Puncak Gunung
--
Sampai kapan Tarim bisa bertahan dengan konservatifisme Islamnya?
Soal debu dan kerasnya alam mungkin akan abadi. Tarim memang dikelilingi gunung-gunung tanah. Begitu ada angin debu memenuhi udara. Bebatuan di dalamnya hanya campuran. Beda dengan di Arab Saudi: gunungnya berupa batu solid.
Soal melimpahnya air mungkin juga abadi. Tanpa atau dengan doa Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pegunungan tanah itu menyimpan air hujan. Pelan-pelan turun ke lembahnya: termasuk Tarim.
Kelak, modernisasi mungkin akan terjadi juga di Tarim. Terbawa oleh belahan lain di dunia. Hanya saja, mungkin, modernisasi di Tarim amat pelan.
Tanda-tandanya sudah mulai terlihat. Semua orang sudah pegang handphone. Itu sumber modernisasi yang dahsyat. Pasar handphone di sana didominasi oleh Samsung –kategori yang murah dan murah sekali. Lalu Redmi-nya Xiaomi, sekelas yang masih bisa saya pakai. Baru Vivo dan lainnya. Saya lihat ada juga merek yang belum saya kenal: LT. Saya cari di Google. Tidak ketemu; LT itu produk dari mana. Pemakainya sendiri tidak tahu. Mungkin. BikinanTurkiye.
Khotib yang khotbah di masjid besar Tarim pun sesekali membaca teks dari layar HP di tangan kanannya. HP akan merevolusi tatanan sosial di Tarim.
Memang sinyal masih sering tersendat. Internet masih putus-putus. 4G misalnya, baru masuk ke Yaman tahun lalu. Belum ada 5G. Tapi itu soal waktu saja. Begitu negara itu aman ekonomi akan bergerak sendiri.
Saya masih menemukan mahasiswa Indonesia di Tarim yang mengaku belum pernah mendengarkan musik selama di sana. Tapi juga sudah melihat rombongan mahasiswa-mahasiswi rekreasi bersama ke luar Tarim. Pasti bikin janjinya lewat HP.
Kemajuan fisik juga mulai terlihat di Tarim. Banyak sekali orang membangun rumah baru. Di mana-mana. Bahan bangunannya pun bukan lagi hanya tanah. Sudah banyak yang membangun pakai bata ringan dan semen.
Sudah ada pabrik semen di kota Mukalla –lima jam bermobil dari Tarim. Pertanian juga sudah hidup. Buah apa saja bisa didapat dari hasil Hadramaut sendiri. Termasuk mangga dan kelapa. Aneh, ada kelapa di Hadramaut. Lebih murah pula dari di Surabaya.
Sayuran juga lengkap. Saya bisa beli tomat setiap hari. Bahkan sering beli okra muda. Untuk lalapan saat makan nasi briyani berdaging kambing.
Mungkin yang diperlukan memang hanya aman. Damai. Stabil. Lalu ekonomi bergerak sendiri.
Keamanan itu sebenarnya sudah terasa dua tahun terakhir. Khususnya di provinsi Hadramaut. Check point militer bersenjata memang masih sangat banyak. Dari Tarim ke bandara Saiyunsaja, 40 km, harus melewati delapan pemeriksaan pos tentara. Tapi tidak terlalu ketat. Tidak pernah lagi ada tembak menembak di provinsi ini. Tinggal di Yaman Utara yang masih dikuasai pemberontak Houti.
Ada lagi tanda modernisasi besar di Tarim. Itu saya lihat nyata sehari sebelum saya meninggalkan Tarim –menuju Kairo.
Senja itu saya diajak ke gunung. Ada real estate baru di sana. Baru. Baru ini ada real estatedi Tarim. Sejarah: inilah proyek perumahan pertama di Tarim dalam bentuk real estate.
Selama ini pembangunan rumah di sana seperti tidak ada tata aturannya. Rumah di kampung-kampung dihubungkan oleh gang-gang berdebu yang berliku.
Tapi kini mulai ada real estate. Berarti mulai maju. Proyek itu sedang dibangun. Belum sepenuhnya selesai. Tapi sudah terlihat modernnya.
Yang lebih menarik: real estate itu berlokasi di atas gunung. Berarti juga yang pertama di atas gunung. Gunung mulai diincar sebagai kekuatan dan daya tarik.
Dari real estate ini saya bisa melihat kota Tarim di bawah sana. Terlihat juga stadion sederhana yang banyak pohon korma di sekitarnya.
Kelak, dari bawah, real estate ini akan terlihat seperti istana mewah yang mencuat di atas gunung gersang.

--
Saya diajak keliling proyek. Naik-naik ke lantai atas. Melihat pula satu apartemen yang sudah jadi –kelihatannya sebagai show marketing.
Satu apartemen tiga kamar. Besar-besar. Sudah tidak ada bedanya dengan apartemen mahal di Shanghai atau Jakarta. Material dinding, lantai, toilet, dapur, semuanya terlihat mewah. Bahkan langit-langitnya sangat tinggi: hampir empat meter.
Ada tujuh ''tower'' di proyek ini. Tiap tower empat lantai. Dari bawah akan kelihatan seperti kumpulan bangunan tinggi di atas gunung.
Satu lantai hanya untuk dua keluarga –masing-masing tiga kamar tidur. Dari tiap kamarnya bisa melihat pemandangan kota Tarim di bawah sana.
Di antara kamar tidur adalah kamar keluarga dan dapur. Masih ada halaman belakang yang bisa untuk barbeque kambing panggang. Juga untuk lesehan di malam hari. Menghadap langit.

--
Baru dua tahun stabil saja sudah ada yang berani memulai proyek seperti itu. Juga banyak yang mulai membangun rumah baru. Mungkin akan banyak orang kaya dari negara-negara Islam yang ingin membeli apartemen semodern itu di Tarim. Apalagi harganya tidak semahal di Indonesia. Hanya sekitar USD 70.000.
Punya apartemen di Tarim mungkin bisa jadi emosi baru bagi keluarga kaya yang memimpikan anaknya nyantri di sana.
Tarim yang konservatif, kini sudah dimasuki proyek modern seperti itu. Kalau saja marketingnya sukses berarti akan banyak proyek serupa yang menyusul. Puncak-puncak gunung Tarim pun kelak akan jadi puncak-puncak apartemen yang jadi hiasan baru kota. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 16 Februari 2026: Tarim Habib
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
TARIM,
DAN TEH SUSU..
Tarim terasa jauh di peta, tapi dekat di lidah. Teh susu manis itu seperti paspor budaya. Sekali teguk, langsung lintas negara tanpa cap imigrasi. Saya tersenyum membaca kisah ontok-ontok yang rupanya punya silsilah lebih jelas daripada sebagian manusia.
Menarik juga soal habib. Bukan marga, tapi martabat. Bukan wajah, tapi wibawa.
Di sana orang dipanggil Habib karena dicintai, bukan karena minta dipanggil.
Sederhana, tapi berat dijalani.
Kita di sini kadang kebalik: gelar dulu, baru perilaku menyusul, itu pun kalau sempat.
Rumah tanah Tarim juga mengajarkan sesuatu. Kuat karena dirawat. Roboh karena banjir. Mirip iman, mirip tradisi. Tidak kebal modernisasi, tapi tidak juga buru-buru menyerah. Lima tahun sekali ditambal, bukan diganti total. Ada kearifan dalam ritme itu.
Kalau nanti semen datang dan tanah pelan-pelan pamit, semoga yang tidak ikut hilang adalah rasa cukup. Dan tentu saja resep teh susu itu. Sebab peradaban boleh berubah, tapi kenangan sering memilih tinggal di cangkir yang sama
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
HABIB DAN KYAI..
Di Tarim, habib lahir dari ilmu dan manfaat. Di kita, kyai tumbuh dari keteladanan yang sabar.
Dua kata, satu ruh: dipercaya dulu, dipanggil kemudian.
Tidak ada yang minta disematkan.
Masyarakat yang memberi.
Di situ letak sejuknya.
Saya membayangkan jika habib dan kyai duduk bersama.
Yang satu membawa silsilah, yang satu membawa sanad.
Keduanya sama-sama membawa adab.
Obrolannya mungkin sederhana. Tentang umat. Tentang akhlak. Tentang bagaimana tetap rendah hati saat dipanggil tinggi.
Kita sering sibuk memeriksa gelar orang lain, tapi lupa mengecek manfaat diri sendiri.
Seperti menimbang teh tanpa pernah menyeduhnya.
Padahal yang dicari bukan label di kemasan, melainkan hangat di cangkir.
Akhirnya saya merasa, panggilan mulia itu bukan tujuan.
Ia efek samping dari hidup yang bermanfaat.
Entah disebut habib, entah dipanggil kyai, yang penting tetap menenangkan.
Seperti teh susu manis.
Tidak banyak bicara, tapi menghangatkan lama.
Dan menghilangkan dahaga..
Sugi
Kelebihan dan kekurangan memang selalu hadir dalam satu paket komplit. Rumah bata Tarim yang sejuk saat siang dan hangat saat malam ternyata bisa runtuh begitu saja karena hujan badai dan banjir. Bata di sana dan di sini memang beda, karena kondisi dan situasinya memang jauh berbeda. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Termasuk masalah penyebutan habib tadi Bah. Orang SINI memang lebih peduli dengan luaran daripada dalaman. Saya yakin tidak ada yang kaget. Terima kasih atas insightnya. Saya benar2 banyak belajar hal dari Tarim Bah.
Achmad Faisol
kalau yang saya tahu -- disclaimer: saya ga ngikuti serius -- akar masalah yang lagi viral di sini bukan tentang keturunan Nabi atau bukan, tetapi masalah akhlak, makam palsu, perubahan sejarah (misalnya pendirian NU yang memasukkan orang baru), nasab wali songo yang diubah menjadi keturunan orang lain (saat ini keturunan wali songo mulai mengumumkan mereka nasabnya ke siapa, ternyata bukan ke habib), dll...
karena bertumpuknya masalah dan ga ada yang berani negur karena takut kualat, muncullah tulisan kiai asal banten... ternyata, gayung bersambut...
rumit... menurut saya, silakan didiskusikan dan diselesaikan menurut aturan yang ada…
Waris Muljono
Kita memang kadang terlalu berlebih dlm menyerap budaya asing.
Yg menyerap budaya barat, akan jadi lebih barat dari orang barat sendiri. Yg menyerap budaya arab, akan lebih arab dari orang arab sendiri. Dst, dst.
Termasuk soal perhabiban ini. Sampai menimbulkan kegaduhan dan perdebatan. Bahkan nyaris adu fisik diantara massa yg pro dan kontra habib.
Padahal di negri asal habib, seperti diceritakan disway pagi ini, habib ga harus keturunan nabi, yg penting illmu tinggi dan punya peran besar di masyarakat. Jadi dilihat ilmu dan amal.
Bahkan nabi sendiri bersabda : andai fatimah anakku mencuri, maka aku sendiri yg akan memotong tangannya. Itu bisa sy tafsirkan ga keistimewaan soal keturunan nabi. Kl andapunya silsilah keturunan nabi tapi ilmu dan amalnya kureng ya anda biasa aja, sama kaya orang awam aja.
Tapi di indonesia budaya feodal masih kuat sepertinya. Silsilah lebih penting drpd adab. Gelar lebih berharga drpd ilmu.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Meski pondoknya mini alias sangat kecil, kakak saya sekarang berstatus Bu Nyai. Bapak saya memang seperti sudah merancang dia untuk jadi guru agama. Kakak saya itu full sekolah di Lirboyo sejak lulus MI lalu melanjutkan ke Tarim setelah dia menikah.
Pondoknya kecil. Kalau dibanding dengan pondoknya Abah Mukri ya jauh sekali. Pondoknya Abah Mukri terhitung besar. Namun karena Abah Mukri adalah bestie-nya bapak saya, tentu dia juga kenal baik sama kakak saya. Beliau juga yang ngajarin kakak saya untuk bisa memberangkatkan sekaligus memimpin jemaah umrah.
Memang banyak lulusan Tarim yang memimpin pondok pesantren di Indonesia. Salah satunya adalah Buya Yahya (Prof. Yahya Zainul Ma'arif) kiai besar pendiri Pondok Pesantren Al Bahjah Cirebon. Saat beliau masih belajar di Tarim, bapak saya sempat berfoto bersama beliau.
Cerita Abah tentang Tarim benar-benar mengingatkan saya kepada bapak saya. Ia memang sangat suka ke Tarim. Ia juga menyuruh anak-anaknya ke sana. Namun saya memang dari dulu agak ndablek, dan saya pun tak pernah Tarim.
Terima kasih Abah sudah bercerita lagi tentang Tarim. Bisa jadi obat kangen ke bapak saya.
Ahmed Nurjubaedi
Mengapa gelar habib jadi masalah di Indonesia sekarang? Karena gelar habib telah ditali-temalikan dengan kepentingan dunia…
heru santoso
Di Tegalarum, kampungnya Pak DI, dulu duluuu 5u orang mau bangun rumah itu modalnya "otot dan sabar". Batu bata dicetak sendiri di kebun masing-masing. Prosesnya tradisional sekali. Tapi itu cerita setengah abad lalu. Sekarang kebutuhan batu-bata lebih banyak dan semuanya sudah serba instan dan modern.
Membaca catatan perjalanan itu, kita seperti sedang mengukur rentang waktu. Ada daerah yang lari kencang ada yang tertinggal. Tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal: kenapa ya, daerah yang adab dan beragamanya sangat kuat, seringkali terlihat "tertinggal" oleh kemajuan?
Apakah karena mereka terlalu sibuk menata hati sampai lupa menata infrastruktur? Atau jangan-jangan, mereka sengaja "mengerem" kemajuan agar adabnya tidak ikut tergerus beton dan aspal?
Semoga Tarim setengah abad ke depan tetap istiqomah jadi pusat adab. Jangan sampai nanti kemajuan benar-benar datang, tapi orangnya malah lebih sibuk ber-medsos daripada menjaga adab.
Mujiburohman Abas
Unik juga kalau ternyata di Tarim panggilan habib lebih tinggi dari sayyid. Di Indonesia julukan tertinggi adalah syarif/syarifah. Di bawahnya sayyid/sayyidah. Barulah habib, sebuah julukan yang sekarang dikenakan secara bebas kepada siapapun yang berwajah Arab untuk menciptakan suasana akrab.
Jokosp Sp
Setelah berjalan melihat proses bikin bata dari tanah itu, langsung bilang dalam hati: "Ternyata masih sangat tradisional sekali. Seperti 65 tahun lalu ketika aku masih SD dan membantu bapak membuatnya". Secara otomatis pikiran bisnisnya muncul tanpa digerakkan : "Saya harus datangkan alat modern cetak bata press seperti yang ada di Jawa ke Tarim. Termasuk ahlinya". "Besok aku akan tour khusus ke Megelang, ke Albian Bata Magelang, ke UD Sinar Sejahtera, ke Nasa Keramik Art". "Aku juga akan ke Tegal. Ke UMKM Genteng & Bata Press Tegal. Sekalian, sudah lama kangen sate kambingnya". "Tapi sebelumnya aku akan ke Mojokerto yang lebih dekat, ke Mr. Bata.Com". Baru sebelum ke Jakarta aku akan mampir di Cikarang, ke CV.Hanina di Bekasi". "Bukannya bata press sudah dijual dengan proses yang sangat modern, dan bisa dipesan lewat online?. Bukannya lewat Shopee, Tokopedia dan Bibli.com sudah bisa?.". "Baiklah. Saya akan ajak pengusaha Tarim berkunjung ke sentra-sentra bata press di Jawa". "Dan para pelajar/ mahasiswa itu nanti bisa bantu di proses sistem penjualan modernnya. Di aplikasinya". Oh.......ternyata ini hasil jalan-jalannya. Mantab.
Leong Putu
"Yang jelas di struktur masyarakat Tarim ada empat level: yang tertinggi habib. Level kedua sayyid. Level ketiga dosen, guru, pedagang besar. Level empat orang biasa".
Berarti jika Pak Bos jadi warga negara Tarim, Pak Bos tergolong masyarakat level empat. Level orang biasa : biasa mbolang ninggal istri, biasa makan (cari) gratis.
mario handoko
selamat pagi bp jz.
"bahlil pastikan anak adies kadir gantikan ayahnya di dpr."
demikian berita di tempo.co.
ternyata profesi anggota dpr, sama dengan profesi penjual cilok.
sama2 turun temurun, bisa diwariskan.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Jokosp..
Tahun 80an saya rutin ke Martapura.
Karena saat itu, Martapura adalah "ibukota" Telkom Kalimantan.
Saat itu di Martapura ada 2 kantor besar
Yaitu:
1). Kantor Gubernur Kalsel.
2). Kantor Wilayah Usaha Telekomunikasi IX/Kalimantan.
Konon awalnya Bung Karno ingin ibukota Kalsel geser ke Martapura.
Tapi kantor yang mau "boyongan" ke sana hanya Kantor Gubernur Kalsel dan Telkom Kalimantan.
Rupanya keinginan pak Karno kurang disambut dunia usaha.
Akhirnya Telkom juga memindah "ibukota"nya ke Balikpapan.
Saya rutin ke Martapura dan juga Balikpapan, karena saat muda saya adalah auditor keuangan Telkom..
###
Saat saya sudah punya 2 anak.
Banyak orang tidak percaya saya udah menikah.
Termasuk ada cewek anak pak Haji pemilik hotel yang menganggap saya masih bujang saat itu.
Apalagi dikompori manteman satu tim.
Cerita masa lalu..
Tentang Martapura..
Jokosp Sp
Martapura kalau dilihat yang seperti di Tarim mungkin hanya bisa dilihat dari seputaran pondok pesantrennya. Ribuan para pelajar putra putri kalau pagi hari masuk ke area pondok dan komplek pendidikan itu. Yang sering kalau anda lewat harus sangat hati-hati dan melambatkan mobilnya. Jalan harus macet dengan banyaknya mobil antar jemput berjejer rapi di pinggir jalan itu. Ditambah ada persimpangan dari daerah Palampayan Astambul ( Datu Kalampayan - pengarang buku terkenal Sabilal Muhtadin di Asia Tenggara ). Perkiraan luasan pondok pesantren Darussalam sendiri sekitar 5 ha ( 0,05 km2 ). Sementara luasanKecamatan Martapura ada di 42,03 km2. Jadi jika dibandingkan hanya mencakup 0,12% dari total wilayah kecamatan tersebut. Selain area yang sudah ada tersebut di atas, masih ada bangunan baru yang dikembangkan di daerah Cempaka dengan luasan yang kurang lebih sama, 0,5ha. Akan lebih terasa suasananya jika anda ikut jadi jama'ah datang dan melihat ketika ada Haul Guru Sekumpul ( KH. Muhammad Zaini bin Abdul Gani ) di Martapura. Perkiraan saja untuk tahun 2024 ada 3,3 juta jamaah hadir, dan tahun 2025 tahun kemarin meningkat menjadi 4,1 juta. #Martapura serambi Makah.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
TARIM VS KALSEL..
Ada yang bertanya.
Mengapa santri Kalsel banyak mondok di Tarim.
Bahkan disebut paling ramai di antara orang Indonesia.
Jawabannya tidak satu.
Tarim itu kota ilmu.
Mazhab Syafi’i kuat.
Tasawufnya hidup.
Kitabnya klasik.
Sanadnya jelas.
Bagi santri Banjar, ini seperti pulang ke akar.
Sejarah ikut bekerja.
Ulama Hadramaut sejak lama singgah ke Nusantara.
Jejaknya sampai ke Kalsel.
Murid melahirkan murid.
Lalu jadi jalur tetap.
Sekali ada yang berangkat, yang lain ikut.
Efek domino.
Bukan sihir.
Jaringan.
Pemda Kalsel juga menyiram bensin.
Beasiswa.
Program kader ulama.
Nama Tarim pun makin akrab di telinga kampung.
Soal jumlah.
Data resmi susah.
Yaman bukan negara yang rajin sensus santri.
Perkiraan diplomatik menyebut sekitar 4.000 santri Indonesia di Yaman, termasuk Tarim.
Dari Kalsel?
Tak ada angka pasti.
Tapi tiap tahun puluhan berangkat.
Kalau dikumpulkan, jelas besar.
Kesimpulannya sederhana.
Bukan karena Kalsel paling hebat.
Tapi karena paling konsisten.
Mbah Mars
Seorang murid bertanya:
"Guru, bagaimana cara menemukan kebenaran ?"
Nasirudin Hoja menjawab: "Lepaskan dulu keinginan untuk selalu benar”
Liam Then
Jika Rp1 Triliun itu dipakai untuk paket Solar Panel Hybrid + Kompor Listrik, lewat pengadaan bulk purchasing kita bisa menyasar sekitar 70.000 hingga 80.000 rumah.
Mari kita hitung penghematan subsidi negara per rumah:
Subsidi LPG 3kg: Rata-rata rumah tangga miskin pakai 3-4 tabung/bulan. Negara menyubsidi sekitar Rp15.000 - Rp20.000 per tabung.
Penghematan: Rp60.000 - Rp80.000 / bulan.
Subsidi Listrik (450VA/900VA): Dengan solar panel, konsumsi listrik dari PLN turun drastis.
Negara bisa menghemat subsidi tarif.
Penghematan: Rp50.000 - Rp70.000 / bulan.
Total Penghematan per Rumah: \approx Rp130.000 / bulan atau Rp1.560.000 / tahun.
Hitungan Balik Modal (ROI) Negara:
Total Penghematan Nasional (80.000 rumah): 80.000 x Rp1.560.000 =
124,8 miliar per tahun.
Masa Pemulihan Biaya: Rp1 Triliun : Rp124,8 Miliar = sekitar 8 tahun.
Tunggu, ada faktor efisiensi G-to-G!
Jika lewat Bulk PO China harga turun 30%, maka biaya per unit lebih murah, dan titik balik modal bisa ditekan menjadi 5 sampai 6 tahun saja.
Belum lagi manfaat edukasi dan sosialisasi untuk proyek lebih lanjut pakai kompor listrik.
@Murid SD Internasional.
Boy, mana kau, bantu aku nih…
HANVINCY ADNOV
Masya Allah.. Para Pemburu Ilmu itu dari Kalsel tepatnya Martapura yg mewarisi semangat memburu ilmu dari Syekh Arsyad Albanjari yg menalukkan samudra ketika terusan Suez belum jadi.
Eksan Susanto
Habib di sini menjadi perdebatan.. salah duanya karena adab yang dipertontonkan pemilik gelar habib tadi. padahal di hulunya sedemikian mulianya gelar habib tsb.
Duluuuu... aku sempat mengagumi dan mem-follow seorang Habib dari Solo.. yaa Solo lagi.. tapi kok lama-lama jadi gak sreg yaa.. karena beberapa ceramahnya yang seolah mengkultuskan gelar 'Habib' dan satu lagi selalu minta sumbangan.. hmmm
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:


Komentar: 16
Silahkan login untuk berkomentar