JAKARTA, DISWAY.ID— Di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang semakin membara, kekuatan perang udara menjadi faktor penting dalam dinamika militer antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel.
Dalam pemberitaan sepekan terakhir, penggunaan rudal, drone dan pesawat pengebom oleh negara-negara terlibat konflik semakin meningkatkan eskalasi di kawasan Timur Tengah.
Peta kekuatan tempur tersebut memang didominasi AS. Sedangkan di medan pertempuran, semuanya berlangsung dinamis.
BACA JUGA:Menjelajah Isfahan dan Teheran, Pusat Kebudayaan Iran Lengkap Jejak Sejarah dan Keseniannya
Berdasarkan data Global Firepower Index 2026, AS mendominasi secara global dengan peringkat 1, diikuti Israel di posisi 15, dan Iran di 16 dari 145 negara.
Indeks ini menilai kekuatan berdasarkan personel, peralatan, anggaran, dan faktor strategis lainnya.
AS memiliki keunggulan absolut dalam jumlah dan teknologi, dengan armada lebih dari 13.000 pesawat yang mencakup jet tempur generasi kelima seperti F-22 dan F-35.
Israel unggul dalam teknologi canggih dan integrasi sistem pertahanan udara seperti Iron Dome, sementara Iran mengandalkan kuantitas dan rudal balistik untuk kompensasi kekurangan armada pesawat konvensional yang banyak berasal dari era Soviet atau pra-revolusi.
Dari persenjataan tempur di udara menunjukkan dominasi AS dalam skala global, dengan kemampuan proyeksi kekuatan jarak jauh melalui carrier strike groups dan jet siluman.
Israel fokus pada superioritas udara regional dengan armada F-35 dan F-15 yang modern, sementara Iran mengimbangi dengan rudal balistik seperti Khorramshahr-4 dan drone murah untuk perang asimetris.
BACA JUGA:Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Kena OTT KPK, Berikut Silsilah Keluarga Penyanyi Dangdut A Rafiq
Diketahui, eskalasi konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 ini telah mengubah dinamika kekuatan tempur di udara secara signifikan. AS dan Israel melancarkan serangan gabungan bernama Operation Epic Fury/Roaring Lion, menargetkan fasilitas nuklir, pangkalan militer, dan kepemimpinan Iran, termasuk tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Serangan ini melibatkan ribuan sorti udara, menghancurkan situs rudal dan pertahanan udara Iran.
Iran membalas dengan ratusan rudal balistik hipersonik (seperti Kheibar, Emad, Ghadr) dan drone (Shahed-136), menargetkan Israel serta pangkalan AS di Teluk seperti di UEA, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) klaim menembus Iron Dome Israel dan menarget kantor PM Benjamin Netanyahu serta markas angkatan udara Israel.
Hingga Selasa (3/3) ini, konflik meluas ke serangan balasan, dengan Iran tutup Selat Hormuz dan ruang udara, menyebabkan kerusakan bandara sipil seperti di Dubai dan Abu Dhabi.