BACA JUGA:Polisi: Pemukul Pegawai SPBU di Cipinang yang Ngaku Aparat Dipastikan Warga Sipil
BACA JUGA:Dukung Gus Yaqut, Ratusan Banser Hadiri Sidang Praperadilan Kasus Kuota Haji di PN Jaksel
“Alhamdulillah, jalan tiap hari. Banyak yang pesan. Jadi pokoknya makanan tradisional mah yang paling banyak dicari masyarakat tuh cuman gegeplak, jojorong,” ujar Iyar saat ditemui di tempat produksinya.
Selain Jojorong, ia juga membuat beberapa jajanan tradisional lain seperti geplak, buras, hingga risol.
Namun Jojorong tetap menjadi yang paling banyak diburu pembeli. Dalam sehari, Emak Iyar mampu memproduksi ratusan kue.
“Harga Jojorong Rp1.500 per buah. Geplak juga sama. Kalau kroket 10 pcs harganya Rp8.000 sampai Rp10.000 sudah pakai sambal,” jelasnya.
Di hari biasa, penghasilannya tidak menentu. Namun selama Ramadan, omzetnya bisa meningkat hingga jutaan rupiah.
“Ya kadang-kadang kita sehari dapat kecilnya 300, gedenya 500 gitu,” katanya.
BACA JUGA:Penjualan Melejit 130%, Hankook Bidik Pasar EV dan SUV di 2026
BACA JUGA:Balas Budi Menkes, Dokter Piprim Dipecat Usai Sukses Berantas TBC?
Di tengah menjamurnya kue modern dan dessert kekinian, Emak Iyar memilih tetap setia membuat jajanan tradisional.
Baginya, usaha ini bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjaga warisan keluarga agar tidak hilang ditelan zaman.