JAKARTA, DISWAY.ID - Semakin hari, saya merasa kenangan Idul Fitri perlahan memudar. Tidak lagi seceria masa kecil, ketika lebaran terasa begitu istimewa: baju baru yang hanya dibeli setahun sekali, makanan khas yang disiapkan bersama keluarga, kunjungan kerabat dengan angpao, hiburan wayang kulit semalam suntuk, pasar malam, hingga wisata lokal yang selalu ramai.
Lebaran bukan sekadar hari raya, melainkan peristiwa sosial yang dinanti-nanti sepanjang tahun.
Kenangan Lebaran yang Berubah
Saya masih mengingat bagaimana keluarga menyiapkan madumongso, makanan manis dari tape ketan yang dimasak dengan santan dan gula kelapa. Proses pembuatannya panjang dan membutuhkan kesabaran: beras ketan hitam dimasak, diberi ragi, didiamkan hingga menjadi tape, lalu dimasak kembali sampai berwarna kemerah-merahan. Mengaduk adonan bukan pekerjaan ringan; jika tidak merata, madumongso bisa menjadi keras dan sulit dimakan—bahkan kadang perlu dipotong dengan kapak kayu. Selain itu, berbagai makanan khas seperti ceker ayam, telinga gajah, dan tai kucing—yang dinamai demikian karena bentuknya—juga disiapkan beberapa hari sebelumnya.
BACA JUGA:Bolehkah Non-Muhrim Bersalaman? Sebuah Tinjauan Hukum Diperbolehkan dengan Catatan
Tradisi memasak bersama ini kini mulai menghilang. Banyak keluarga lebih memilih membeli makanan siap saji. Mobilitas sosial yang tinggi membuat anggota keluarga tersebar di berbagai kota, sehingga sulit untuk berkumpul dan memasak bersama seperti dahulu. Perlahan, lebaran kehilangan sebagian dari dimensi kebersamaan yang dulu begitu kuat.
Perubahan juga tampak pada tradisi sungkeman. Setelah salat Id di lapangan atau masjid, masyarakat biasanya mengunjungi keluarga atau kerabat yang lebih tua. Rumah-rumah terbuka untuk menerima tamu. Ucapan selamat Idul Fitri dan permohonan maaf disampaikan secara langsung, penuh rasa hormat dan kehangatan.
Kini, di era digital, tradisi itu mengalami transformasi besar. Ucapan Idul Fitri tidak lagi harus disampaikan secara langsung. Pesan singkat, rekaman suara, atau video dapat dikirim dalam hitungan detik. Bahkan, tidak sedikit yang cukup menyalin dan menempel ucapan yang sama untuk banyak orang. Praktis dan efisien, tetapi sering kali kehilangan sentuhan personal.
Balasan pun demikian. Ucapan yang diterima sering dijawab dengan template yang sama. Komunikasi menjadi cepat, tetapi terasa lebih dingin. Meski demikian, teknologi juga membuka peluang silaturahmi yang lebih luas tanpa batas ruang dan waktu. Orang tetap bisa terhubung meskipun berjauhan.
BACA JUGA:Koalisi Perubahan; Satu Potret Asal-usul Pemikiran dan Gerakan
Anak saya yang tumbuh di Jakarta sering bertanya, “Kalimat apa yang harus diucapkan saat sungkeman?” Pertanyaan ini muncul karena ia melihat variasi respons dari generasi yang lebih tua. Ada yang menjawab singkat, ada pula yang panjang dengan doa dan nasihat. Tidak ada standar baku dalam sungkeman. Setiap orang merumuskan ungkapan sesuai pemahaman dan niatnya.
Sebagian memaknai sungkeman sebagai tradisi sosial untuk memperkuat silaturahmi. Lebaran, dari kata “lebar,” dipahami sebagai “selesai”—selesainya persoalan yang pernah ada. Dengan saling memaafkan, semua dianggap tuntas. Di sisi lain, mereka yang lebih menekankan dimensi keagamaan melihat Idul Fitri sebagai momentum spiritual, penanda berakhirnya ibadah Ramadan.
Ucapan Idul Fitri pun beragam. Di dunia Arab, ucapan seperti “Eid Mubarak, taqabbalallahu minna wa minkum” menegaskan harapan agar ibadah diterima. Di Indonesia, ungkapan khas seperti “Minal ‘aidin wal faizin” menjadi populer, disertai “mohon maaf lahir dan batin.” Meski asal-usulnya tidak sepenuhnya jelas, ungkapan ini telah menjadi bagian dari budaya lebaran Indonesia.
Pada akhirnya, apa pun yang diucapkan saat Idul Fitri tetap bermakna baik. Baik sebagai doa spiritual maupun ekspresi sosial, semua menunjukkan bahwa lebaran adalah titik temu antara agama dan budaya.
Makna Sosial dan Budaya Idul Fitri
Idul Fitri tidak hanya memiliki dimensi religius, tetapi juga dimensi sosial yang sangat kuat. Ia menjadi ruang pertemuan berbagai lapisan masyarakat, di mana perbedaan latar belakang seolah mencair dalam suasana kebersamaan. Tradisi saling mengunjungi, berbagi makanan, serta mempererat hubungan sosial menjadikan lebaran sebagai momentum kohesi sosial yang khas.