JAKARTA, DISWAY.ID - Dalam beberapa pekan setelah Lebaran 2026, lonjakan harga plastik mulai membebani pelaku usaha, seiring tekanan harga yang meluas di berbagai sektor.
Kenaikan harga plastik ini tak berdiri sendiri. Gejolak global akibat konflik Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat memicu tekanan ekonomi domestik yang memberatkan biaya produksi pelaku usaha.
Dengan naiknya bahan pangan dan bahan baku di pasaran, tidak sedikit pula pelaku usaha yang harus merogoh kocek lebih besar dari biasanya untuk mengakomodasi kenaikan ini.
Paling terpukul adalah pelaku usaha kuliner.
BACA JUGA:Harga Plastik Naik, Pramono Minta Pedagang di Jakarta Pakai Daun Pisang untuk Bungkus
Mereka harus putar otak mengambil langkah untuk menjaga harga jual agar tetap terjangkau dengan melakukan penyusutan ukuran atau volume makanan atau minuman yang dijual.
Taktik bisnis ini sendiri juga dikenal sebagai shrinkflation, atau silent inflation.
Dengan mengurangi jumlah kuantitas yang diperlukan, pedagang dapat menekan biaya pengeluaran dengan tetap mempertahankan harga produk.
Rasa Aman Ekonomi Belum Pulih
Kendati inflasi sendiri bukanlah hal yang asing dalam dunia perekonomian Indonesia, pengamat menilai bahwa tingkat tren inflasi yang mendorong perilaku ini sendiri juga ditopang oleh semakin ditopang oleh daya tahan yang menipis, kompromi belanja, dan pembiayaan jangka pendek yang makin riskan.
Dalam hal ini, Ekonom sekaligus Pakar Kebijakan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menuturkan bahwa meskipun tingkat konsumsi masih berada dalam level yang optimis dan belanja tetap terjadi, tetapi rasa aman ekonomi tidak ikut pulih.
Pasalnya saat ini, Indonesia sendiri juga tengah menghadapi tekanan yang datang dari dua arah sekaligus, yaitu dari eksternal dan internal.
"Dari luar negeri, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan harga energi, komoditas, biaya logistik, dan volatilitas pasar keuangan global," jelas Achmad ketika dihubungi oleh Disway.
BACA JUGA:Harga Plastik Naik Akibat Konflik Global, Purbaya: Belum Ada Permintaan Relaksasi Bea Masuk