HWW
--
HWW –hospital without wall: lagi dicoba dilaksanakan di RSUP dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Kini sudah berjalan mencapai 30 persen –dua tahun lagi 100 persen.
HWW sendiri sudah lama berhasil dilaksanakan di –Anda sudah tahu: RSUD dr Iskak di Tulungagung, Jatim. RS itu selalu menjadi yang terbaik di Indonesia –dari kategori apa pun.
Tokoh di balik penerapan HWW di dua rumah sakit itu sama: seorang dokter dengan nama satu kata, Supriyanto. Su=baik. Priya=laki-laki. Pria yang baik.
Waktu muda ia terpilih sebagai dokter teladan tingkat nasional. Kelak, dari keberhasilannya memimpin rumah sakit terbaik selama 10 tahun berturut-turut membuahkan loncatan jabatan sangat tinggi. Menteri Kesehatan Budi Sadikin mengangkatnya jadi dirut RSCM di Jakarta.
"Ini kapal besar. Untuk membelokkannya agak lambat," katanya. Kemarin dr Supriyanto makan siang di rumah saya. Sajian yang disiapkan oleh menantu Pak Iskan tiga menu: sop buntut, lodeh ikan pe, dan brengkes tuna.
Anugerah lain: besok pagi dr Supriyanto meraih gelar doktor. Di Unair. Yakni doktor bidang manajemen kesehatan. Disertasinya mengenai HWW yang sudah dan sedang ia jalankan. Istimewanya: siapa tim penguji doktornya. Salah satunya: menteri kesehatan sendiri.

Supriyanto dan Menkes Budi Sadikin.--
Saya sudah membaca disertasi itu. Kesimpulan saya: HWW sulit di-copy di tempat lain.
Kesimpulan saya itu tidak disetujui dr Supriyanto. Menurutnya HWW bisa diterapkan di rumah sakit lain.
Saya menyimpulkan lain berdasar disertasi itu sendiri: faktor sukses pelaksanaannya adalah adanya kepemimpinan transformasi di rumah sakit tersebut.
Dari pengalaman saya kepemimpinan transformasional sulit ditiru. Bisa tapi sulit. Apalagi di RSUD: keputusan tertingginya ada di tangan bupati atau wali kota. Sangat politis. Berbau transaksional –berorientasi mengembalikan investasi waktu pilkada.
Tapi Supriyanto berkeras bisa. Caranya: lewat pelatihan. Juga lewat sistem yang mapan. Yakni sistem IT yang sulit diintervensi oleh manusia –pun yang punya kuasa.
Supriyanto sendiri sudah dua tahun berhenti sebagai direktur RSUD dr Iskak. Nama ini adalah orang yang menyelamatkan rumah sakit tersebut di zaman perang kemerdekaan.
Anda pun tidak menyangka usia RSUD Tulungagung sudah 108 tahun. Dua tahun lebih tua dari RSUP dr Cipto Mangunkusumo.
Supriyanto 10 tahun memimpin rumah sakit dr Iskak. Setelah berhenti ia tergoda untuk maju menjadi calon bupati. Pendukung formalnya sudah 400.000 lebih –melebihi 60 persen suara di sana.
Ia batal maju. Menkes mengangkatnya jadi dirut RSCM. Targetnya: RSCM bisa menjadi HWW dalam skala besar.
Tidak mudah. Yang ia hadapi adalah orang-orang pusat dengan nama-nama besar. Ia harus lebih bijaksana. Tidak bisa seperti di Tulungagung dulu: di tahun pertamanya saja sudah memberhentikan tiga orang dokter yang tidak sejalan.
Di awal memimpin Tulungagung ia membangun aplikasi. Awalnya dibuka tender. Tidak ada yang berminat. Aplikasinya rumit. Khas kedokteran. Kalau bukan dokter akan sulit menyusun algoritmanya.
Akhirnya ia ajak seorang alumnus ITS bekerja sama. Secara teknis anak itu yang mengerjakan. Secara konsep dr Supriyanto yang menyusun.
