Saat Harga Plastik Ngegas, Donat Mengecil dan Katering Beralih ke Daun Pisang

Senin 13-04-2026,08:25 WIB
Reporter : Tim Redaksi Disway
Editor : Marieska Harya Virdhani

"Kalau isi tetap sama tapi kualitas bahan diturunkan, justru risikonya lebih besar karena pelanggan bisa kecewa. Lebih baik ukurannya sedikit dikurangi tapi kualitas tetap terjaga," kata Tino.

BACA JUGA:Harga Plastik Meroket, Pedagang Ungkap Bisa Naik hingga 100 Persen

Ia juga memastikan bahwa perubahan ukuran tidak memengaruhi proses produksi secara signifikan. Hal itu karena usaha yang dijalankannya masih menggunakan metode manual tanpa mesin pengemasan otomatis.

Di tengah perubahan ukuran produk, Tino menyadari pentingnya komunikasi yang baik dengan pelanggan. Ia selalu meminta timnya untuk memberikan penjelasan jika ada konsumen yang mempertanyakan kenaikan harga atau perubahan ukuran.

"Saya selalu tekankan ke tim di lapangan untuk mengedukasi konsumen tentang kondisi sekarang. Kalau ada yang bertanya kenapa harga naik, kami jelaskan bahwa hampir semua bahan baku memang naik," ungkap dia.

Langkah tersebut dilakukan agar konsumen memahami situasi yang dihadapi pelaku usaha kecil saat ini.

BACA JUGA:Dampak Harga Plastik Mahal Akibat Konflik Iran vs AS-Israel, Apa Langkah Pemerintah?

Meski strategi pengurangan gramasi dapat membantu menjaga kualitas dan menekan biaya produksi, Tino mengakui tantangan terbesar justru terletak pada daya beli masyarakat.

Menurutnya, kenaikan harga produk di tengah kondisi ekonomi yang melemah membuat penjualan menjadi lebih sulit.

"Orang sekarang lebih fokus pada kebutuhan yang menjadi prioritas," pungkas Tino.

Karena itu, pelaku usaha kecil seperti dirinya harus terus mencari cara agar produk tetap terjangkau tanpa mengorbankan kualitas.

“Tantangan terbesar di penjualan. Harga naik, tapi daya beli turun,” pungkas Tino.

BACA JUGA:Dampak Harga Plastik Mahal Akibat Konflik Iran vs AS-Israel, Apa Langkah Pemerintah?

Jika tekanan global dan domestik terus berlanjut, fenomena ini diperkirakan akan semakin meluas.

Achmad menilai, kondisi ini menunjukkan perubahan pola konsumsi masyarakat.

“Bila konflik geopolitik terus memanaskan harga global, maka tren kelas menengah akan bergeser menjadi lebih defensif dan adaptif,” tegasnya.

Kategori :