JAKARTA, DISWAY.ID - Sejumlah negara umumkan status darurat energi imbas perang Iran vs Amerika Serikat-Israel di Timur Tengah.
Kebijakan darurat energi yang dilakukan beberapa negara ini menyikapi dampak yang di timbulkan akibat perang, terutama terganggunya pasokan minyak dan bahan bakar di dunia.
Adapun negara yanng menetapkan status darurat energi yakni Filipina, Bangladesh, dan Korea Selatan.
BACA JUGA:Tensi Perang Timur Tengah Mereda, IHSG Diproyeksi Menguat Hari Ini: Cek Rekomendasi Saham!
Masing-masing negara menghadapi tekanan yang berbeda akibat gangguan pasokan yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Filipina sendiri mengambil langkah cepat memberlakukan darurat energi nasional oleh Presiden Ferdinand Marcos pada Selasa, 24 Maret 2026.
"Keadaan darurat energi nasional dengan ini diumumkan mengingat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, serta bahaya yang ditimbulkannya terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara," bunyi perintah eksekutif, dikutip AFP, Kamis, 26 Maret 2026.
Filipina diketahui telah menyiapkan dana darurat 20 miliar peso (sekitar Rp5,61 triliun) untuk membeli hingga 2 juta barrel bahan bakar, termasuk produk minyak olahan dan liquefied petroleum gas (LPG).
BACA JUGA:Nah Lho! Bukan WFH, Warga Korsel Diminta Jangan Mandi Kelamaan Imbas Perang Iran-Israel
Darurat energi nasional ini akan berlaku selama satu tahun kecuali diperpanjang atau dicabut oleh Presiden Ferdinand Marcos.
Sementara itu, Bangladesh menghadapi tekanan yang berbeda, di mana krisis bahan bakar memicu antrean panjang dan kekacauan di berbagai wilayah.
Pasokan energi yang dimiliki negara tersebut dinilai tidak mampu mengejar lonjakan permintaan.
Di lain sisi, Korea Selatan mulai meningkatkan perencanaan darurat untuk skenario terburuk di Timur Tengah.
Perdana Menteri Kim Min Seok mempertimbangkan pemerintah perlu memperkuat sistem respon preventifnya karena konfil Iran vs AS-Israel.
BACA JUGA:Kepala Bappisus: Jangan Khawatir, Ekonomi Indonesia Kuat Meski Ada Perang Iran–Israel dan AS