakal perkembangan media di Nusantara, disusul oleh Javasche Courant tahun 1829 yang rutin merilis pengumuman dan kebijakan resmi pemerintah kolonial.

Titik balik penting terjadi di tahun 1907, di mana kala itu Medan Prijaji yang diterbitkan oleh Tirto Adhi Sorjo rilis di Bandung.

BACA JUGA:Tema dan Makna Logo Hari Sumpah Pemuda 2025, Peringatan ke-97 Tahun

Koran tersebut dipandang sebagai pelopor pers nasional karena berasal dari inisiatif dan kepemilikan pribumi.

Selama masa kependudukan Jepang tahun 1942, pers dijadikan sebagai alat propagand dengan menerbitkan setidaknya lima surat kabar regional, mulai dari Sumatra Shinbun, Jawa Shinbun dan Celebes Shinbun.

Dalam periode tersebut, terbentuklah sebuah lembaga-lembaga penting yang menjadi fondasi ekosistem pers Indonesia, di antaranya LKBN Antara 13 Desember 1937, Radio Republik Indonesia atau RRI 11 September 1945 dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang berdiri tahun 1946.

PWI ini yang kelak menjalankan peran penting dalam memperjuangkan eksistensi pers nasional.

Walau Indonesia telah merdeka, kebebasan pers tak serta-merta terwujud.

Apalagi di masa Orde Lama dan Orde Baru, media mengalami pembatasan yang cukup ketat.

Akan tetapi, semangat para jurnalis tetap gigih dan terus memperjuangkan hak mereka dalam menyuarakan kebenaran dan menyampaikan informasi pada publik.

Kategori :