Tarim Duduk

Tarim Duduk

Masjid kuno dengan menara tanah di Tarim yang masuk cagar UNESCO (kanan). Sementara di sisi kiri merupakan pemandangan kampung tua di Tarim dengan gang-gang berliku dan bangunan dengan tembok dari tanah.--

Menu makan malam di rumah warga kampung Aidid itu campuran: Indonesia-Arab.

"Hadza kerupuk," ujar tuan rumah menyodorkan satu kantong plastik. "Wa hadza blinjo," tambahnya.

Beberapa kosa kata Indonesia memang sudah menjadi bahasa Arab di Tarim. Ada 6.000 mahasiswa Indonesia di Yaman. Yang di Tarim saja 3.000 orang.

"Sarung" juga sudah jadi kosa kata Arab di sana. Demikian juga "almari", "sandal", "kacamata". Kalau "kursi" memang asalnya dari bahasa Arab yang sudah jadi bahasa Indonesia.

"Apa saja yang ada di Indonesia bisa didapat di Tarim. Tempe pun sudah ada yang membuat di sini".

Makan malam itu lima orang: tuan rumah, satu guru asal Mesir, teman si Mesir, satu mahasiswa asal Banjarmasin dan satu cucu tuan rumah yang masih berumur 11 tahun.

Si cucu rajin sekali. Penuh inisiatif. Tanpa ada yang menyuruh. Pun tidak perlu ada kedipanmata tertuju kepadanya. Ia lakukan semuanya secara otomatis. Ia yang mengucurkan air dari teko: untuk cuci tangan kami sebelum makan. Ia yang mengucurkan air teko untuk cuci tangan setelah makan. Ia yang ambilkan air minum. Ia yang memindahkan piring seusai makan.

"Anda yang melakukan semua ini. Apakah karena merasa Andalah yang paling muda di antara kami?" tanya saya kepada si 11 tahun.

Ia hanya tersenyum. Kakeknya yang menjelaskan: itu sudah menjadi adab kami di sini. Itu bagian dari ajaran di dalam keluarga. Bahwa yang paling muda melayani yang lebih tua.

Anak harus mengabdi pada orang tua. Murid menghormati guru. Bakti kepada ibu bagian dari turunnya ridho. Menyakiti hati ibu bagian dari akan datangnya musibah dan kesialan.

Rupanya adab inilah yang menjadi daya tarik utama Tarim. Para mahasiswa Indonesia mengakui itu. Itulah yang membuat mereka kuliah di Tarim.

"Di sinilah satunya kata dan perbuatan bisa dirasakan", ujar salah seorang mahasiswa Indonesia.

"Soal ilmu, pasti di pesantren Indonesia banyak yang lebih bagus. Soal ekonomi apa lagi. Apa yang bisa diharap dari Tarim. Tidak ada," ujar yang lain. "Di sini kami mendapatkan teladan sempurna dari guru-guru kami," tambah yang lain lagi.

Saya memang bertemu dengan para pengurus PPI di Tarim. Makan malam bersama. Bahkan di hari lain saya diundang ke forum mahasiswa Indonesia yang lebih besar.

Mahasiswa itu bercerita tentang yang terjadi di satu pengajian. Anak kecil membagikan selebaran kertas berisi doa. Ia menerima selebaran itu dengan tangan kiri. Anak kecil itu menarik kembali selebaran itu dari tangannya. Lalu menunjuk tangan kanannya.

Demikian juga soal siwak. Para guru selalu menggosok gigi dengan potongan kayu siwak. Setiap saat. Pun di depan kelas. Suatu saat guru mengajarkan ilmu tentang keutamaan siwak.

Keesokan harinya sang guru bertanya kepada murid: siapa yang hari itu sudah mengantongi siwak di saku. Ketika mendapatkan belum ada murid yang membawa siwak, pelajaran tidak dilanjutkan. "Untuk apa sudah belajar keutamaan siwak tapi kalian tidak menerapkan ilmu itu," kata sang guru.

Saya pun ingat kejadian memalukan siang sebelumnya. Saya ziarah ke masjid tua di Tarim. Umurnya ratusan tahun. Masjid Mehdar (Al-Muhdhar). Menaranya pun terbuat dari tanah. Kuat sekali.

Di dalam masjid itu ada layanan minum air dari kran. Gratis. Dua kran. Satu kran berisi air minum buatan pabrik. Satu lagi kran air tanah dari bawah masjid –dengan banyak khasiat dan berkah bagi yang memercayainya

Saya minum yang dari air tanah. Minum di dekat kran. Sambil tetap berdiri. Teman saya, orang Tarim, juga mengambil gelas aluminium untuk kran air tanah. Lalu duduk. Baru minum.

Saya pun merasa ditegur secara tidak langsung: kok tidak minum sambil duduk.

"Kenapa Anda tadi tidak menegur saya ketika melihat saya minum sambil berdiri?"

Ia menjawab dengan cerita di zaman Nabi. Suatu saat, Hasan dan Husain, cucu Nabi, melihat orang berwudu dengan cara yang salah. Hasan mengajak Husain untuk menegur orang itu. Husain mencegah. "Lebih baik kita berwudu dengan cara yang benar di sebelah orang itu," jawab Husain seperti yang ditirukan teman Tarim saya.

Tarim sangat religius.

Ajaran soal tangan kanan, minum sambil duduk, pakai siwak, dan sebangsa itu begitu dalamnya dihayati.

Saya membayangkan bagaimana hebatnya agama ini kalau penghayatan atas larangan mencuri juga diterapkan sampai sedalam itu. Khususnya soal mencuri uang rakyat.

Kenapa di Indonesia soal tangan kanan, siwak dan minum sambil duduk dianggap lebih perlu dihayati dari pada yang satu itu. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 13 Februari 2026: Tarim Bayi

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

TIDAK ADA SHOLAT JUMAT DI DALAM PONDOK.. Saat membaca CHD hari ini.. Saya terpaku pada satu hal kecil. Tidak ada salat Jumat di pondok sendiri. Semua melebur di masjid umum. Pesan yang halus. Ilmu boleh tinggi. Jamaah tetap satu. Tidak eksklusif. Tidak bikin “cluster elite”. Lalu saya membayangkan antrean itu. Bayi. Balita. Botol air. Serban. Mahasiswa setor hafalan. Semua sabar. Tidak ada yang menyelak. Tidak ada panitia teriak, “Yang belum daftar online silakan mundur.” Tertib. Hening. Mengalir. Dua jam melayani. Senyum tidak lepas. Itu stamina ruhani. Bukan sekadar fisik. Di negeri panas dan berdebu, yang terasa justru kesejukan. Bahkan rumah tanah pun bisa mengalahkan pendingin ruangan. Sederhana tapi cerdas. Tradisional tapi fungsional. Saya juga membayangkan nasi briyani yang dimakan melingkar. Satu nampan berempat. Tidak ada plating cantik. Tidak ada foto dulu untuk media sosial. Langsung makan. Langsung akrab. Tarim seperti memberi sindiran halus. Bahwa kemuliaan tidak perlu panggung besar. Tidak perlu protokol berlapis. Cukup duduk di sofa lantai. Buka pintu. Layani siapa saja. Kadang yang membuat orang besar bukan jaraknya dari rakyat. Tapi kedekatannya dengan bayi yang sedang menangis. Dan botol air yang tutupnya sudah dibuka..

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

ILMU, KIPAS ANGIN, DAN WAKTU YANG PANJANG.. Yang paling terasa bagi saya justru ritmenya. Semua berjalan pelan. Kipas angin berputar lambat. Khotbah panjang. Doa dua jam. Tidak ada yang tergesa. Seolah waktu di Tarim tidak dikejar, tapi diajak duduk bersama. Di tempat kita, lima menit saja terasa lama. Di sana, setengah jam khotbah dianggap biasa. Dua jam melayani tamu dianggap rutinitas. Barangkali di situlah letak bedanya. Mereka tidak menghitung waktu sebagai biaya. Tapi sebagai berkah. Saya juga menangkap disiplin sosial yang sunyi. Seribu orang di masjid. Seratus orang di rumah. Antre bayi. Antre air. Antre serban. Semua tertib tanpa pagar pembatas. Tanpa nomor antrean digital. Tanpa satpam bersiul. Dan menariknya, yang hadir bukan hanya orang tua. Ada mahasiswa Indonesia. Setor hafalan. Diuji langsung. Tradisi bertemu generasi. Tidak lewat webinar. Tidak lewat podcast. Tarim seperti laboratorium sunyi. Menguji kesabaran. Menguji ketulusan. Menguji apakah kita masih sanggup duduk lama tanpa merasa rugi. Kadang peradaban tidak diukur dari gedung tinggi. Tapi dari seberapa lama seseorang mau melayani, sambil tetap tersenyum, di bawah kipas angin yang berputar pelan.

alasroban

Saya mulai sering mendengar kata "Tarim" sejak COVID-19. Waktu itu kami menjalani WFH dan banyak orang harus karantina mandiri. WFH itu terlihat menyenangkan, tapi sebenarnya tidak juga. Orang-orang rumah kadang lupa kita sedang jam kerja. Tiba-tiba dipanggil untuk membantu ini dan itu. Di puncak pagebluknya, sekitar pertengahan 2021, Suasana terasa sangat berbeda. TOA masjid tak henti-hentinya mengumandangkan pengumuman kematian. Sehari bisa tiga sampai lima kali. Melalui TOA itu pula, setiap selesai adzan, terdengar anak-anak melantunkan sholawat atau puji-pujian. Salah satunya berbunyi: "Ya Tarim, Ya Tarim......" Ya Tarim Ya Tarim Syai' lillah Syai'lillah Baldatun al-auliya Syai' lillah Syai'lillah Bijahi Ba 'Alawi Syai' lillah Syai' lillah Habibunal karim Syai'lillah Syai' lillah Saqqofuna waliyyun Syai' lillah Syai' lillah Al-Muhdlor wal 'Alaydrus Syai' lillah Syai'lillah Al-Haddad wal Áththos Syai' lillah Syai'lillah Wa Jamiíl wali Syai' lillah Syai' lillah Wa hum dzurriyyatun-nabi Syai' lillah Syai' lillah Bijahin-Nabi Syai' lillah Syai' lillah Bijahi syaikhona Syai' lillah Syai' lillah Terimakasih pak DI sudah berkunjung dan menggambarken kota Tarim. Tadinya masih kurang ngeh seperti apa gerangan kota Tarim.

mario handoko

selamat siang bp thamrin, bp agus, bp jokosp, bp udin, bp em ha, bp ikhwan, bp jz dan teman2 rusuhwan. "indeks korupsi ri merosot.' demikian berita di kompas.com. indeks persepsi korupsi. yg dilansir TII. menunjukkan peringkat indonesia turun dari 99 ke 109, di antara 180 negara lainnya. skor indonesia sama dengan nepal, sierra leone. dan tragisnya, adik kandung kita, timor leste. selain paspor lebih kuat, indeks persepsi korupsi pun lebih baik. ia berada di peringkat 73. tdk tahu juga. mengapa peringkat indeks persepsi korupsi ini tdk pernah dijadikan bahan pidato pak pleciden. yang disampaikan dan dibanggakan justru indeks kebahagiaan.

elingan mengenai per-korupsi-an "老虎和苍蝇"运动 ("Lǎohǔ hé cāngyíng" yùndòng) ---> Kampanye "Harimau dan Lalat" Kebijakan Anti-Korupsi Pemerintah Tiongkok di bawah kepemimpinan Presiden Xí Jìnpíng dengan Kampanye "Harimau dan Lalat" (memerangi harimau dan lalat bersama-sama) yang merupakan kebijakan anti-korupsi menyeluruh terhadap pejabat korup tingkat tinggi (harimau) dan pejabat korup tingkat akar rumput (lalat). Sepertinya Presiden Xí Jìnpíng itu waktu kecil dulu, hobby-nya membaca cerita silat..... Wong ada di cerita silat koq..... itu jagoan kungfu lagi makan, tiba-tiba ada lalat, dan dengan gerakan kungfu secepat kilat..... itu lalat ditangkap dengan sumpit makannya..... Sedangkan, mengenai harimau, juga ada cerita silatnya..... seorang jagoan kungfu ketika menjelajahi pegunungan, tiba-tiba diserang seekor harimau, dalam pertarungan yang sengit, harimau akhirnya tewas oleh tangan kosong sang jagoan kungfu. Oleh karena itu, Kampanye "Harimau dan Lalat"nya Presiden Xí Jìnpíng untuk memberantas korupsi..... tidak asing bagi rakyat Tiongkok, lha wong cerita "harimau" dan "lalat" itu sudah turun temurun koq..... Setiap bangsa punya ceritanya tersendiri..... cerita yang mungkin saja hanya mitos, tetapi akan lebih mengena untuk tujuan-tujuan tertentu..... Meski Tiongkok masih teramat jauh untuk dibandingkan dengan Denmark, tetapi upaya yang dilakukan Pemerintah Tiongkok sejauh ini layak untuk diapresiasi

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

HUMOR SEJARAH, TAPI SERIUS: KIM JONG UN SUDAH MENETAPKAN CALON PENGGANTINYA.. Di negeri yang bahkan angin pun harus izin partai, suksesi bukan perkara survei. Kim Jong Un disebut telah menunjuk putrinya, Kim Ju Ae, sebagai calon penerus. Informasi ini datang dari parlemen Korea Selatan, usai menerima paparan intelijen Seoul. Jadi bukan gosip warung kopi. Foto-foto terbaru memperkuat kesan itu. Kim Ju Ae tampil bersama ayahnya di Istana Matahari Kumsusan. Tempat persemayaman Kim Il Sung dan Kim Jong Il. Simbolnya jelas: Garis darah. Garis takdir. Atau minimal garis partai. Sejak 2022 ia sudah diperkenalkan ke publik. Saat menemani peluncuran rudal balistik antar benua. Anak lain mungkin diajak ke kebun binatang. Ini diajak ke panggung nuklir. Kurikulumnya beda. Akhir Februari, Partai Pekerja akan kongres. Dunia menunggu arah kebijakan luar negeri, perang, dan ambisi nuklir lima tahun ke depan. Seoul memantau. Dunia menahan napas. Di Korea Utara, demokrasi mungkin sunyi. Tapi regenerasi, ternyata, sangat terencana. Bahkan sebelum anaknya cukup umur untuk ikut pemilu—yang memang tidak ada. Humor sejarah kadang tipis. Tapi selalu serius.

Udin Salemo

pasar Rawabening pusat batu akik/ ada pembeli datang dari Majalaya bli leong Putu memang orang baik/ kudoakan ekonomi makin berjaya/

Leong Putu

Pelawak legenda bernama Asmuni/ Sungguh ikonik dengan kumisnya/ Sungguh bangga dapat lungusran Redmi/ Semoga Bang Udin yg jadi pemiliknya/ .... #Redmi

Liam Then

Papua, titik persinggahan akhir tol laut di Indonesia timur. Ada juga kepulauan Halmahera di sana, yang kekayaan SDA dan potensi ekonominya bisa bikin kepala negara manapun ngiler dan menyesal, kenapa teritori mereka, tak seperti Indonesia, tak cukup Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan, tapi miliki Bali, NTT, NTB, Halmahera bahkan Papua. Tapi kapal yang berangkat ke Papua, Halmahera, sering pulang dalam keadaan kosong. Bakar BBM yang dibeli pakai devisa. Ini bukankah inefesiensi logistik nasional yang kronis? Arus ekonomi antara barat dan timur Indonesia, jadi timpang. Bahan bakar terbuang percuma, mewujud jadi harga barang yang tinggi di Indonesia timur, yang ujungnya sebabkan kegiatan produktif berbiayaa relatif lebih mahal di sana. "Tak bisakah, kita langsung impor saja, misalnya kapal barang dari luar negeri, kita suruh sandar langsung di Indonesia Timur, jadi lebih dekat, tak perlu lagi bertahap, ke Jawa, bongkar, kemudian muat, kirim ke Indonesia timur disubsidi pemerintah , sudahlah itu balik kosong. Karena tak ada yang kawan dekat bisa jawab, tentu AI yang jadi kawan bicara. Banyak poin yang AI kasih tahu, salah satunya adalah asas "Cabotage" yang ditetapkan oleh pemerintah.

Johannes Kitono

Kuda Kuda.Ini ada kaitan dengan masalah lutut Bu Dahlan. Yang terpaksa harus jalan pakai kursi roda. Kuda dan kuda kuda itu dua hal yang berbeda. Sebentar lagi kita akan masuki Tahun Kuda.Mereka yang dilahirkan di tahun kuda.Umumnya Optimis, mandiri, jiwa bisnis, mudah adaptasi dan pekerja keras seperti Kuda. Kelemahannya adalah rada kepo suka campuri urusan orang lain. Mungkin sudah sifat alami. Zaman dulu kalvareli adalah pasukan berkuda.Tentu bukan kuda lumping atau Kuda Kepang yang jalannya pakai kaki manusia.Lucunya, kekuatan mesin hitungannya pakai tenaga kuda atau PK. Mesin motor NT 85 Japan di sebut 2 PK. Bisa dipakai mudik jualan kelontong ke Sungai Sekayam. Kalau Bandong Yanmar 30 PK dipakai tarik Tongkang Pontianak - Sanggau- Sintang dan Putusibau.Tidak jelas kenapa kekuatan mesin pakai ukuran Tenaga Kuda atau HP ( House Power ).Tidak pakai tenaga Macan atawa Gajah. Kalau Kuda Kuda atau Bhesi itu lain cerita. Mereka yang belajar kungfu pasti alami, jurus pertama pasti Kuda kuda.Kedua lutut ditekuk setengah berdiri. Hadap kedepan dan putar ke belakang. Dulu belajar sama Suhu Cek Among di Kebun Sayur Pontianak. 3 bulan pertama belajar kuda kuda.Sampai paha berotot dan susah bab.Menurut Suhu Among itu alirannya Pek Lian Kaw. Belajar setahun hanya dapat beberapa jurus saja. Seperti Kim Kay Thuk Lip dan Dewi Kwan Im duduk diatas teratai. Shio kuda berjodoh sama Macan, Anjing dan Kambing. Kalau ribut pasti Kuda lebih kuat dan kencang berlari. Happy Valentine ! SSHB

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@mbak Nimas.. DIAM YANG MENJADI DOA..// Mbak.. Kalau itu bukan puisi, lalu apa namanya. Panjenengan bilang tak pandai merangkai kata. Tapi justru kata-kata itu berjalan pelan, seperti tasbih yang tidak ingin cepat selesai. Diam memang sering lebih jujur dari pidato. Sunyi kadang lebih fasih dari debat panjang. Dalam kesenyapan, kita tidak sedang kosong. Kita sedang diisi. Pelan. Halus. Tanpa tepuk tangan. Kalimat “kita bukan siapa-siapa di hadapan-Nya” itu bukan sekadar indah. Itu inti perjalanan. Semakin kita merasa kecil, semakin Allah terasa dekat. Semakin tunduk kepala, semakin lapang dada. Senja yang panjenengan sebut itu seperti jeda rahmat. Langit tak pernah berdusta. Ia selalu kembali biru setelah gelap. Begitu juga hati. Jika ia terus bertasbih, ia akan menemukan cahayanya sendiri. Cinta kepada Allah memang tidak selalu meledak-ledak. Kadang ia tumbuh seperti embun. Diam. Tapi membasahi. Teruslah duduk di senja itu. Teruslah bersila di hadapan-Nya. Karena di saat dunia riuh ingin didengar, jiwa yang memilih diam justru sedang didengarkan.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Omong-omong, saya merasa sedikit janggal dengan cerita Pak Dahlan yang BARU PERTAMA KALI KE YAMAN. Apalagi ditambah suatu alasan absurd: "Mumpung sedang di Makkah bersama istri dan rombongan." Lha, memangnya Pak Dahlan sudah berapa puluh kali ke Mekkah selama ini? Kok cuma yang sekarang yanh dijadikan alasan pergi ke Yaman? Bahkan tanpa harus ke Mekkah dulu, kalau memang Pak Dahlan mau ke Yaman, ya bisa langsung berangkat dari Indonesia. Kapan pun. Janggal. Sangat janggal. Dan itu harus kita gali. Kenapa Pak Dahlan selama ini tak pernah ingin ke Yaman? Dan kenapa sekarang kok tiba-tiba pengen ke sana? Ada apa? Saya sebagai perusuh merasa harus mengetahui alasannya.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@pak Jokosp Sp.. BELUM AZAN, SUDAH DI MASJID.// Saya tersenyum membaca komentar Pak Jokosp. Sofyan Assauri datang ke masjid sebelum azan. Ditanya tetangga, kenapa buru-buru? Jawabnya sederhana. Malu kalau untuk takwa saja harus menunggu dipanggil. Itu jawaban yang ringan. Tapi dalam. Kita ini sering terbalik. Kalau urusan diskon, belum buka toko sudah antre. Kalau nonton bola, sejam sebelum kick off sudah duduk manis. Tapi kalau ke Masjid, tunggu azan dulu. Bahkan kadang tunggu iqamah. Kadang tunggu rakaat kedua. Seruan “hayya ‘alash shalah” itu undangan kehormatan. Bukan alarm kebakaran. Bukan juga sirene pabrik. Itu panggilan dari Yang memberi napas. Masa harus ditunda-tunda seperti snooze alarm subuh? Guyonnya begini. Kita ini kalau dipanggil atasan langsung jawab, “Siap, Pak!” Tapi kalau dipanggil Yang Maha Atas, masih jawab, “Sebentar, lagi closing.” Maka kalimat Sofyan itu menohok tapi lembut. “Ya, saya sudah di sini.” Bukan karena paling suci. Tapi karena tak enak hati kalau selalu datang belakangan. Soal khusyuk urusan lain. Datang dulu. Duduk dulu. Dekat dulu. Itu sudah langkah awal.

Achmad Faisol

dulu, orang indonesia kiblatnya ke makkah dan mesir (al-azhar)... untuk al-azhar hingga sekarang... contoh ulama panutan kiai-kiai nusantara: 1. sayyid ahmad zaini dahlan, pengarang mukhtashar jiddan -- syarah jurumiyyah -- mufti makkah... kitabnya dipelajari seluruh pesantren... 2. sayyid bakri syatha mengajar di masjidil haram... kitab karangan beliau, yaitu i'anah thalibin jadi kajian di semua pesantren... 3. ulama-ulama indonesia juga mengajar di makkah, misalnya syaikh nawawi al-bantani, syaikh mahfudz at-turmusi (tremas, pacitan), syaikh khatib al-mingkabawi, syaikh yasin al-fadani, dll... ulama-ulama kita juga mengaji di makkah, seperti kh. hasyim asy'ari dan kh. ahmad dahlan...

