YAHUKIMO, DISWAY.ID-- Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 terus mempersempit ruang gerak kelompok kriminal bersenjata (KKB) di wilayah Papua Pegunungan.
Melalui serangkaian penyidikan intensif, aparat berhasil mengungkap identitas satu nama baru yang menjadi aktor intelektual di balik rentetan aksi kekerasan di Kabupaten Yahukimo yaitu Meno Kogoya.
Nama Meno Kogoya mencuat setelah tim gabungan melakukan pendalaman terhadap rentetan aksi teror sejak pertengahan 2025 hingga awal 2026.
BACA JUGA:Papua Connection Kutuk Kekerasan KKB: Serangan ke Guru dan Nakes Bentuk Teror Kemanusiaan
Sosok ini diduga kuat menjadi dalang serangan yang menyasar warga sipil hingga armada transportasi udara milik negara.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Yusuf Sutejo, membeberkan catatan kriminal Meno yang cukup panjang.
Di antaranya adalah terlibat dalam pembunuhan dua pendulang emas (20/9/2025), serta rentetan penembakan kendaraan sipil seperti Hilux Armor dan Avanza putih di penghujung 2025.
"Yang paling menonjol, Meno Kogoya teridentifikasi terlibat dalam aksi penembakan pesawat Hercules pada 14 Januari 2026 lalu," tegas Yusuf kepada awak media, Senin (2/3).
Selain Meno, Satgas juga mendalami keterlibatan tiga nama lain yang perkaranya kini ditarik ke Polda Papua. Mereka adalah Kotor Payage alias Kotoran Giban, Enage Heluka, dan Homi Heluka.
Kotor Payage diduga terlibat dalam serangan terhadap prajurit TNI, Serka Segar Mulyana, pada Juni 2025.
BACA JUGA:143 Juta Orang Bakal Mudik Lebaran 2026, Menko PMK Tekankan Keselamatan Jiwa
Sementara Homi Heluka dikaitkan dengan aksi pembakaran kendaraan dinas Polri dan penembakan sopir truk di Jalan Logpon pada Februari 2026.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigjen Pol Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa negara tidak akan kalah oleh aksi premanisme bersenjata.
Penegakan hukum dilakukan secara profesional dan berbasis bukti (indeks primer).
"Kami berkomitmen menuntaskan setiap kasus yang meresahkan masyarakat. Kami juga melakukan profiling mendalam terhadap kelompok kriminal politik yang kerap menyebarkan narasi provokatif di media sosial," tambah Wakil Kepala Operasi, Kombes Adarma Sinaga.