Seluruh warga Tulungagung bisa menggunakan aplikasi itu. Yang merasa punya keluhan tidak harus langsung datang ke rumah sakit.
Mereka bisa buka aplikasi. Jenis-jenis tanda sakit ada di aplikasi itu.
Misalkan Anda tiba-tiba mengeluh nyeri. Lalu Anda masuk ke aplikasi dari rumah Anda. Klik: nyeri. Setelah itu muncul pilihan. Di bagian mana nyerinya. Katakanlah di dada. Klik. Muncul pilihan: dada kiri atau kanan. Misalnya Anda klik ''kanan''. Berarti itu pasti bukan sakit jantung. Maka muncul pilihan: apakah nyerinya sampai lengan. Klik. Dan seterusnya.
Dari berbagai pertanyaan itu bisa disimpulkan dugaan sakit apa. Lalu obatnya apa. Perlu ke rumah sakit atau tidak.
Di IGD rumah sakit itu sendiri ada tiga petugas yang menunggui aplikasi itu. Yang utama: seorang perawat terlatih. Lalu perawat lain yang mengecek lebih teliti. Orang ketiganya adalah dokter.
Pada ujung aplikasi, perawat terlatih menyimpulkan dugaan sakit apa. Lalu si PT bertanya: di rumah punya obat apa. Kalau obat itu cocok dengan keluhannya maka diminta minum obat tersebut. Tidak perlu beli obat. Tidak perlu datang ke rumah sakit.
"Saya dulu mengirim banyak perawat Tulungagung untuk belajar kedaruratan di Malaysia," ujar Supriyanto.
Kalau si PT tidak mampu memberikan kesimpulan ia/dia bisa bertanya ke dokter jaga yang ada di sebelah.
Maka aplikasi tersebut menjadi IGD tanpa dinding. Siapa saja bisa masuk ke sana. Langsung ditangani. Baru yang benar-benar harus datang ke rumah sakit diminta datang.
Hebatnya IGD di sana tidak dijaga oleh dokter muda. Atau dokter yang baru lulus. Yang datang ke IGD adalah pasien yang sakitnya tidak sederhana. Yang sederhana sudah diselesaikan di rumah masing-masing.
Maka dokter jaga di IGD-nya Tulungagung adalah dokter spesialis. Yakni spesialis kedaruratan. Sudah agak lama ada program studi spesialis kedaruratan di banyak fakultas kedokteran.
Sistem aplikasi itu mengatur sampai ke pengadaan obatnya. Maka sulit diintervensi oleh kepentingan politik lokal.
Aplikasi itu juga terhubung ke Puskesmas di setiap kecamatan. Waktu jadi dokter teladan tingkat nasional dulu ia sudah menerapkan itu di Puskesmas di kabupaten Kerinci, Jambi.
Ia jarang terlihat di Puskesmas. Ia datang ke masyarakat: menerapkan penanganan kesehatan preventif. Orang yang sakit ditangani di rumah-rumah mereka.
"Puskesmas tidak boleh bangga karena banyak didatangi masyarakat. Itu berarti dokternya gagal menjalankan misi," katanya. Tenaga di Puskesmas harus lebih banyak di lapangan. Menemui dan mendata penduduk dengan segala penyakit mereka.
Supriyanto lulus dokter dari Universitas Brawijaya, Malang. Waktu itu dokter yang baru lulus wajib kerja di daerah pedalaman. Ia dapat tugas di Kerinci.
Supriyanto bangga dengan kewajiban mengabdi di pedalaman seperti itu. Ia merasa karakter dan kepribadian seorang dokter terbentuk di situ.
Di Kerinci, sebagai dokter teladan, ia bisa memilih dua hadiah dari beberapa pilihan yang diberikan: boleh menempuh spesialis, menjadi pegawai negeri, mau pilih ditempatkan di mana atau naik haji.
Supriyanto memilih dua: menjadi pegawai negeri dan mengambil spesialis. Awalnya ingin menjadi spesialis kandungan. Lalu batal. Ia pilih pulang kampung ke Tulungagung. Bekerja sebagai pegawai negeri di RSUD setempat.
Ia tidak memilih hadiah naik haji. "Naik haji kan bisa dilakukan kelak ketika sudah mampu," katanya.
Ayahnya seorang petani di desa Tulungagung selatan. Tapi semua saudaranya jadi sarjana –dua di antaranya menjadi guru besar. Hanya satu yang jadi dokter: Supriyanto sendiri --atas permintaan ibunya.
Setelah dua tahun bertugas di kampung halaman ia tahu banyak: kemiskinan, penyakit mereka apa saja dan budaya masyarakatnya. Karena itu ia tidak jadi pilih spesialis kandungan. Ia pilih bedah umum –yang paling diperlukan di daerah.
Di kemudian hari kariernya sampai pada jabatan direktur RSUD Tulungagung. Ia membuat sejarah: melahirkan HWW di sana.
HWW telah membuat nama Supriyanto dan Tulungagung menasional –bahkan mendunia. Proses mewujudkannya tidak mudah --sampai ada ceritanya di Disway edisi besok.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 21 Januari 2026: Pati Madiun
Lukman Nugroho
Dari Bandung. Saya pindah tempat ke Jakarta. Hari ini tidak lari pagi. Karena cuaca hujan. Tapi, saya adalah penganut pendapat -Anda sudah tahu. Selama anda masih makan dan minum. Selama itu pula. Anda wajib berolahraga. Pastikan. Anda berolahraga dengan benar. Aktivitasnya harus terus menerus. Selama minimal sepuluh menit. Untuk menghasilkan detak jantung. Selama seratus kali dalam satu menit. Semoga tidak keliru. Dan dapat hadiah jaket. Sama seperti kepala PLN di sebuah kantor cabang itu.
Ulil Abshor
Andai KPK itu saya dan saya kuat imannya. Saya akan hub pemimpin2 yg terindikasi korup dan bilang: Pak, kami dari KPK dan punya bukti anda melakukan kesalahan bla bla. Kami ga ingin ini jd ramai. Kami jg berharap anda mau sadar dan fokus membangun sampai masa tugas selesai. Mohon di perhatikan, peringatan ini adalah yg pertama dan yg terakhir. Jika anda tdk berubah, kami akan melakukan penindakan. Demikian
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
KORUPSI ITU MENULAR,
BUKAN KETURUNAN..
Polanya makin jelas. Bukan kebetulan. Nganjuk. Ponorogo. Pati. Lalu Madiun. Modus beda tipis. Intinya sama: jabatan dan izin dijadikan loket. Yang mau lewat, bayar. Yang tidak mau, menunggu nasib. Seolah ini prosedur tak tertulis. Tapi dipraktikkan ramai-ramai.
Yang bikin pusing bukan hanya korupsinya. Tapi rasa amannya. Seperti ada keyakinan: ini hal biasa. Yang lain juga melakukan. Yang bayar juga rela. Kalau bocor? Nanti saja dipikirkan. Padahal transaksi seperti itu pasti ramai. Banyak tangan. Banyak telinga. Banyak hati yang kesal.
Kasus Madiun paling menarik. Bukan soal kecil. Kota berubah. Prestasi ada. Dukungan publik besar. Tapi CSR dijadikan dalih. Padahal CSR itu tanggung jawab sosial perusahaan. Bukan celengan pejabat. Bukan ATM kebijakan. Kalau dipungut paksa, itu bukan CSR. Itu sudah CSR: Coba Setor Rek.
Mungkin mereka bukan paling rakus. Hanya paling apes. Atau paling percaya diri. Tapi KPK mengingatkan satu hal: korupsi itu menular. Dan yang merasa kebal biasanya yang paling cepat tertangkap.
Juve Zhang
Anda ingat NOELL sang koruptor yg masih bisa unjuk jempol ke atas ketika tangan di borgol.....ini masuk yg 28 juta SAKIT JIWA Rakyat Indonesia kata Menkes Budi....anda lihat NOELL malah tambah gemuk badannya sewaktu sekarang ditahan KPK....jelas penyakit JIWA stadium 4 begini model nya....unjuk jempol ...banyak senyum sendiri dan badan gemukan ketika ditahan kasus korupsinya.... Amsiong
Kujang Amburadul
Ini reply saya di bbrp komentar hari ini : yg ditakutkan oleh koruptor kita adalah daging babi, krn korup itu dianggap tidak haram
istianatul muflihah
Berhenti atau Lanjut
Tadi pagi, berangkat kerja, saya berhenti di lampu merah.
Memang kamus konoha. Merah boleh maju terus. Asal baru 5 detik pertama. Asal sepi. Asal berani. Asal tidak ada polisi. Dan, apalagi? Silakan ditambahnan.
Saya berhenti di tepat di baris paling depan. Detik berikutnya satu motor sebelah kanan saya tetep melaju. Menyusul dari belakang satu motor lagi melaju. Dan satu lagi.
Saya jadi berpikir. Haruskah saya terus juga ? Karena 'kayaknya' sepi.
Mandek di lampu merah bukan prestasi. Tapi sebuah kewajiban. Hal yang lumrah dan biasa biasa saja.
Tapi kadang jadi agak aneh, karena pengendara lain terus melaju.
Seperti halnya cerita pejabat dan pemimpin negeri ini. Jadi pemimpin yg berintegritas, harusnya jadi kewajiban. Tapi, dalam sistem ini ada lebih banyak yang tidak melakukan itu.
Mendengar berita, korupsi, OTT, suap, jual beli jabatan, gratifikasi, rasa-rasanya hanya akan membuat rakyat macam saya ber-"oooh" saja.
"Oh yg kemarin juga sama"
"Oh, ya udah biasanya begitu juga."
Sedih sebenarnya. Tapi gimana ya, udah template dan semi 'default'.
Sadewa 19
Koruptor sebaiknya tidak usah dipenjara. Semakin banyak koruptor kena ott, masuk penjara, semakin merugikan uang negara. Kami para pembayar pajak sangat tidak rela. Sungguh ironis.
Rata-rata jatah uang makan koruptor jika dipenjara = IDR 40.000. Jauh lebih besar dari MBG yg hanya 15.000 an. Jumlah koruptor per Jan 26 ini yg dipenjara kurang lebih = 5.000 orang. Bayangkan berapa per tahun uang negara akan hilang. Hanya untuk kasih makan koruptor.
IDR 40.000 x 365 hari x 5.000 koruptor = 73 Milyar / tahun. Gila...bener. Jika gaji guru honorer 300 rb / bulan, maka angka 73 Milyar itu bisa untuk membayar gaji 20.277 guru honorer / tahun.
Jika koruptor sudah diputus bersalah, mungkin perlu dipertimbangkan hukum potong tangan saja. Penjara bagi koruptor hanya akan menambah beban negara.
Milyarder Setia
Pendapatku, korupsi kada ini ada banyak hubungannya dengan mahalnya biaya pilkada (mahar politik, mahar perahu, mahar kampanye, relawan, cukong), yang rata-rata bisa habis puluhan milyar. Lha kalo gak punya modal sendiri, mau gak mau minta bantuan cukong. Manakala sudah jadi, dan cukong minta duitnya balik,(jangan harap utang ke cukong ini masuk LHKPN), ya jabatan bisa dijual, proyek dimintain fee.
Itu juga bukti tidak berfungsinya pengawasan dalam politik. Jaringan pemantau pemilu, aparat, dll sangat lemah mengawasi politik uang dalam pemilu.(Akui saja), sehingga jor-joran keluar duit justru terjadi. Mental, jadi dulu balikin utang urusan belakangan.
Kalo kepala daerah dipilih DPRD gimana? 11-12 aja kurasa. Justru bisa jadi makin masive, karena lebih bisa diatur dalam ruang antar mereka saja.
Kunci utamanya adalah aturan dana kampanye yang transparan, dan dibatasi. Dan sekali lagi pengawasan mesti lebih diperketat banget. Berawal dari situ duit negara gakterhamburkan seakan tanpa arti. Biaya pilkada bisa ditekan, calon pemimpin bisa tenang menjalankan tugas tanpa kebebanan utang, dan daerah bisa terbangun dengan baik. Aamiin
Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
Tadi pagi sebelum masak, saya membaca surat Al adiyat. Dari ayat 1 sampai 5, adalah sumpah Allah dengan memakai kuda yg berlari sangat kencang terengah engah. Sumpah yg sangat indah sekali. Mengapa? Karena suasana kemasyarakatan arab waktu itu yaitu sangat mengagumi kuda perang. Ibarat zaman sekarang yaitu seperti teknologi rudal antar benua. Kecepatannya yg sangat luar biasa. Jangkauannya yg sangat jauh.
Apa tujuan sumpah Allah tersebut? Simple saja yaitu manusia salah satu sifatnya sangat menyukai harta benda duniawi. Secara phikologis, cintanya itu makin hari makin subur. Tanpa kendali. Jadilah setan mulai masuk dengan mudah seperti yg sering kita rasakan. Yaitu mencari uang sebanyak banyaknya agar hidup bisa sukses. Orang Jawa mengatakan tutup ketemu tumbu. Apalagi kalau punya kekuasaan, mudah cari uang lewat kekuasaan. Seperti contohnya para koruptor yg terbukti menyalahgunakan kekuasaan. Karena sifat manusia yg sangat suka harta dengan serakah. Obatnya di akhir surat Al adiyat, ringkasnyaingat siksa setelah mati, yg kedua ingat segala amalan kita yg kita kerjakan akan dihisabdan di mintai tanggung jawab.
Baru kali saya menulis ini sambil membayangkan di hari akhirat nanti , saya akan dimintai pertanggungjawaban mengenai apa yg saya tulis ini.
Herry Isnurdono
Abah DI jangan kapok dan berhenti menulis OTT KPK atau kasus tipikor oleh KPK. Kedepan akan banyak Walkot/Bupati/Gub./Menteri dan pejabat2 lainnya ditangkap oleh KPK. Parpol mencalonkan paslon itu tidak gratis. Yg keluar uang bisa cawalkot/cabup/cagub, atau bohir/investor. Begitu calonnya menang, uang kampanye/biaya utk jadi Bupati/Walkot/Gub. akan diganti/dibayar dgn ijin2 yg dikeluarkan oleh pejabat ygmenang. Mis. Ijin tambang dll. Jabatan2 Kepala Dinas dsb. tidak gratis. Proyek2 bangun jalan/jembatan/gedung2 dll, banyak 'dimainkan. Mutasi pegawai/promosi jabatan2 banyak 'dimainkan. Bupati/Walkot/Gub. menjabat 5 th. Ini jelas perhitungan utk balik modal. Juga utk mengumpulkan modal, utk maju lagi utk periode ke 2. Semua Kepala Daerah korupsi ? Tidak juga. Masih ada yg takut korupsi. Ada yg punya integritas. Tapi utk menang itu tidak gratis. Butuh dana puluhan/ratusan Milyar. Yg belum ketangkap KPK itu beruntung. Ygketangkap, apes/sial. Harusnya semua calon pejabat itu seperti Abah DI. Sudah kaya/konglomerat terlebih dahulu. Hanya butuh pengakuan utk pengabdian. Mau membangun daerahnya. Kira2 kedepan orang2 pada takut jadi pejabat ? Takut ketangkapKPK ? Tidak juga. Pejabat yg pernah ditangkap KPK tetap masih kaya. Malu ? Tidak bakal malu. Kekuasaan itu memabukkan. Pejabat itu punya kuasa. Hidupnya sehari-hari dibiayai APBD. Gaji pejabat kecil, tapi tetap kaya di LHKPN. Mereka bisa kaya, dgn modal tanda tangan surat/SK yg bisa menguntungkan sipenerima manfaat.
Muh Nursalim
Orang banyak omong itu karena dua. Dia kecewa. Atau dia lagi gembira. Dua duanya bahaya bagi pemungut suap. Yang gembira akan cerita "kesuksesan" dalam maraih jabatan. Yang kecewa juga akan cerita bahwa dirinya gagal meraih jabatan. Atau dapat jabatannya tapi kena pungli. Dari sini saja. Mestinya pemungut pungli dan suap akan berfikir dua kali. Perkara aib yang tidak mungkin tidak bocor. Tapi, lezatnya duit terkadang menggelapkan mata. Sehingga disikat juga.
Taufik Hidayat
KPK sudah ada sejak zaman Megawati menjadi presiden. Apakah korups di negeri ini berkurang? Sayang sekali. Jawabannya tidak! Jadi ingat akan sebuah negeri bernama Hong Kong. Di sana juga ada badan yang mirip KPK namanya ICAC. (Independence commissions against corruption.) . Nah pada tahun 1950 sampai enampuluhan korupsi konon sangat merajalela di koloni Inggris ini. Polisi , imigrasi, terkenal suka minta suap. Ada yang bilang bahkan Damkar harus disuap dulu sebelum datang untuk memadamkan kebakaran. Nah titik baliknya terjadi pada 1973. Ketika seorang pejabat polisi Peter Godberdisinyalir mempunyai harta yang banyak. Ternyata di korupsi dan kemudian lari ke Inggris . Nah akhirnya pada 1974 Gubernur Jenderal Hongkong mendirikan ICAC. Dan perlahan lahan sejak saat itu Hong Kong berubah menjadi salah satu negara yg sangat bersih dari korupsi , ekonomi pun melesat maju. ICAC ini juga konon menjadi inspirasi KPK. Sayangnya beda di HKG beda di Konoha. Kita lebih takut sama ……. …… dibanding Korupsi he he he …
Syamsuriadi Syam
Agak rasa lain tulisan abah hari ini. Kentara tergambar rasa emosional penulisnya, kalau menurut istilah Makkassarnya "silangsungan" (langsung tanpa basa-basi). Saya dulu pernah ditegur serupa oleh pengelola kolom opininya Harian Fajar Makassar karena tulisan saya agak silangsungan seperti ini.
Wilwa
@AgusS3. Koruptor merasa AMAN. Hmmmm. Karena (aparat penegak) HUKUM masih bisa dibeli. Hmmmm. Itu benar. Tapi ijinkanlah saya menganalisis secara psikologis apa yang ada dalam PIKIRAN para koruptor itu. Yang mayoritas penganut agama-agama Abrahamic. Ada kesamaan iman yang mendasar baik dalam agama Yahudi, Kristen, Islam yaitu Tuhan dibayangkan seperti Person/Orang. Dia melihat dan mencatat semua perbuatan homo sapiens baik perbuatan yang baik maupun yang buruk/jahat. Baik yang percaya bahwa Tuhan sendiri yang melakukannya atau Malaikat yang melakukannya. Dan nanti ketika meninggal akan ditimbang mana yang lebih banyak, perbuatan baik atau perbuatan buruk/jahatnya. Definisi perbuatan baik atau buruk/jahat pun bervariasi. Untuk Islam misalnya, perbuatan PALING buruk/jahat adalah “menduakan” Tuhan. Tiada Tuhan selain Allah. Ini DOSA yang tak dapat DIAMPUNI. Langsung masuk neraka jahanam. Konsep/persepsi ini diturunkan dari agama Yahudi yaitu yang tercantum sebagai Perintah / Hukum PERTAMA dan PALING UTAMA dalam 10 PERINTAH ALLAH (baca: Yahweh/Yehovah) yang konon diberikan oleh Moses/Musa. Jadi KORUPSI bukanlah perbuatan paling buruk atau jahat dan terbuka peluang untuk DIAMPUNI. Misalnya dengan membangun Mesjid, menyantuni yatim piatu, orang miskin, dll. Karena itu para koruptor muslim merasa AMAN bila melakukan perbuatan AMAL BAIK yang dianjurkan agama tersebut. Dan bisa dijadikan pertimbangan Tuhan/Malaikat atau “bargaining” ketika sedang diadili masuk neraka atau masuk surga.
Liáng - βιολί ζήτα
CHDI : "Saya pusing. Tidak bisa menyimpulkan."
Terkadang ukuran kacamata yang tidak pas, biasanya membuat pusing koq.....
Oleh karena itu, apa tidak sebaiknya Abah DI menggunakan kacamata berkualitas super saja, seperti yang dipakai oleh pengamén yang suka iseng itu ??
Terbukti koq, bukan hanya jelas untuk melihat dalam kondisi normal, bisa juga untuk melihat dengan jelas di kegelapan.....
Misalnya apa..... ??
Lha, terbukti..... kacamata berkualitas super yang dipakai oleh pengamén iseng itu, melihat dengan jelas, sesuatu di kegelapan sisi perpolitikan.....
Ada semacam biaya tinggi dalam sisi kegelapan sistem perpolitikan..... dikarenakankemanfaatannya untuk sisi yang gelap, maka sumber biayanya pun berasal dari sisi yang gelap..... lha wong rumus matematikanya memang begitu koq.....
Lantas, bagaimana mengatasi sisi gelap tersebut ??
Gampang..... nyalain saja lampunya, bérés..... gitu aja koq repot sih.....
Nah..... sekarang Abah percaya kan..... itu kacamata memang berkualitas super.....
Wilwa
@Vikagora. Di era teknologi tinggi seperti kini, homo sapiens asal punya uang berlimpah bisa saja beli tangan robotik. Jadi kalau mau menghukum secara fisik yang efektif dan efisien ada tiga alternatif: 1) Pemiskinan. 2) Hukuman Mati. 3) Dua-duanya. Potong tangan bisa di”akali” asal duit ada. Tapi penggal leher tak bisa di”akali” dengan teknologi secanggih apapun. Karena begitu batang otak mati maka homo sapiens secara medis, biologis, teknis, sudah MATI. Belum ada orang yang bisa menghidupkan kembali orang mati (walau ada juga sih yang percaya ada orang suci di masa lalu yang bisa membangkitkan orang mati, namun bagi scientist itu hanya dongeng/mitos orang purba, untuk menarik massa menjadi pengikut agama/kepercayaan tertentu dengan kisah yang tak masuk akal itu) Belum ada bukti ada orang yang bisa menghidupkan kembali orang mati baik dengan ujaran, mantra, doa, dll. Teknologi tercanggih dan terkini juga belum bisa menghidupkan kembali orang mati. Jadi hukuman mati dan/atau pemiskinan adalah metode paling efektif dan efisien dalam mengatasi korupsi yang dilakukan homo sapiens tak peduli apa race/relogion yang homo sapiens itu miliki.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DISMORNING – 21 JANUARI 2026..
Diskusi pagi ini dimulai dari ulang tahun pertama MBG. Angkanya disebut. Sudah melayani sekitar 55 juta penerima manfaat. Angka besar. Tapi realitas lapangan tidak sesederhana perintah komando. Program nasional bertemu keragaman daerah. Muncul penolakan. Kantin sekolah. Kesiapan dapur. Logistik. Semua itu dibahas tenang.
Justru di situ letak apresiasinya. Anggaran tidak dipaksakan habis. Yang tidak siap, ditahan. Uang dikembalikan ke kas negara. Bukan dibakar demi target. Sebuah sikap yang jarang. Pelaksana belajar dari lapangan. Tidak keras kepala. Itu poin pentingnya.
Diskusi lalu bergerak ke masa depan MBG. Ukurannya bukan sekadar anak kenyang. Tapi ekonomi desa bergerak. Sayur dari desa. Protein dari desa. Susu dari desa. Diusulkan model percontohan. Kabupaten. Kecamatan. Aplikasi logistik. Koperasi Merah Putih. BRI dilibatkan. Bukan hanya dananya. Tapi manajemennya.
MBG diposisikan sebagai investasi jangka panjang. Seperti kisah Inggris dan susu sekolah. Hasilnya puluhan tahun kemudian. Program ini harus jalan sambil belajar. Bukan menunggu sempurna. Karena masa depan memang tidak menunggu.
Gregorius Indiarto
Mereka bertiga memang sedang apes.
Mereka seperti sedang kalah.
Kalah judi.
Di negeri Q, menjadi pemimpin bak penjudi.
Mereka mempertaruhkan diri.
Mempertaruhkan keluarga.
Atau bisa jadi dipertaruhkan oleh keluarga.
Kalau menang, diri, atau keluarga kaya, raya.
Kalau kalah masuk bui.
Hanya sendiri.
Keluarga masih kaya.
Masih punya modal untuk kembali "berjudi', di pengadilan.
Kalau menang bebas.
Dan kalau sampai keluarga ada yang masuk bui, berarti sedang apes (mbanget) .
Met siang, salam sehat,
damai dan bahagia.
riansyah harun
KPK tangkap Kepala Daerah. Anggapan kita, sudah pasti jelek. Minimal dugaannya korupsi. Dan rata rata jika Kepala Daerah itu sudah di OTT oleh KPK, tuduhannya mengarah kesitu..., korupsi.
Kok tidak juga ada yang jera.., mengingat Kepala Daerah yang di OTT itu ber ulang dari waktu ke waktu..???
Bagaimana kalau kata KORUPSI itu, digantikan saja dengan MENCURI..??? Mencuri uang rakyat, mencuri uang Negara, ataupun mencuri uang Kantor....???
Karena kata PENCURI itu, rasanya lebih ditakuti daripada kata Koruptor.
Tapi upsss...
Masak iya...??? Sedangkan Tuhan saja tidak lagi mereka takuti, apalagi hanya istilah ?????
yea aina
Sesuai PP No. 59/2000 dan keppres No. 48/2001, gaji pokok + tunjangan jabatan bupati/walikota: Rp. 5,88 juta sebulan. Besarannya hampir sama dengan UMP Jakarta tahun 2026.
Bedanya, UMP diterima pekerja tanpa tunjangan operasional. Kalau para bupati/walikota itu, berwenang menggunakan dana operasional yang berasal dari apbd. Besarannya tergantung PAD masing-masing daerah, mulai dari 125 juta sampai dengan 600 juta setiap bulan.
Jadi kalau pejabat kepala daerah masih doyan uang panas, mungkin dia masih merasa kurang harta (baca: miskin).
riansyah harun
Beberapa tahun lalu, ada seorang anak muda yang dilamar oleh seseorang dan kelompoknya, untuk di gadang gadang menjadi calon wakil Walikotanya.
Anak muda itu sudah menjadi Presiden. Presiden di dalam perusahaannya dan Presiden di klub sepak bola yang terkenal dgn soliditas penggemarnya yang kokoh itu.
Entah kenapa.., belakangan anak muda tersebut membatalkan ke ikut sertaannya, dan tidak jadi di calonkan.
Jangan jangan bapak dari si anak muda ini yang "menahan" nya, agar anaknya jangan ikut ikutan maju bertarung.
Sebab bapaknya itu..., pada zaman lampau, pernah diminta menjadi sesuatu oleh penguasa.., dengan posisi jabatan yang bukan kaleng kaleng. Rasanya beliau pasti sudah tau persis, tentang efek negatif dalam mengelola daerah jika tidak hati hati. Dan itu jangan sampai menimpa anaknya. Apalagi anak itu adalah anak kesayangan ibunya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:

Komentar: 73
Silahkan login untuk berkomentar