Kang Dasep

Jumat 03-04-2026,04:00 WIB
Oleh: Dahlan Iskan

Semasih mahasiswa pun ia sudah menjuarai lomba robot tingkat nasional. Setelah kini usianya 60 tahun, Kang Dasep Ahmadi masih bisa dapat hak paten tingkat internasional. Di antara dua usia itu ia tidak berhenti berkarya. Ada yang berhasil, ada yang membuatnya menderita: 10 tahun hilang kebebasannya.

Salah satu keberhasilannya adalah: menciptakan mesin CNC (computer numerical control). Itu adalah mesin yang jadi tulang punggung industri. CNC bisa memotong, melubangi, dan membentuk baja dengan presisi yang tinggi. Seberapa banyak pun baja yang dipotong hasilnya sama presisinya.

Kang Dasep sudah memproduksi mesin ciptaannya itu. Sudah terjual banyak. Sampai hari ini belum ada teknologi yang menggantikan CNC. Memang mulai ada 3D Printing tapi belum bisa menggantikan CNC.


Dasep dan mesin CNC Ahmadi ciptaannya.--

Keberhasilan lain: membuat mobil listrik –ketika masih banyak yang tidak percaya mobil listrik akan ada.

Itu tahun 2013. Kang Dasep berpikir dan bekerja amat keras. Siang dan malam. Ia tahu: masa depan Indonesia –juga dunia– adalah mobil listrik.

Maka Kang Dasep ke Tiongkok. Ia mendengar BYD mulai uji coba membuat mobil listrik. Ia ke BYD. Ia coba mengemudikan mobil listrik hasil uji coba BYD.

Setahun sebelumnya saya juga ke Tiongkok. Juga diminta mencoba mengemudikan mobil listrik hasil uji coba BYD itu. Masih sangat sederhana. Apalagi kalau bandingannya mobil bensin buatan Jepang. Hasil uji coba itu seperti belum layak dijual. Saya tidak menyangka kalau kelak, di tahun 2025, mobil listrik BYD sangat cantiknya.

Di tahun 2013 itu pula lahirlah mobil listrik merek Ahmadi. Tentu masih sangat sederhana. Anda masih ingat warnanya: hijau.


Kang Dasep dengan mobil listrik ciptaannya, Ahmadi.--

Namanya juga uji coba. Uji coba generasi pertama pula. Masih banyak kekurangannya.

Saya pun dapat kesempatan mencoba mengemudikannya. Terlalu berspekulasi. Berangkat: dari bengkel Ahmadi di Depok. Tujuan akhir: gedung BPPT di Jalan Thamrin Jakarta.

Saya sudah diberi tahu mungkin saja baterainya tidak cukup untuk menempuh jarak itu. Tapi saya sudah siap kehabisan baterai di tengah jalan. Justru itulah perlunya uji coba beneran.

Sebagai mobil, saya tidak mengalami kesulitan sama sekali mengemudikannya. Tapi saya memang selalu waswas: di mana akan kehabisan baterai. Ternyata di Jalan Sudirman, Jakarta. Tinggal satu atau dua kilometer dari gedung BPPT.

Kalau saja penumpang mobil itu hanya saya dan Kang Dasep pastilah bisa sampai ke tujuan. Tapi hari itu mobil diisi empat orang. Yang dua orang sangat gendut pula.

Tapi itulah uji coba. Itulah penelitian. Kang Dasep bisa belajar dari kekurangan selama uji coba.

Yang berbeda dengan uji coba BYD: Kang Dasep tidak mendapat cukup waktu untuk menyempurnakan hasil uji cobanya. Yang ia dapatkan: masalah. Harus berurusan dengan hukum. Pun saya.

BYD tidak mengalami apa yang dialami Kang Dasep. Sepuluh tahun kemudian BYD menguasai mobil listrik dunia. Pun kelak, di awal tahun 2026, menguasai penjualan mobil listrik di Indonesia.

Tentu, seandainya pun Kang Dasep tidak terkena masalah, belum tentu mobil listrik Ahmadi berhasil berkembang seperti BYD. Tapi setidaknya tidak dipaksa layu sebelum berkembang.

Senin kemarin saya bertemu Kang Dasep –setelah lebih 10 tahun tidak baku dapa.

Saya sudah 76 tahun, Kang Dasep sudah 60 tahun.

