AI hingga Satelit Orbit Rendah, Rizal Mallarangeng Bicara Masa Depan Telekomunikasi
Komisaris PT Telkom Indonesia, Rizal Mallarangeng, sebut perkembangan AI makin pesat dalam dunia telekomunikasi-Disway.id/Rivansky Pangau-
DENPASAR, DISWAY.ID — Perubahan teknologi dalam satu dekade terakhir dinilai telah menggeser fondasi industri telekomunikasi global, termasuk di Indonesia.
Komisaris PT Telkom Indonesia, Rizal Mallarangeng, menyebut gelombang teknologi baru ke depan berpotensi mengubah cara masyarakat berkomunikasi secara lebih drastis dibandingkan era sebelumnya.
BACA JUGA:Dari Kemasan ke Efisiensi: Strategi Sustainability ALVAboard untuk Industri
BACA JUGA:4 Jurusan Kuliah yang Lulusnya Paling Lama, Ini Daftar dan Alasannya
Dalam lima tahun terakhir saja, dunia telah menyaksikan lompatan besar dari ponsel konvensional menuju smartphone, disusul dominasi aplikasi digital yang mengubah pola komunikasi global.
“Perubahannya sangat cepat. Dari ponsel sederhana, lalu smartphone, kemudian aplikasi-aplikasi komunikasi yang sekarang benar-benar mendefinisikan ulang cara orang berinteraksi,” ujar Rizal saat Media Gathering bertajuk “TLKM 30: Menyatukan Teknologi, Konten, dan Distribusi untuk Pertumbuhan Bersama” di Denpasar, Jumat, 6 Februari 2026.
Menurut Rizal, Telkom membaca perubahan tersebut sebagai sinyal bahwa adaptasi setengah-setengah tidak lagi relevan. Pergeseran dari jaringan kabel tembaga ke serat optik hingga peluncuran layanan IndiHome disebutnya sebagai keputusan strategis yang bersifat fundamental.
“Ini bukan sekadar investasi besar. Ini lompatan teknologi. Kalau tidak ikut berubah, kita tertinggal,” tegasnya.
BACA JUGA:Siswa SMK Disiram Air Keras Pelajar Bonceng Tiga, Sempat Mampir ke Warung Dulu!
Ia membandingkan dinamika telekomunikasi dengan sektor lain seperti kelistrikan yang relatif stabil selama puluhan tahun. Sebaliknya, dunia komunikasi justru terus bergerak cepat mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Perubahan itu, kata Rizal, berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia mengingatkan bahwa tiga dekade lalu pendapatan per kapita Indonesia masih berada di kisaran 1.500 dolar AS. Kini, angka tersebut melonjak signifikan, mendorong mobilitas masyarakat dan meningkatnya ketergantungan pada layanan digital.
“Ketika ekonomi tumbuh, orang lebih sering bepergian, membeli tiket, memesan layanan. Teknologi menjadi pengungkitnya,” ujarnya, sembari mencontohkan bagaimana perusahaan swasta seperti Lion Air mampu tumbuh pesat dengan memanfaatkan momentum ekonomi dan teknologi.
Namun, tantangan terbesar justru ada di depan. Rizal menegaskan bahwa dalam 10 tahun mendatang, teknologi baru berpotensi mengubah model bisnis telekomunikasi secara menyeluruh. Jika selama ini industri bergantung pada BTS, ke depan komunikasi berpeluang langsung terhubung dari ponsel ke satelit orbit rendah.
“Sekarang kita masih mengandalkan BTS. Tapi ribuan satelit orbit rendah sedang dikembangkan. Kalau itu matang, komunikasi bisa langsung ponsel ke satelit. Model bisnisnya bisa berubah total,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: