JAKARTA, DISWAY.ID - Imunisasi campak-rubella (MR) kembali ditegaskan sebagai langkah paling efektif dalam mencegah penularan campak di Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menekankan pentingnya cakupan imunisasi yang lengkap dan merata hingga tingkat desa untuk memutus rantai penyebaran penyakit menular tersebut.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Andi Saguni, mengatakan pemerintah terus meningkatkan capaian imunisasi nasional melalui strategi imunisasi rutin, imunisasi kejar, serta pemberian imunisasi tambahan di daerah berisiko.
"Keberhasilan pengendalian campak sangat ditentukan oleh pemerataan, bukan sekadar angka nasional," tambahn Andi.
BACA JUGA:Menkes Buka Suara: Campak Lebih Ditakuti daripada Virus 'Super Flu' di Pengungsian Bencana
BACA JUGA:Dipicu Virus Paramyxovirus, Pramono Perketat Penularan Penyakit Campak dari Luar Daerah
“Pencegahan campak sangat bergantung pada imunisasi yang lengkap dan merata. Ketika cakupan tinggi dan tidak ada wilayah yang tertinggal, rantai penularan bisa dihentikan".
Dia melihat meski tren cakupan imunisasi menunjukkan peningkatan, masih ditemukan sejumlah daerah dengan partisipasi rendah. Wilayah-wilayah ini berpotensi menjadi kantong penularan yang memicu kejadian luar biasa (KLB).
Karena itu, Kemenkes menggencarkan pelacakan anak yang belum imunisasi serta memperkuat kerja sama dengan puskesmas dan pemerintah daerah.
Dilain pihak, Konsultan Penyakit Infeksi dan Tropik Anak dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti, mengingatkan pentingnya membaca data hingga tingkat paling bawah.
BACA JUGA:Buntut KLB Campak, Menkes Budi akan ke Sumenep dan Dorong Akselerasi Imunisasi
BACA JUGA:RB Leipzig Incar Harvey Elliott Usai Dicampakkan Arne Slot, The Reds Tak Jamin Main Reguler
Ia menyebut, capaian nasional yang tinggi belum tentu mencerminkan perlindungan merata di lapangan.
“Secara nasional capaian imunisasi MR sudah melampaui target, tetapi kasus campak masih bisa terjadi jika ada desa atau wilayah tertentu yang cakupannya rendah. Kantong-kantong inilah yang harus menjadi fokus pencegahan,” jelasnya.
Selain imunisasi, pemerintah juga menguatkan edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, deteksi dini gejala, serta respons cepat fasilitas kesehatan.