Tapi kondisi badannya sangat sehat. Selama di "dalam" ia olahraga dan olah jiwa. Olahraganya main pingpong. Lawan main tangguhnya: Benny Tjokro –waktu muda Bentjok pernah juara pingpong di kota kelahirannya, Solo.

"Hanya saya yang pernah mengalahkannya," ujar Kang Dasep.

Olah jiwanya: menghafal Quran. Sebagai sarjana teknik mesin ITB, ia menemukan teknik menghafal Quran: dimulai berdasarkan urutan turunnya wahyu.

Selama menghafal Quran itu Kang Dasep juga menemukan bentuk kalimat dalam Quran. Ada satu kalimat yang utuh. Umumnya di juz Amma. Ada satu kalimat yang dipenggal dua. Misalnya di surah Al Zalzalah. Lalu satu kalimat dipenggal tiga. Misalnya di surah Tabaroq.

Teknik lain: mengulangi bacaan yang sama sampai 40 kali. Sampai bibir seolah reflek ketika mengulanginya. Tentu, katanya, harus mengerti makna yang dihafalkannya itu. Lalu diresapi. Sampai membuat air mata berlinang. Ia sendiri sering mengalaminya.

Dasep lahir di desa Cik Mas, Sukabumi paling selatan. Dekat pantai. Pelosok sekali. Ibunya guru madrasah. Ayahnya: kepala sekolah merangkap pedagang.

Desa itu disebut Cik Mas karena sungainya mengandung pasir emas. Banyak penduduk desa mencari emas di sungai. Itulah sungai yang di hulunya sana disebut Cikotok –tambang emas di Jabar.

Di ''dalam'', Kang Dasep dipanggil ustad. Ia sering jadi imam salat. Juga menjadi pengajar tafsir.

Saya tidak tahu bagaimana ia menafsirkan ketika Senin itu ia saya ajak naik mobil listrik BYD ke studio podcast IDN Times di Menara Global Jakarta. (Dahlan Iskan)

Podcast Terbaru Dahlan Iskan Tentang Dasep Ahmadi

 

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 2 April 2026: Rencana Pindah

Laksana DedeS

Pasukan Iran bisa meniru taktik Mohamad Toha di Bandung Lautan Api. Kalau bisa tanam bom besar di pulau Khrag. Ketika padukan US merebut pulau itu, bombardir dan hancurkanpulau itu sehancur-hancurnta.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PETE HEGSETH:

MENTERI PERANG,

DAN BISIKANNYA..

Nama Pete Hegseth memang bukan lahir dari barak tempur klasik.

Ia lebih dikenal dari layar televisi.

Dari Fox News.

Tmpat opini kadang lebih keras dari peluru.

Latar belakang militernya ada, tapi narasinya dibentuk di studio:

Lugas, hitam-putih, dan gemar menyederhanakan perang jadi soal menang atau kalah.

Di situlah letak bisikannya ke Donald Trump. Sederhana.

1) Iran lemah.

2) Serang sekarang.

3) Selesaikan cepat.

Kalimatnya pendek. Menggoda. Apalagi bagi pemimpin yang memang suka keputusan cepat dan dramatis. Hegseth seperti tahu tombol mana yang harus ditekan.

Dan Trump, seperti biasa, tidak alergi pada tombol itu.

Keinginan Hegseth pun satu per satu terlihat diberi ruang.

4) Eskalasi naik.

5) Pasukan ditambah.

6) Target diperluas.

5) Tetapi narasi kemenangan lima minggu mulai terdengar seperti trailer film.

Bukan rencana perang.

Di dalam negeri, warga Amerika mulai bertanya.

Ini strategi atau nekat?

Ada yang mendukung, tentu.

Tapi tak sedikit yang sinis.

“Kenapa anak kami yang dikirim, bukan yang menyarankan perang?”

Begitu kira-kira nada di media sosial.

###

Hegseth mungkin percaya perang bisa diselesaikan cepat.

Sejarah bisa tidak sependapat.

Pedro Patran

Yair Natenyahu "bertemu" Jair Bolsonaro, dan.. saya jadi ingat kita juga punya "tokoh" beranama DJAIR, atau lebih lengkapnya Djair Warni Ponakanda, yg di tahun 70an saat saya SMP telah melahap banyak komik² besutannya, diantaranya yg paling mekegenda adalah Jaka Sembung, Si Tolol.

Maturnuwun Abah DIs, telah membuat saya mengingat komik² besutan Pak Djair, puluhan tahun yg lalu ;)

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

AMERIKA SAAT INI:

MAGA,

DAN TAFSIRAN CARA MEWUJUDKAN MAGA..

Presidennya mantan dan masih pedagang.

Terbiasa cepat ambil keputusan.

Nalurinya tajam, tapi emosinya juga mudah meledak.

Dalam bisnis, itu bisa jadi keunggulan.

Dalam perang, itu bisa jadi risiko.

Di sekelilingnya ada dua jenis pembantu.

1) Satu kelompok ysng bicara policy perang. Menggambar peta besar. Menghitung dampak.

2) Satu kelompok lain adalah pelaksana.

Tentara.

Yang menekan tombol bom dsn rudal.

Yang memastikan perintah jadi ledakan nyata.

###

Masalahnya muncul di ruang diskusi.

Ketika semua kembali ke satu mantra: MAGA.

Make America Great Again.

Maka, kalimat yang sederhana, tafsirnya bisa ke mana-mana.

Bagi yang agresif, itu berarti menunjukkan kekuatan.

Bagi yang hati-hati, itu berarti menjaga agar tidak terjebak perang panjang.

Di titik ini, logika bisnis dan logika negara sering bertabrakan.

Pedagang ingin hasil cepat.

Negara butuh stabilitas jangka panjang.

Pedagang terbiasa “gas dulu, rem belakangan”.

Negara tidak punya kemewahan itu.

Maka wajar jika arah terasa naik turun.

Kadang keras.

Kadang melunak.

Kadang bicara damai.

Kadang ancam perang.

MAGA akhirnya bukan sekadar slogan.

Tapi arena tarik-menarik.

Antara emosi, ambisi, dan realitas.

@Begitu analisa saya..

Mujiburohman Abas

Ada kesalahan besar di tulisan ini. Pulau Kharg bukan salah satu dari pulau-pulau besar di seberang kota besar Bandar Abbas. Lokasi Pulau Kharg jauh di utara Selat Hormuz, hampir 500 KM. Memang benar AS ingin menguasai Pulau Kharg karena dari pulau ini 90% minyak Iran di ekspor. Memang di Pulau Kharg ini ada bandaranya juga. Tapi Selat Hormuz lain areanya. Di tepi selat ini memang ada kota Bandar Abbas, kota pelabuhan minyak. Pulau-pulau di depannya setidaknya ada tiga: Pulau Qashim yang sangat besar, Pulau Hormuz yang darinya selat ini di beri nama, dan Pulau Larak. Tiga pulau ini yang mungkin perlu dikuasai oleh AS untuk menjaga Selat Hormuz. Tapi di situlah letak tantangannya. Terlalu luas area yang harus diserang. Banyak penduduk sipil yang mendiami pulau-pulau tersebut. Akan halnya Pulau Kharg, pasukan AS seperti akan bunuh diri jika menyerang pulau itu, karena akan dihujani oleh roket dari daratan Iran. Dan jika pun Pulau Kharg berhasil dikuasai, Selat Hormuz masih tertutup.

Edi Sampana

Dgn tulisan Abah hari ini, sy sdh membaca 2 tulisan cara menyelesaikan perang ini, tpdengan sudut pandang AS. Kita tahu apa yg kita tulis kebanyakan menyuarakan alam bawah sadar kita yaitu apa yg kita inginkan/do'akan. Sy belum menemukan tulisan yg pakai sudut pandang Iran. Mudahan ada. Mohon para perusuh menulis ini

djokoLodang

-o--

Balada Lansia

+ Nimas, Apa menu makan malamnya?

- Sayur tumpang dilengkapi udang goreng tepung.

+ Oh, kurasa aku harus ganti baju dulu.

(Kakek masuk kamar, buka lemari baju)

+ Baju yang mana, ya? Oh, baiklah,... pakai yang ini saja, warnanya mirip warna sayur tumpang kesukaanku .

Aku punya baju-baju yang warnanya senada dengan semua makanan favoritku, ... itu menghemat cucian.

-0–

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

NETANYAHU,

MENURUT TRUMP..

Bagi Donald Trump, Benjamin Netanyahu bukan sekadar sekutu.

Ia mitra lama.

Teman lama.

Dalam bahasa Trump: “a strong guy”.

Pemimpin keras.

Tegas.

Tidak banyak kompromi.

Trump melihat Netanyahu sebagai orang yang tahu apa yang ia mau.

Dan berani membayar harganya.

Dalam logika Trump, itu kualitas penting.

Dunia, baginya, adalah meja negosiasi besar.

Yang ragu, kalah.

Ada kekaguman.

Tapi juga kalkulasi.

Netanyahu dianggap aset strategis.

Pintu masuk ke Timur Tengah.

Sekaligus jangkar pengaruh Amerika di kawasan yang tak pernah sepi gejolak.

Namun hubungan itu tidak selalu lurus.

Trump pernah merasa dikhianati.

Saat Netanyahu cepat mengakui kemenangan lawan politiknya.

Di situ Trump seperti tersadar: dalam politik, teman pun punya agenda sendiri.

Meski begitu, rasa “butuh” tetap ada.

Netanyahu kuat di medan.

Trump kuat di panggung.

Keduanya..

1) Saling melengkapi.

2) Saling memanfaatkan—tergantung sudut pandang.

Bagi Trump, Netanyahu adalah pemain.

Bukan pion.

Tapi juga bukan tanpa risiko.

Karena pemain yang terlalu kuat, kadang sulit diatur.

###

Dan di meja besar bernama geopolitik, itu bisa jadi keunggulan.

Atau justru masalah.

riansyah harun

Catatan Harian Dahlan pagi ini, pasti akan membelah berbagai macam pendapat. Ada yang senang pada Iran karena strategi perangnya yang bisa membuat Amerika pusing 7 keliling, ada yang senang kalau Amerika sesegera mungkin menyerang Iran, agar negara "kecil" itu bisa segera dikalahkan. Dan tentu saja ada juga yang menunggu siapa yang bakal "terjerembab" lebih dahulu, karena rasanya perang kali ini, adalah perang prestisius.

Tulisan pak Dahlan pagi ini, tentu akan membuat para Perusuh Disway terbelah, masing masing ada di pihak mana..??? Atau jangan jangan malah ada yang acuh tak acuh saja, mau perang kah, mau damai kah, yang penting mulai Minggu ini ada yang mulai berbahagia, karena sistim WFH yang mulai akan diterapkan di negara Anda. Anda berbahagia, namun tukang ojek, penjual jajanan pinggir jalan, para pengamen, para pengemis, apa ikut pula bisa berbahagia....???? Ini semua gara2 siapa...????

Siswanto AJI

Andai.

Andai Indonesia memainkan peran kunci, underground, mendamaikan Arab Saudi dan Iran. Betapa hebatnya kawasan itu ya..

Tapi mungkin susah. Yg dekat, hampir serumpun apalagi saudara, kalo musuhan sampai sundul langit.

Kalo kata gus baha. Kenapa kita memusuhi kristen, kenapa ndak ke yang tak punya agama. Sejelek-jeleknya Kristen masih deket sama kita, kenal Tuhan, mirip2. Yg gak kenal Tuhan itu, mungkin bisa jadi makin awur2an dan gak punya penyatu pola...

Tapi ya gitu... kitab2 hubungan suami istri saja meminta kita mengingat ingat 999 kebaikan dibandingkan 1 keburukan pasangan. Jika tidak begitu, 1 keburukan inilah yang akan tampak terus menerus dan berujung perceraian. Dan itu yg banyak terjadi.

Juga Arab Saudi dan Iran. Juga pengikut keras dibawahnya... sampai kita. Bisa2 lebih suka Yahudi dibanding Iran.

Wallahualam.

iskan kardap

betul, Iran tidak mau pindah ke tengah-tengah Amerika, masalahnya Amerika terlalu kuat bagi lawan-lawannya,, bahkan pola perang Ahzab, perang dimana Sahabat Rosulullah dari Persia yg membuat parit itu, saat ini parit Iran berhasil di masuki oleh pasukan USA,, khan usa itu palindrom menjadi .. tinggal tunggu saat kapan mereka mau menyeberang,, innalillah wa na'udzu billah,, semoga diamankan semua warga manusia dari serangan binatang buas yang terkutuk,, amiin.

Vikagora Prayogi

Perang dimana pun dan kapan pun itu bukan hanya melihat dari kemampuan secara militer masing masing namun juga melihat kepada kemampuan taktik, siapa yang lebih jitu.

Jika melihat ke pertandingan tinju kadang yang menang adalah bukan saja dari sisi kuat saja namun juga kemampuan bertahan, sampai lawan terlihat sudah lelah tinggal mengarahkan serangan ke jantung lawan.. KO

Kalau Amerika jantungnya dimana ya? Secara negara Iran menyerang Amerika lewat Isriwilatau negara teluk saja.. Coba sekali sekali gedung putih di kasih bom Nuklir sama iran.. Seperti apa jadinya negara sok kuasa itu ya..

LionParcel Sincom

Iran sepertinya tidak semudah itu untuk dilumpuhkan oleh si Donald Duck. Kalaupun bisa mungkin butuh waktu lama dan dengan bantuan negara lainnya. Tidak jika Donald sendirian.

Begitu juga dengan Konoha. Tidak semudah itu. Konoha ada Bamser, ormas dan preman yang bergerak cepat jika ada perusahaan baru yang baru buka. Apalagi jika ada serdadu baru yang mau masuk. Langsung didatangi dan didemo.

Belum lagi begitu banyak Konoha -saat ini- membangun bangker yang khusus untuk mengatasi situasi gawat darurat. Program ini terkenal dengan nama Proyek Membangun Bangker Gawatdarurat atau disingkat MBG. Ini dalah salah satu proyek andalan Konoha. Apabila perang terjadi, bangker ini adalah salah satu tempat berlindung para CEO perang.

Atau cukup BehaCukai dan Imigrasi Konoha yang kita suruh maju, bakalan susah masuk itu tentara dan rudalnya, nyagkut di bandara akibat laporan pajak Bea Masuk PPN BM yang tidak sesuai, hehehe…

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PENDARATAN PASUKAN MARINIR:

MASUK KHARQ,

KAYAK DI FILM HOLLYWOOD ITU..

Pulau Pulau Kharg memang kunci.

Jika Amerika ingin cepat, skenarionya klasik tapi presisi.

Serangan udara dulu.

Radar dilumpuhkan.

Batalyon iran dihajar rudal jelajah. Lalu datang United States Marine Corps. Pendaratan cepat. Amankan landasan. Disusul pasukan khusus untuk kunci fasilitas minyak. Semua harus singkat. Jam, bukan hari.

Tapi Iran bukan papan kosong. Antisipasinya bisa berlapis. Pertama, “deny the beach”. Ranjau laut. Rudal anti-kapal. Drone kamikaze. Kedua, jebakan waktu. Fasilitas bisa disabotase sendiri. Lebih baik rusak daripada direbut utuh. Ketiga, perang bayangan. Pasukan kecil menyebar. Ganggu logistik. Buat pulau tak pernah benar-benar aman.

Dari darat, Iran bisa kirim bala bantuan cepat jika blokade bocor. Atau lebih cerdas lagi, tak usah mempertahankan mati-matian. Biarkan direbut, lalu ganggu terus. Biaya pendudukan dibuat mahal. Setiap barel jadi beban.

Di sini, kemenangan tak lagi soal bendera. Tapi soal siapa yang sanggup menanggung ongkos paling lama. Dan biasanya, yang bertahan lebih sabar, sering menang diam-diam.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

RIUH TARIF,

TAPI PENCAPAIAN EKSPOR TERNYATA SANGAT MENGGEMBIRAKAN..

Waktu Donald Trump bicara tarif, "kita: ribut seperti mau kiamat dagang.

Nada tinggi.

Analisa berderet.

Ketakutan menumpuk.

Seolah pintu pasar Amerika Serikat akan tertutup rapat.

Yang disebut "kita" memang bukan pelaku bisnis.

Tapi orang awam.

He he..

Sebaliknya, ternyata angka bercerita lain.

Ekspor Indonesia ke sana justru naik 16,6% di 2025.

Dari USD 26,54 miliar menjadi USD 30,96 miliar.

Setara Rp526 triliun.

Bukan angka kecil.

Surplusnya pun tebal:

USD 18,11 miliar.

Ini bukan sekadar bertahan.

Ini bertumbuh.

Barangkali pasar tak sesederhana pidato.

Rantai pasok lebih pintar dari emosi.

Pelaku usaha lebih lincah dari "kita" yang debat.

Barang kita tetap dibutuhkan.

Harga, kualitas, dan momentum bekerja diam-diam.

Ribut boleh.

Waspada perlu.

Tapi data sering lebih jujur dari opini.

Di tengah gaduh tarif, ada sunyi yang produktif.

Ekspor jalan terus.

Devisa mengalir.

Pelajaran kecilnya sederhana.

Jangan terlalu cepat panik.

Dunia dagang tak hanya soal ancaman.

Ia juga soal peluang—yang sering datang tanpa suara.

Wilwa

@JoNeka. Itulah yang saya sebut mitos-mitos Kristen berkelindan dengan mitos-mitos Yahudi. Yang mana mitos-mitos Yahudi berkelindan dengan mitos-mitos Mesopotamia/Mesir Purba. Sayangnya jarang ada homo sapiens yang mau menyadari historical metamorfosisMesir/Mesopotamia purba >> Yahudi >> Kristen >> Islam. Yang di satu sisi mungkin melahirkan akhlak/moralitas yang positif tapi di sisi lain melahirkan TERI (terorisme << ekstremisme << radikalisme << intoleranisme). Yang harus kita waspadai bersama. Karena TERI (baik dari aliran garis keras Yahudi, Kristen, atau Islam) hanya akan melahirkan chaos and war. Kekacauan dan perang. Neraka yang diciptakan homo sapiens itu sendiri

Jo Neka

Kelihatan sekali si Pete ingin membawa perang ini dengan sentimen agama.Walau sudah jelas.Seruan semua petinggi agama dunia.Bahwa ini bukan perang agama.Bahkan saya sempat membaca seruan Vatikan.Yang intinya pihak yang berseteru di harap menahan diri.Dan lebih nengedepankan dialog dan solidaritas kemanusiaan.Indonesia di mana?.Kitamasih sibuk mengurus isi perut.Sembari si miskin menonton perilaku segelintir orang.Yangbegitu rakusnya mengeruk segala potensi dan fasilitas negara.Sementara pengelola justru tidak berdaya menghadapi mereka.

Ibnu Shonnan

Sejak perang ini pecah. Saya terus mengikuti. Awalnya berharap pemerintah RI mengutuk serangan Isam tanggal 28 Pebruari itu. Eh ternyata presiden atau para pembantu mulutnya ngak mampu mengucapkan kutukan itu. Pun sampai gugurnya 3 prajurit TNI oleh IDF, di Lebanon Selatan mulutnya masih terkunci. Berharap berita tewas atau sekaratnya pemimpin Zionis itu benar. Hingga saat ini masih belum ada pihak yang mengkonfirmasi akan kebenaran berita itu. Sempat membayangkan si Donal Trumpet mati kena serangan jantung gegara didemo jutaan rakyatnya. Eh, malah dia masih terlihat ngomong ngelantur seperti biasanya. Berharap Iran dibantu oleh China dan Rusia supaya secepatnya bisa menghancurkan Isra*l beserta anak cucunya. Ternyata kedua negara itu tetap terlihat mempertahankan posisinya. Meskipun harapan-harapan itu masih penuh. Akhirnya mulai saya buang dikit demi sedikit. Karena saya ingat kata Abah: "Janganlah berlebihan ingin mengendalikan sesuatu yang diluar jangkauan". Saya pun mengganti banyak harapa itu, dengan doa : Allahumma salimna wa muslimin wa Shurhum 'ala Mu'anididdin.

Johannes Kitono

LSD Bali.

Ini bukan obat bius zaman jadul yang bikin halusinasi. Tapi LSD ini adalah singkatan Lahan Sawah Dilindungi. Konon supaya swasembada pangan lahan sawah tidak boleh dijadikan bangunan. Dan untuk menentukan mana LSD di pulau Bali. Tentu perlu survey lapangan dan perlu biaya. Pemda Tabanan langsung gerak cepat. Apalagi pernah disindir langsung oleh Presiden di Sentul soal sampah yang melimpah di pulau Bali. Dengan teknologi Drone semua lokasi difoto. Semua tanah kosong untuk perumahan dianggap LSD. Walakinsebelah tanah sudah ada bangunan. Lebih lucu lagi tetangga tanah "LSD" sudah ada Cempaka Residence Estate. Now, para pemilik tanah SHM peruntukan Perumahan yang pusing. Seperti kena LSD halusinasi. Ada ASN yang rencana pensiun di Bali. Tanahnya tidak bisa dibangun dan harus jadi sawah. Kenapa ASN yang pensiun harus kembali jadi Petani. Padahal tidak semua ASN bisa jadi Petani. Semoga Pemda Tabanan bijaksana. SHM peruntukan Perumahan oleh BPN tidak perlu dipaksa jadi sawah. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

Johannes Kitono

Ini komendar bli Weda, pakar Eco Enziem Ubud, Bali. Bener sekali pertanian di Bali sekarang menjadi sorotan terutama peralihan fungsi lahan , tapi kebijakan tetap merugikan petani seperti hal nya program Pemda Bali untuk meng Organic kan Bali menurut seyakejadian ini sama dengan revolusi hijau yg mana petani di wajibkan untuk menggunakan pupuk kimia sintetis , cuman beda nya sekarang petani di suruh beli pupuk Organic , jadi petani tetap di rugikan yang di untungkan tetap penguasa

pak tani

-Mr. Hartono, BBCA dan Como-

Penasaran dengan lanjutan kisah Pak Bos. Tulisan yang lalu menceritakan tidak jadi melayat Mr. Bambang Hartono, karena dari cirata langsung tarik menuju Surabaya. Lalu, apakah melayat di Rembang?

Entahlah. Yang jelas harga saham BBCA mencerminkan jelas kesedihan ditinggal punggawa nya. BBCA sekarang 'hanya' dihargai +/- 6.500. Turun hampir 40% dibanding 2 tahun lalu yang berkilau di atas 10.000.

Kalau ada yang bisa menghibur Mr.Hartono, tentu klub bola bentukannya yang sekarang sangat terkenal. Como 1907, Klub kecil di Italia yang diakuisisi Djarum Group. Saat dibeli, Como berada di kasta terendah liga Italia Serie D. Posisi sekarang, waini, menjadi kandidat wakil klub Italia untuk berlaga di liga Champion. Big 4 serie A! Dan itu dilakukan hanya dalam 5 tahun! Tiap tahun naik kasta.

Como bisa menjadi kisah legendaris bak film Hollywood. Namun rakyat Italia sekarang justru bersedih. Bukan karena kepergian Mr.Hartono, tapi karena tidak lolos piala dunia. Ketiga kalinya.

Juve Zhang

Khusus Jabar jangan disebut Rusun harus keren Apartemen..kata KDM.....cicilan "apartemen" satu kamar sebulan 1,3 juta tenor 30 tahun.....alamak lama banget keburu di kubur kalau 30 tahun....lagian apa akan kerja disana trus selama 30 tahun.....wkwkw....ini mungkin apartemen kelas bawah yg pernah saya lihat di jakarta sangat jelek kualitas nyaAmsiong lah ....... sungguh menangis rakyat kelas jelantah....kamar satu cicilan 30 tahun....gimana anak anak akan lihat ortunya lagi indehoy....aduh sangat gakmanusiawi...lihat rumah bantuan suhu Xi Jin Ping buat rakyat jelantah oh gede rumah tapak....kamar ada 2 atau 3 ....jelas bayarnya 70 % negara 30% rakyat....masuk di hitungan Dompet kelas jelantah....ini "apartemen" satu kamar cicilan 30 tahun sebulan 1,3 juta sangat tidak manusiawi..... saya pernah lihat apartemen dua ratus jutaan di jakarta dulu jelek banget kualitas nya.... kualitas Amsiong.... akhirnya terbengkalai tak ada penghuninya....jelas ngawurnya…

Wilwa

@Juve. Saya tak terlalu peduli dengan 4 nada (datar, naik, turun naik, turun) bahkan sebenarnya 5 nada kalau ditambah nada netral. Yang penting saya bisa baca tulis 读写Mandarin. :)

Wilwa

Out of topic. Viva La Vida. Live Life. Terjemahan Englishnya. Sebuah lagu lawas Coldplay (Christopher Martin cs) tahun 2008 yang enak didengar hingga kini bagi saya pribadi. Saya suka melodinya terlebih liriknya. Seperti meramal munculnya Trump. Lebih kurangnya. Seorang presiden dari negara super power. Dengan power yang bisa bikin punah homo sapiens. Simak beberapa penggal liriknya.

I used to rule the world

Seas would rise when I gave the word

I used to roll the dice

Feel the fear in my enemy’s eyes

Dan mungkin ini akhir tragis dari Trump di penggalan lirik berikutnya.

Revolutionaries wait

For my head on silver plate!

Kategori :