Selain bansos reguler, Kemensos juga menyiapkan bansos adaptif untuk penanganan pascabencana.
Bantuan umum tersebut meliputi logistik, dapur, santunan kematian dan luka, jaminan hidup (jadup), serta bantuan pemulihan sosial ekonomi bagi masyarakat terdampak.
BACA JUGA: Bahlil: Impor Energi US$15 Miliar dari AS Tak Tambah Volume, Hanya Alihkan Sumber
BACA JUGA: Indonesia Resmi Kuasai 63 Persen Freeport, Tambahan 12 Persen Saham Gratis
Total anggaran bansos adaptif yang dijual mencapai lebih dari Rp2 triliun.
Sementara anggaran kedaruratan hampir Rp100 miliar telah tersalurkan.
Rinciannya, santunan ahli waris sebesar Rp14,8 miliar bagi 990 jiwa (Rp15 juta per jiwa), bantuan isi perumahan Rp98,7 miliar untuk 32,9 ribu kepala keluarga (Rp3 juta per keluarga), serta jadup Rp25,8 miliar untuk 19,1 ribu jiwa.
Penyaluran dilakukan secara bertahap dengan mengacu pada satu data nasional BNPB.
Data korban diusulkan kepala daerah secara by name by address (BNBA), kemudian ditetapkan dalam daftar nominatif dengan persetujuan Muspida, divalidasi, dan izin oleh Menteri Dalam Negeri sebelum bantuan dicairkan oleh Kemensos.
BACA JUGA:Praktisi Kritisi Pasal yang Kerap Seret Pebisnis Terjebak dalam Korupsi
BACA JUGA:Natalius Pigai: Menolak Program MBG Sama dengan Menentang HAM!
“Dari total lebih Rp2 triliun, sekitar Rp600 miliar sudah tersedia di rekening dan siap disalurkan. Sisanya masih dalam proses Pengajuan Anggaran Belanja Tambahan (ABT),” pungkas Gus Ipul .