Achmad Faisol

kh hasyim asy'ari mengaji ke sayyid abbas al-maliki di makkah... putra sayyid abbas, yaitu sayyid alwi al-maliki mengarang kitab ibanatul ahkam syarah bulughul maram... kitab ini termasuk rujukan di pesantren... putra sayyid alwi, yaitu sayyid muhammad al-maliki mengarang banyak kitab yang juga jadi rujukan di pesantren... gus baha sering ngaji kitab karya syaikh muhammad al-maliki al-hasani... kepada beliau pula banyak ulama nusantara mengaji...

Bahtiar HS

Ust @Achmad Faisol, Santri Abuya as Sayyid Muhammad bin Alawy al Maliki al Hasani banyak dari Indonesia. Bahkan ada organisasi alumninya (Hai'ah ash-Shofwah al Malikiyyah). Saya mengaji ke salah satu santri Abuya Sayyid Muhammad di Indonesia. Nggak bisa nyantri dan ngaji langsung ke Sayyid Muhammad, bahkan sdh nggak bs lagi krn beliau sdh wafat (Allahu yarham), tp dg ngaji ke murid beliau mudah2an tetap bisa sambung nggandol serbannya beliau.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Saya sebenarnya penasaran dan ingin Pak Dahlan mencari tahu: bagaimana kabar pondok Rubath saat ini. Apakah memang sekarang sudah kalah besar dibanding Darul Mustofa? Rubath itu lebih kuno dibanding Darul Mustofa, dalam arti positif. Anda sudah tahu, makin tradisional berarti dianggap makin mirip dengan zaman Nabi. Dan itu makin baik. Mendengar cerita kakak saya, dulu di Darul Mustofa sudah memakai radio saat pengajian. Santri yang dari berbagai negara itu bisa mendengarkan radio sesuai bahasanya masing-masing. Sedangkan di Rubath, masih tak memakai teknologi seperti itu. Bisa jadi, karena hal-hal seperti itu sekarang Darul Mustofa lebih banyak santrinya. Pondoknya pun lebih berkembang. Dan sekarang lebih besar. Itu asumsi saya. Semoga Pak Dahlan bercerita tentang ini juga.

Sadewa 19

Tarim identik dengan tasawuf. Orang-orang yg memperdalam tasawuf sering disebut sufi. Ajaran sufi ini sangat dalam. Salah satu ajaran yg saya suka dari tasawuf adalah bagaimana cara kita membunuh kesombongan. Juga rasa, iri, dengki, dan riya / pamer. Pelajaran itu sangat sulit terutama di zaman istagram seperti sekarang. Ketika kita sholat di mall, terkadang muncul imam-imam dadakan. Kadang bacaan sholatnya berantakan. Kadang kita merasa lebih baik dari imam itu. Hal itu juga termasuk kesombongan. Betapa sulitnya membunuh rasa sombong itu. Sekecil apapun ada rasa sombong tidak bisa masuk surga. Itu yg ditakutkan para sufi. Berarti hanya sebagian kecil manusia yg bisa kesana. Manusia yg tawaduk bebas dari kesombongan dirinya. Menariknya, di Jawa sufi banyak disalah artikan. Ajaran yg mulia dan mendalam itu bercampur dengan hal hal klenik dan mistis.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 41

  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Captain Bejo
    Captain Bejo
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • MULYADI PEGE
    MULYADI PEGE
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Denny Herbert
    Denny Herbert
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Turrachman Rachman
    Turrachman Rachman
  • Lègég Sunda
    Lègég Sunda
  • Milyarder Setia
    Milyarder Setia
  • Nimas Mumtazah
    Nimas Mumtazah
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • Denny Herbert
    Denny Herbert
    • Denny Herbert
      Denny Herbert
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • warna Ijo
    warna Ijo
  • alasroban
    alasroban
  • rid kc
    rid kc
  • my Ando
    my Ando
  • Sugi
    Sugi
  • Joko Wito
    Joko Wito
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman