Bahlil: Impor Energi US$15 Miliar dari AS Tak Tambah Volume, Hanya Alihkan Sumber

Bahlil: Impor Energi US$15 Miliar dari AS Tak Tambah Volume, Hanya Alihkan Sumber

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia buka suara soal alokasi US$ 15 miliar atau sekitar Rp 253,47 triliun (asumsi kurs Rp 16.898 per US$) per tahun untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan minyak mentah (crude) dari Am-Tangkapan Layar/YouTube-

 

JAKARTA, DISWAY.ID -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia buka suara soal alokasi US$ 15 miliar atau sekitar Rp 253,47 triliun (asumsi kurs Rp 16.898 per US$) per tahun untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan minyak mentah (crude) dari Amerika Serikat.

Ia menjelaskan alokasi tersebut bukan diartikan menambah volume impor namun Pemerintah hanya akan menggeser sebagian sumber impor dari sejumlah kawasan.

"15 miliar US Dollar yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat bukan berarti kita menambah volume impor. Namun, kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara, di antaranya negara dari Asia Tenggara, Middle East, maupun di beberapa negara di Afrika," kata Bahlil saat konferensi pers melalui virtual, Jumat, 20 Februari 2026.

BACA JUGA:Indonesia Resmi Kuasai 63 Persen Freeport, Tambahan 12 Persen Saham Gratis

BACA JUGA:Praktisi Kritisi Pasal yang Kerap Seret Pebisnis Terjebak dalam Korupsi

Ia menjelaskan bahwa secara total neraca komoditas pembelian BBM dari luar negeri tetap sama hanya dilakukan pengalihan sumber negara asal.

"Dalam praktiknya nanti, pembelian ini sudah barang tentu akan memperhatikan mekanisme-mekanisme keekonomian yang saling menguntungkan, baik menguntungkan kepada pihak Amerika Serikat dan badan usahanya, maupun dari pihak Indonesia," ujar dia.

Lebih lanjut, Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan neraca perdagangan Indonesia.

Bahlil menjelaskan, alokasi tersebut telah dimuat secara jelas dalam perjanjian yang disepakati.

"Dari 15 miliar US Dollar ini terdiri dari: membeli BBM jadi, kemudian LPG, dan crude. Sudah barang tentu ini adalah merupakan langkah sejarah baru kita membeli dalam jumlah yang besar," jelasnya.

BACA JUGA:Natalius Pigai: Menolak Program MBG Sama dengan Menentang HAM!

BACA JUGA:Menhaj Awasi Kesiapan Dapur Jemaah, Cita Rasa Nusantara Tetap Jadi Andalan

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia sepakat untuk mengimpor komoditas energi hingga US$ 15 miliar atau sekitar Rp 253,47 triliun (asumsi kurs Rp 16.898 per US$) per tahun dari Amerika Serikat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads