Pemerintah rupanya sadar bahwa kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Isu PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) mulai menghantui di awal 2026. Sektor industri mulai goyang.
Maka, lahirlah sebuah "pasukan khusus": Satgas PHK.
Presiden Prabowo Subianto sudah mengetok palu. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa satgas ini bukan cuma tim pemantau yang kerjanya mencatat jumlah orang yang menganggur.
BACA JUGA:Thrifting Bakal Banjiri Pasar Menuju Lebaran 2026, Tantangan Bagi Pengusaha Lokal!
"Satgas PHK selain memonitor juga mencarikan alternatif, mencarikan pekerjaan untuk yang terkena PHK," tegas Airlangga.
Ada juga Dewan Kesejahteraan Buruh yang ikut dibentuk. Tujuannya satu: memitigasi gelombang kegelapan di sektor ketenagakerjaan. Mensesneg Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa rancangan ini sudah disetujui presiden.
Ini adalah sinyal bahwa pemerintah sedang bersiaga penuh. Mereka tahu, jika gelombang PHK tidak dibendung, Lebaran 2026 yang harusnya penuh tawa bisa berubah jadi duka massal.
Begitulah potret Lebaran 2026 kita.
Di satu sudut, ada kemilau tunik Branza di PGC yang melambangkan optimisme dan kekuatan media sosial.
Di sudut lain, ada motor Dewi yang sarat beban sembako menuju kampung halaman. Dan di atas sana, ada para birokrat yang sedang berjibaku dengan angka-angka defisit dan ancaman PHK.
Kita memang sedang berada di tengah badai ekonomi global. Tapi seperti kata Faisal, "orang tua di kampung itu nggak selamanya ada." Itulah yang membuat roda ekonomi kita tetap berputar. Rindu adalah bahan bakar paling murah sekaligus paling mahal di negeri ini.
Baju baru memang menggoda. Apalagi yang sedang viral. Tapi pada akhirnya, kebahagiaan sejati Lebaran bukan terletak pada seberapa baru baju kita, melainkan pada seberapa hangat pelukan kita saat sampai di rumah nanti. Meskipun tanpa tunik baru. Meskipun hanya membawa beras dan doa.
Selamat menyusun strategi mudik. Semoga selamat sampai tujuan. (*)
Reporter: Bianca Chaerunnisa, Hasyim Ashari, Dimas Rafi, Anisha Aprilia