Gotong royong dan konsep saling menolong di mana tidak terdapat majikan dan pegawai, menjadi daya tarik tersendiri dari gerakan ini terutama anak-anak gen Z yang masih memiliki semangat untuk membentuk dunia nya sendiri selain mempunyai karakteristik yang berbeda dengan konsep pekerja kantoran pada umumnya.
Koperasi yang saat ini berjumlah kurang lebih 300 ribuan unit dan tersebar lebih banyak di pulau Jawa terutama di Jawa Timur.
Baru-baru ini saya mengikuti perjalanan lebih dari 35 pengusaha muda berumur rata-rata 25 – 35 tahun ke kota Shenzhen dan Guangzhou bersama Sands Bossum dan Business Leader Sandiaga Uno.
Dari ke 35 pebisnis muda tersebut, banyak harapan dan kerjasama bisnis serta pembelajaran dari berbagai industri kelas dunia dari Cina seperti Huawei, Mindray, pembuat mobil listrik BYD dan industri kosmetik Tian Wu.
Kegigihan, keberanian dan dukungan dari pemerintah dalam mengembangkan usaha industri dalam negeri dan menjadi tuan di negeri sendiri terasa di dalam presentasi yang mereka berikan.
Di kompleks Huawei, saya melihat bagaimana Huawei menghadirkan mindset bahwa Cina tidak kalah dengan Eropa dengan menghadirkan teknologi kelas dunia dan gedung-gedung serta suasana seperti di negara German, Swiss, Prancis, Inggris dan Eropa.
Pembuatan teknologi smartphone kelas dunia Huawei yang high-tech dan sangat rapi di bangun sejak tahun 1987an.
Salah satu yang menarik adalah kunjungan ke Huawei di mana kepemilikan saham dimiliki owner hanya 0.6% dari keseluruhan saham yang ada dan sisa nya dimiliki oleh pegawai - mirip dengan gerakan koperasi.
BACA JUGA:Ramadan Makin Hangat, Nutella Siapkan Jar Edisi Spesial dan Hadiah THR Gift Set
BACA JUGA:Panduan Cara Tukar Uang Baru 2026 Lewat Pintar BI Lengkap Jadwalnya, Siapkan THR!
Saya melihat bahwa hal ini, dapat menjadi pembelajaran besar bagaimana suatu bisnis dibangun dengan asas kebersamaan dan mampu bertahan di tengah tunjangan global dan pasar yang sering menyerang mereka terutama dari pihak Amerika Serikat.
Koperasi sebagai sokoguru ekonomi Indonesia, bisa belajar banyak dari perjalanan ini. Anak-anak muda yang masih “green fields” atau belum tersentuh dengan gerakan koperasi dapat dirangkul dan diberikan fasilitas pembiayaan yang menarik.
Salah satu yang menarik adalah pembiayaan dari LPDB Koperasi (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) Koperasi. Dengan rate yang menarik sebesar 6,5% untuk bisnis konvensional non – shariah dan 3.5% untuk bisnis syariah tanpa biaya provisi dan administrasi tentu amat menarik bagi mereka.
Dari ke 35 pengusaha muda tersebut, banyak dari mereka yang berminat untuk bergabung ke Koperasi. Bayangkan jika mereka bisa bergabung dan sama-sama membangun Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih.