Lumbung Komisi

Lumbung Komisi

--

"Nisa masuk rumah sakit," ujar wanita muda itu saat mencegat saya di pintu keluar.

"Sakit apa?"

"Kan hati Nisa tinggal separo," jawabnyi.

Saat itu saya sedang di SMAK Kolase Santo Yusuf, Malang. Banyak juga wanita berjilbab hadir di SMA Katolik di akhir bulan puasa lalu. 

Di perjalanan saya buru-buru menelepon suami Nisa: Rochmat Sholekhudin. Sebenarnya saya tidak terpengaruh oleh keterangan wanita muda tadi. Sakit Nisa pasti tidak ada hubungan dengan hatinyi yang tinggal separo –yang setengahnya sudah diberikan kepada sang suami: untuk transplantasi hati di Beijing enam bulan lalu. 

Benar saja: Nisa masuk rumah sakit karena kekurangan cairan di tubuhnyi. Ia sudah dua hari muntaber. Salah makan. Saat saya telepon sang suami, Nisa sudah keluar rumah sakit. Sudah sehat.

Kisah itu saya ceritakan kepada tamu-tamu saya kemarin: 21 orang. Ada Pak Achmad Mukri, mertua Nisa beserta istrinya. Ada anak-anak Nisa. Untung soto Banjarnya masih banyak. Pun untuk rombongan 15 orang pesepeda yang mampir ke soto Banjar itu.


--


--

Maksud saya: agar keluarga tidak mudah mengaitkan sakitnya Nisa dengan pemberian separo hatinyi kepada suami. Terbukti tidak ada hubungannya sama sekali.

Dan lagi hati Nisa yang awalnya tinggal separo itu kini sudah utuh lagi seperti sedia kala. Secara medis, hati yang dipotong separo terus bertumbuh. Dalam tiga bulan sudah kembali utuh,

Pun hati yang diberikan kepada suami juga bertumbuh. Di tubuh suami, dalam tiga bulan juga menjadi hati yang utuh.

Kemarin saya lihat suami istri itu sehat sekali. Nisa lebih cantik –berat badannyi turun setidaknya lima kilogram. Rochmat juga lebih ganteng: wajahnya seger cerah. Bibirnya merah. 

"Sebelum transplant kelihatan layu," ujar istri saya.

"Bukan hanya layu, Bu. Juga menghitam," ujar Bu Mukri. Sang ibu sangat bersyukur anak bungsunyi bisa terselamatkan dari sakit liver yang sangat berat.

Di hari keenam Lebaran kemarin itu, Pak Mukri datang lengkap dengan besan dan anak cucu menantu: lima mobil. Pak Mukri sendiri naik Denza baru –kena provokasi seseorang yang lebih dulu memilikinya.

"Saya baru datang dari Makkah tadi malam," ujar Pak Mukri. 

"Berarti Lebaran di Makkah?"

"Iya, membawa jamaah umrah yang ingin merasakan Idulfitri di Makkah," jawabnya.

Umur Pak Mukri sudah 76 tahun. Tiap bulan masih ke Makkah membawa jamaah umrah Ar Rahman, miliknya. Ar Rahman terbesar di Mojokerto. Terbesar kedua di Jatim. Bahkan dalam bulan puasa kemarin ia dua kali ke Makkah. Awal Ramadan dan di akhirnya.

Pun setiap musim haji: selalu ke Makkah. Tidak pernah absen. Sejak 2001. Bahkan sejak statusnya masih pegawai negeri di kantor Kementerian Agama, Mojokerto.

Itu sempat dipersoalkan teman-temannya: sudah lima tahun dapat cuti besar setiap tahun. Padahal aturannya, cuti besar hanya lima tahun sekali.

Tahun itu, menjelang berangkat haji, ia dipanggil atasan. Tidak boleh berangkat. Tidak lagi dapat cuti. Bikin tidak adil kepada yang lain.

Mukri langsung minta pensiun. Ditolak. Tidak semudah itu. Mukri tidak menyerah. Dasar pengusaha. Ia ke Jakarta. Ia urus sendiri pensiun dini ke Kementerian Agama. Toh masa pengabdiannya sudah cukup. Tinggal enam tahun lagi pensiun. 

Mukri masih ingat berapa meja yang harus ia datangi: 16 meja. Dalam dua hari selesai. Ia pun pulang ke Mojokerto –pamitan ke atasannya. Sang atasan kaget: Mukri benar-benar sudah membawa dokumen pensiun dini.

Tengah malam sebelum ke Jakarta, Mukri keluar rumah. Sendirian. Ke halaman. Di keheningan malam itu ia berdoa: semoga setelah pensiun dini nanti rezekinya lebih banyak. 

Meski sudah lama pensiun, Mukri belum sepenuhnya pensiun dari kantor Kementerian Agama, Mojokerto. Ia masih diminta untuk tetap mengurus Koperasi Merah Putih yang sebenar-benarnya benar: tumbuh dari bawah. Dari sangat miskin. Menjadi Koperasi besar di tangan Mukri. Kini kekayaannya mencapai hampir Rp 50 miliar. Padahal anggotanya hanya 500 orang pegawai kantor itu.

Koperasi Mukri hanya kalah oleh koperasi satunya di Pasuruan. Tepatnya di Pandaan. Yakni koperasi wanita. Namanya: Koperasi Konco Wungu –diambil dari nama ratu Majapahit yang terkenal itu.

Tentu tidak mudah mendapatkan 80 ribu orang seperti Mukri untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih se-Indonesia. Makanya Presiden Prabowo memutuskan pakai jalan lain: top down (lihat Disway 1 Maret 2026: Petir Agrinas). 

Sebagai tamatan PGA, awalnya Mukri jadi guru miskin di Depag, Mojokerto. Untuk ke sekolah pun tidak punya sepeda. Padahal rumahnya 14 Km dari kota.

Maka Mukri "ngenger" tinggal di rumah kepala sekolah. Selain mengajar ia mengerjakan apa saja yang ditugaskan bapak asuhnya. Termasuk pekerjaan koperasi pegawai yang kala itu diurus sang kepsek.

Lama-lama kepala sekolahnya memercayakan pengurusan koperasi sepenuhnya kepada Mukri. Meski namanya koperasi simpan pinjam, tapi lebih banyak yang meminjam daripada yang menyimpan. Uang yang bisa diputar tidak mencukupi untuk banyaknya peminjam. 

Mukri cari akal: ia perbanyak jenis simpanan. Ada simpanan hari raya. Simpanan hari tua. Simpanan untuk anak masuk sekolah. Simpanan untuk haji. Lama-lama dana yang bisa diputar kian banyak. Tapi Mukri tetap konservatif. 

"Dalam soal uang saya dinilai keras dan kejam," ujar Mukri. "Sampai ada yang bilang kalau saya ini diibaratkan menggenggam air tidak akan ada air yang bisa menetes," ujarnya.

Permintaan pinjaman dari atasannya pun pernah ia tolak –kalau kredit rating sang atasan sudah tidak memenuhi syarat. Pengurus koperasi sendiri tidak bisa ambil pinjaman kalau tidak memenuhi syarat. Inilah inti sukses koperasi. Pun di Merah Putih kelak.

Tahap berikutnya, Mukri bekerja sama dengan diler sepeda motor di Mojokerto. Pegawai yang ingin kredit motor bisa lewat koperasi. Tanpa uang muka. Bunganya murah. Program ini laris sekali. 

Mukri dapat komisi dari diler sepeda motor. Nilainya lima persen. Sangat besar. Tapi Mukri tidak mau mengambil haknya itu. Komisi itu ia masukkan ke "lumbung" koperasi. Tiap ada ketentuan baru di bidang seragam pegawai, Mukri memberikan seragam baru kepada pegawai: gratis. Uangnya diambilkan dari "lumbung komisi" tadi. 

Nama Mukri kian harum. Koperasi kian besar. Tapi kekerasan dan kekejaman di bidang keuangan tidak pernah kendor. Pun ketika Mukri sudah pensiun, ia tidak boleh pensiun dari koperasi.

Tentu tidak adil kalau saya tidak menulis tentang sukses Kencono Wungu: tapi saya harus mencari Mahapatih Gadjah Mada duluuntuk bisa menemukan di mana Kencono Wungu.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 26 Maret 2026: Daftar Keinginan

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PURBAYA, TENTANG HARGA MINYAK.. Purbaya bicara lugas. Bahkan agak pedas. Intinya sederhana: jangan panik berlebihan. Harga minyak naik, iya. Tapi dunia belum kiamat ekonomi. Bahkan menurutnya, yang lebih dulu pusing justru Donald Trump. BBM naik, rakyatnya protes. Politik ikut panas. Logikanya menarik. Kalau minyak tembus US$150 atau bahkan US$200 per barel, bukan hanya Indonesia yang goyang. Dunia bisa ikut limbung. Jadi, asumsi ekstrem dipakai untuk menakut-nakuti, ya hasilnya pasti menakutkan. Seperti nonton film horor sambil merem—yang ada malah tambah tegang. Purbaya juga menyentil “ekonom instan”. Yang menghitung risiko hanya dari satu variabel: harga minyak. Padahal ekonomi itu seperti masakan padang. Banyak bumbu. 1) Ada kebijakan fiskal, 2) Moneter, 3) Cadangan devisa, hingga 4) Daya tahan konsumsi. Indonesia, katanya, masih bisa jaga stabilitas. Ini bukan berarti kebal. Tapi juga bukan selemah yang dibayangkan. Pesannya jelas: 1) Kritik boleh. 2) Tapi pakai hitungan. 3) Bukan pakai firasat. Kalau tidak begitu, ya benar kata beliau. Itu bukan analisis. Itu ramalan cuaca tanpa lihat langit.

Gregorius Indiarto

"Dia-duanya kalah. Itu kesimpulan saya", tulis Anda. "Mereka-tiganya kalah, ini kesimpulan saya" "Menang jadi arang, kalah jadi abu" Itulah perang. 'Penonton' pun tidak ada yang gembira. Itu kalau 'penonton' nya normal. Berhenti perang adalah kemenangan untuk semua, termasuk "penonton' (yang normal). Semoga kita semua adalah 'penonton' yang normal. Met pagi, salam sehat, damai dan bahagia. 

Achmad Faisol

ada novel yang sangat bagus berlatar belakang palestina sebelum datangnya zionis hingga zionis datang dan membuat kekacauan... judul: my salwa my palestine: kisah tentang kesetiaan pada Tuhan, tanah air, dan manusia... pengarang: ibrahim fawal

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@pak Mario.. @pak Jokosp Sp.. Ini penjelasan untuk komentar kemarin.. OK OCE MART MEMANG ADA, TAPI TIDAK JADI CERITA BESAR.. Komentar Pak Mario menarik. Tapi perlu diluruskan pelan-pelan. 1) Pertama: apakah OK OCE Mart itu ada? Jawabannya: ada. Program ini bagian dari inisiatif OK OCE yang digagas era Anies Baswedan dan didorong oleh Sandiaga Uno. Konsepnya: membantu UMKM naik kelas, termasuk lewat gerai/kemitraan ritel. 2) Kedua: apakah benar gagal? Jawabannya: tidak sesederhana itu. Yang terjadi lebih tepat disebut: tidak berkembang luas seperti minimarket besar. Eksposurnya redup karena modelnya berubah dan menyebar ke pelatihan & komunitas, bukan ritel fisik Jadi bukan “tutup massal karena bangkrut”, tapi: Dari ambisi jadi jaringan ritel → bergeser jadi gerakan pembinaan UMKM Masalah utamanya klasik: 1) bersaing dengan raksasa seperti Alfamart dan Indomaret. 2) skala & supply chain tidak kuat. 3) perilaku konsumen sudah “terkunci” ke pemain lama. Kesimpulannya: Programnya ada. Tidak hilang. Tapi untuk format “mart”, memang tidak berhasil jadi pemain besar. Ibaratnya: niat buka “mini market nasional”, yang jadi justru “sekolah wirausaha”. Tidak gagal total, tapi juga bukan sesuai mimpi awal.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

SUMBANGAN IDE UNTUK CABUP BANGKALAN.. Saya bukan politisi. Tidak punya ambisi jadi bupati. Apalagi bupati Bangkalan. Tapi tiap melewati Tanah Merah, Blega, dan Galis, niat itu sempat mampir sebentar. Bukan karena kuasa. Tapi karena pegel. Macetnya bukan main. Dan konsisten sejak tahun 60an. Pasar tumpah itu hidup. Tidak salah. Justru itu tanda ekonomi bergerak. Yang salah, jalannya tidak ikut naik kelas. Kalau saya jadi cabup Bangkalan program unggulan saya adalah bangun flyover di tiga pasar itu. Tidak usah muluk. Fungsional saja. Biar yang lewat tidak mengganggu yang hidup di bawah. Semua tetap jalan. Semua tetap makan. Biayanya? Separuh APBD. Separuh lagi dari iklan. Baliho pindah ke atas. Lebih mahal, tapi juga lebih terlihat. Win-win. Tidak perlu teori tinggi. Ini logika lelah. Kalau ada calon bupati mau ambil ide saya ini, silakan. Saya relakan. Bahkan saya doakan terpilih. Saya tidak minta apa-apa. He he.. Cukup satu: kalau nanti lewat situ, saya tidak perlu lagi berhenti lama hanya untuk merenung.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PASAR TUMPAH DI PULAU MADURA.. Mudik ke Madura itu bukan sekadar perjalanan. Itu ujian kesabaran level lanjut. Bukan macet tol. Tapi pasar tumpah. Tiga titik yang legendaris: 1) Tanah Merah, 2) Blega, 3) Galis. Di sana, jalan bukan lagi milik kendaraan. Tapi milik kehidupan. Pasar Tanah Merah, Blega, dan Galis punya hari pasaran sendiri. Biasanya mengikuti siklus hari Jawa. Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Kalau kebetulan pas hari pasaran. Dan anda lewat. Ya sudah. Anda tidak sedang lewat jalan. Tapi Anda sedang "masuk di dalam" pasar. Motor, pikap, becak, pejalan kaki, ayam, sampai obrolan harga cabai, semua jadi satu. Klakson jadi tidak relevan. Yang berlaku justru kontak mata dan bahasa tubuh. Pelan. Sabar. Ikut arus. Yang menarik, di situ ekonomi rakyat benar-benar terasa hidup. Transaksi bukan sekadar jual beli. Tapi juga silaturahmi. Orang datang bukan hanya untuk belanja. Tapi juga untuk bertemu. Jadi, kalau mau aman, catat hari pasarannya. Atau siapkan mental. Karena di Madura, yang macet itu bukan jalannya. Tapi denyut hidupnya yang sedang penuh-penuhnya.

Ibnu Shonnan

Hari ini adalah hari ke-6 dari Lebaran. Abah sudah cerita sana-sini. Mulai tradisi sungkeman yang dipamerkan ke tamu-tamunya itu. Sampai proposal gencatan senjata yang ditawar USA. Ada satu yang pertanyaan yang mengganjal dipikiran saya ; apakah beberapa hari kemarin, Abah open house untuk tetangga, saudara dan teman? Andaikan tidak. Kok nemene...

Juve Zhang

Amerika ingin ikut mengontrol selat Hormuz tentu ini ditentang Iran .... Panama ingin dikuasai sekarang selat Hormuz....ini preman emang sok jagoan lama lama dunia muak lihat preman yg sok jagoan ini....konon F35 nya satu ditembak diatas daratan Iran...entah siapa yg nembak....

Denny Herbert

"Cermin Peradaban di Balik Pintu WC" Saya hari2 ini ada di Shanghai - Beijing, kemaren, 25/03 saya ke great wall dari Beijing dan waktu pulangnya kami berhenti di rest area, saya jadi teringat ucapan Abah: "Kalau mau lihat manajemen sebuah negara atau perusahaan itu bagus atau tidak, cukup lihat toiletnya." Saya mengambil foto2 di toiletnya, dan benar bukan sekadar tempat singgah buang hajat, tapi sudah menjadi simbol harga diri bangsa. Desainnya luar biasa futuristik; penggunaan lampu pendant melingkar, aksen emas di pilar, hingga lantai marmer yang begitu mengkilap sampai-sampai kita bisa 'bercermin' di sana. Kebersihannya benar-benar tanpa kompromi, jauh dari kesan kumuh yang sering kita temui di banyak rest area jalur Trans-Jawa. Yang paling membuat saya terkesan adalah layar digital pemantau okupansi. Kita tidak perlu lagi mengetuk pintu satu per satu untuk mencari bilik kosong—teknologi sudah menyelesaikannya. Ini bukan sekadar pamer kemewahan, tapi efisiensi manajemen tingkat tinggi yang menghargai waktu pengguna jalan. Jika di Tiongkok toilet bisa menjadi "etalase" kemajuan teknologi dan kenyamanan bagi investor, mengapa di kita sering kali dianggap sebagai beban biaya? Saya setuju dengan Abah, Revolusi toilet di Indonesia bukan cuma soal ganti ubin atau pasang AC, tapi soal revolusi mental manajemennya. Di China rest area ini GRATIS. Kalau di Eropa berbayar.. tentu kita ingin seperti di China, gratis dan berbintang 5. Warga dihargai dengan memberi WC bersih.

Johannes Kitono

Shopping list. Daftar Keinginan yang disampaikan AS ke Iran tentu beda dengan Shopping list. Kalau kita masuk Supermarket sudah ada Shopping list di otak atau tercatat di kertas. Jenis dan jumlah barang yang mau dibeli. Tentu sesuai dengan budget dan kebutuhan. Dilihat sekilas Daftar Keinginan AS ke Iran biasa biasa saja. Perlu dikaji mendalam siapa siapa saja yang diuntungkan dengan " kekacauan " akibat ulah Trump.Konon, bisnis Trump dan keluarga tuai windfall profit. Trump adalah Kapitalis sejati yang tega ambil profit dari penderitaan orang lain. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

pak tani

Melenceng sedikit. Beda Mr. Wi dan Mr. Wo. Mr. Wi di awal periode jelas menggenjot infrastruktur. Artinya, target market kelas menengah. Mr. Wo di awal periode menggenjot MBG dan KMP. Artinya, target market kelas bawah. Target market ini kemunginan terkait dengan jumlah pemilih untuk pemilu periode berikutnya. Kategori golongan populasi terbesar jadi target market nya. Mungkinkan ini berarti, kelas menengah kita sudah banyak terdegradasi menjadi kelas bawah ? Mengenai 80.000 unit KMP. Secara nasional Indo & Alfa saja 'hanya' memiliki @20.000 cabang. Gabungan seluruh Bank nasional pun, totalnya hanya sekitar 20.000 cabang. Lalu mengapa KMP menargetkan hingga 80.000 cabang? Mungkin bukan mencari untung secara bisnis, tapi start awal logistik pemilu. Hmm

Bahtiar HS

Perang IsAm-Iran ini spt ada kesamaan dg Perang Ahzab di zaman Nabi Shallallahu alaihi wasallam. 1) sama2 terjadi di bulan Syawal. P Ahzab terjadi pd Syawal 627M, 1400an tahun yl. 2) P Ahzab diprovokasi Yahudi Bani Nadzir yg terusir dari Madinah pd Gathafan, Quraisy Makkah, dan suku2 lain utk sama2 menyerang kaum muslimin di Madinah. Krn itu disebut Perang Ahzab (Perang Sekutu). Mrk bs kumpulkan 10.000 pasukan yg dipimpin Abu Sufyan. Skrg keroknya: Israhell. 3) semula musuh GR banget bakal bs melibas Madinah dlm waktu singkat. Jml mrk 3 kali lipat pasukan Nabi. Apalagi Yahudi Quraidhah di kota Madinah jg sepakat mau membantu. Bgt jg pikiran Trump/Setanyahu serang Iran. 4) kenyataannya di luar nurul mrk. Bgt sampai di Madinah, ada parit lebar-dalam yg jadi penghalang gerak pasukan. Strategi usulan Salman al Farisi, kelahiran Persia (Iran kini) yg tak terduga. Blm pernah mrk lihat sebelumnya. Semacam rudal2 Iran kini yg terus diluncurkan ke sasaran musuh hingga hari ke-25 yg tak habis2 itu. Sama sekali di luar dugaan IsAm. 5) pertempuran fisik minim. Hanya lempar2 panah dan lembing. Sama dg saat ini lempar2 rudal dan ngebom dg pesawat. Blm perang darat/fisik. 6) Ktk musuh mengirim Amr bin Wad yg tak terkalahkan, Nabi mengirim Ali bin Abi Thalib yg lbh junior. Dan di luar dugaan, Ali mampu menumbangkan Amr. Spt rudal Fattah / Khorramshahr / Khebar Shekan mampu menembus Iron Dome Israhell. Tinggal 1 yg kita tunggu: datangnya Angin Topan yg memporandakan kemah2 musuh!

mario handoko

selamat pagi bp jokosp. semua rusuhwan pasti tahu pasal di uud45, yg berbunyi "bumi air dan kekayaan alam yg terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar besar kemakmuran rakyat." tapi realita saat ini. yg menguasai bisnis SDA, malah banyak swastanya. tidak usah batu bara. air minum dalam kemasan saja, hampir 100% dikuasai swasta. tidak heran jika di apbn 2025. SDA hanya menyumbang 8% dari penerimaan negara. lha yg menyumbang mayoritas pendapatan negara? ya dari pembayaran pajak kita semua. angkanya mencapai 83% dari total penerimaan negara.

riansyah harun

Dulu saat serangan Covid, banyak negara negara tiarap, banyak penerbangan di tutup, banyak persendian ekonomi luluh lantak, dan berbagai efek lainnya. Soal Amerika Israel seperti terkalahkan oleh Iran, biarlah itu "dosa" bagi mereka mereka yang saling berperang. Tapi mungkinkah covid jilid 2 ini, bisa di rundingkan hanya dengan Daftar Keinginan yang berjumlah 15 itu..??? Rasanya Iran belum mau berunding. Mereka akan mempertontonkan pada Dunia, kalau covid jilid 2 ini, merekalah yang menciptakannya. Hancur luluh lantak pun negaranya, masih lebih terhormat dari pada "menyerah" melalui perundingan. Sama seperti istilah yang terkenal itu, sekali di udara tetap di udara. Sekali berperang tetap berperang. Dan yang susah adalah seisi dunia, langka akan BBM. Tapi tidak dengan Indonesia, karena masih banyak cadangan BBM nya, namun bisik bisik saja, masih ada dalam perut bumi.

riansyah harun

Perang IsAm-Iran ini, mengingatkan saya pada seseorang yang pernah jadi sesuatu. Dan sampai sekarangpun, saya masih merasa amat pilu sekali atas "kegagalan" mobil listrik di Indonesia itu. Jangan jangan bapak yang menjadi sesuatu itu juga, pernah kesal atas ketidak berlanjutannya Kilang Kilang Minyak yang beliau usulkan itu, dan sama sama juga mandek sampai detik ini..??? Beliau juga pernah gigih membangun PLTBB yang akhirnya secara bertahap mulai ditutup karena dianggap BB tersebut amat mencemari lingkungan..??? Tapi begitulah.., satu orang melawan 10 orang saja hanya dengan tangan kosong, pastilah kalah. Dan kekalahan itu, saat ini harus ditebus dengan berat sekali. Kelangkaan BBM. Mudah mudah Iran mau berbaik hati, bisa meloloskan kapal tanker Indonesia untuk melewati selat Hormuz. Apalagi Indonesia jauh jauh hari sudah bersedia menjadi juru damai....., walaupun Pakistan juga tidak mau ketinggalan untuk hal yang satu itu.

riansyah harun

Negara Besar yang bisa di kendalikan oleh Negara Kecil, sungguh cerdik bagi yang melihatnya seperti itu. Sama seperti Gajah yang begitu besar, perkasa, namun masuk dalam parit yang besar sehingga tidak bisa lagi naik ke permukaan, karena ditipu oleh se ekor kancil yang amat cerdik. Seperti cerita sebelum tidur dalam Lagenda Abunawas...?? Tapi ini nyata.., dan benar benar terjadi di alam yang serba modern dan digital. Amerika yang super power dan besar itu + Israel yang terkenal dengan "ahli perusuh" negara2 kecil lainnya, kok bisa bisa nya terseret di perang IsAm-Iran..??? Dan "kalah" lagi....???? Upsss ..., "kalahnya" dilihat dari sisi moral saja. Dengan "pongahnya" memulai perang, namun begitu mulai kedodoran, malah minta "berunding"..??? Ada ada saja. Tapi justru yang menang adalah Pakistan. Bisa mengalahkan kecepatan dari negara lain, yang jauh jauh hari sudah ingin menjadi juru damai. Tapi siapa tau, Pakistan bisa memilih pulau Bali yang ada di Indonesia sebagai tempat perundingan nanti..?? Apalagi pulau itu pernah di kunjungi oleh Keluarga Besar Raja Arab Saudi selama hampir seminggu lamanya, karena ke betahannya disana.??? Kenapa juga harus melibatkan Arab Saudi..?? Yang rasanya tidak secara langsung terkait perang dan seperti menambah pekerjaan yang istilahnya tambah tambah urusan saja..???? Namun siapa tau politik Indonesia yang sudah teruji itu, bisa digunakan mendamaikan Gajah dan Kancil yang lagi berantem, upss salah.., IsAm dan Iran ???

Taufik Hidayat

Wah wah .. Pakistán falan artikel abah ini digambarkan sebagai sahabat dekat Amerika ? Ya juga , tapi bukankah Pakistán juga sahabat dekat Tiongkok. He he . Oh jadi hampir sama dong Pakistán dengan Indoensia . Indonesia khan sanga akrab dengan T dan juga Mau tidak Mau dekat juga dengan Amerika. Oh langsung ingat kalau Indoensia khan pendiri gerakan non blok.. jadi ingat di museum Jugoslavia Yang juga judo. Makam Tito Yang namanya House of Flowers dí Belgrado Ada foto foto perintis negara non blok, ada BK dan ada Nehru Ada Gamal Abd Nasswr, tapi apa ada Pakistán ? Kayaknya gak ada? Semoga cepat berhenti perang deh karena yang kalah bukan cuma IsAm dan İran , bukan pula negara negara teluk dan tim teng tapi juga hampir seluruh dunia jadi mahal BBM , bukan cuma mahal jadi langka. Kenapa belum dengan antrian BBM di T? Apa karena sudah listrik semua? Tapi walau pakai listrik bisa saja dari BBM juga ? Atau karena Pak’a batu bara dari Indoensia ? Akhir kata jangan perang yah om om 

Muh Nursalim

Ada tiga keunggulan Iran. Kenapa bisa begitu majunya. Pertama, Filsafat diajarkan sejak dini. Para pemimpin Iran itu ahli filsafat. Induk segala ilmu. Teknologi hanya ranting dari filsafat. Ketika negeri2 Arab (Baca Wahabi) mengharamkan filsafat justru Iran mengembangkannya. Kedua, sistem politik yang tiada duanya. Ada wilayatul faqih. Sekolompok ulama yang menjadi rujukan dan penentu kebijakan utama. Ibarat Rois Syuriah dalam NU. Presiden dan menteri hanyalah tanfiziahnya. Demokrasi sebatas memilih presiden. Adapun Mujtaba Khumaini dipilih oleh sircle para ulama. Maka damai atau tidak dengan Amerika bukan wilayah Presiden. Tapi penentunya di wilayatul fakih tersebut. Ini berarti pertimbangannya bukan hanya suka dan tidak suka tetapi syara' para ulama. Ketiga, semangat karbela. Ini yang menjadi ruh segala ruh orang Iran. "Dendam" atas pembunuhan iamam Husein menjadi energi yang luar biasa. Maka. masyarakat Iran itu hampir semua mendambakan mati di medan perang. Anak-anak kecil sudah ditanamkan seperti itu. Wordview hidup yang aneh bagi orang luar. Tetapi itulah yang terjadi di Iran. Setiap tanggal 10 Suro mereka merayakannnya dengan melukai diri sampai berdarah2. Maka perang ini pembuktian nyata atas ideologi Karbela tersebut. Dengan tiga hal itulah Iran akan menjadi super power baru.

Er Gham 2

WFA satu hari dalam seminggu? Pahami dulu masalahnya. Bagaimana mengirit bensin khan. Kalau mess karyawan di samping pabrik atau kantor, untuk apa WFA. Bisa jalan kaki pulang pergi. Seperti hanlnya sekolah di pedalaman pelosok terpencil. Yang semua murid dan gurunya jalan kaki ke sekolah. Bukan seperti sekolah di Kota besar yang mobil motor pengantar para siswa harus antre drop anak anak nya. Masih banyak daerah di pelosok negeri yang pegawai ASN nya bisa jalan kaki ke kantor dinas. Atau pakai sepeda. Jangan terbiasa dibuat seragam. Gebyah uyah. Buat aturan yang spesifik. Jangan seperti MBG. Asal buat dan kirim katering ke sekolah. Akhirnya anak anak sekolah elit yang uang jajannya aja 100 ribu per hari pun dapat MBG. Yang langsung mengernyit lihat menunya. Akhirnya mubazir. Tidak spesifik siapa yang pantas menerima MBG. Semua seragam. Asal buat sebanyak mungkin dapur. Coba kaji, adakah dapur yang didirikan di daerah pelosok 3T. Daerah minus. Bangunan Koperasi juga seperti asal didirikan. Yang penting kuantitas. Jumlah. Armada. Sekedar statistik. Berpikirlah lebih keras. Khan banyak ilmuwan. Dengarkan mereka. Mereka mungkin takut bersuara saja. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 81

  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
  • Nimas Mumtazah
    Nimas Mumtazah
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
  • Aku dan kita Official
    Aku dan kita Official
  • Runner
    Runner
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Beny Arifin
    Beny Arifin
    • Gregorius Indiarto
      Gregorius Indiarto
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Beny Arifin
      Beny Arifin
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • mario handoko
      mario handoko
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Lagarenze 1301
    Lagarenze 1301
    • djokoLodang
      djokoLodang
  • alasroban
    alasroban
  • rian
    rian
  • Macca Madinah
    Macca Madinah
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • Milyarder Setia
    Milyarder Setia
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Aku dan kita Official
    Aku dan kita Official
  • Aku dan kita Official
    Aku dan kita Official
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
  • Aku dan kita Official
    Aku dan kita Official
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
  • Aku dan kita Official
    Aku dan kita Official
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • mario handoko
      mario handoko
  • Pedro Patran
    Pedro Patran
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
    • Abu Faiz
      Abu Faiz
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • siti asiyah
      siti asiyah
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
  • MULYADI PEGE
    MULYADI PEGE
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • MULYADI PEGE
      MULYADI PEGE
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • DeniK
    DeniK
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
    • Prakarsa dj
      Prakarsa dj
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
  • nur cahyono
    nur cahyono
    • nur cahyono
      nur cahyono
    • Prakarsa dj
      Prakarsa dj
    • Aku dan kita Official
      Aku dan kita Official
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